
“Sial! Susah sekali perempuan itu dihubungi.” Gumam Tuan Njun Liong yang gagal menghubungi Siu Lie karena yang terdengar nada sibuk terus. Tuan Njun Liong lalu mengusap usap layar hand phone nya untuk mengirim pesan chat pada Siu Lie agar mengirim lokasi hotel dia menginap.
Tuan Njun Liong lalu mengusap usap lagi layar hand phone nya untuk mencari informasi perkembangan berita di komunitas pencari harta karun.
“Sial, berita kapal anak buah yang tenggelam sudah ramai.” Gumam Tuan Njun Liong
“Bagaimana kabar para penumpang kapal Tuan?” tanya Richie dan Tuan Njun Liong tidak menjawab dia masih sibuk dengan layar hand phone nya.
“Hmmm terpaksa aku harus menerima tawaran kerja sama.” Ucap Tuan Njun Liong sambil mendengus dengan kesal.
“Tuan bagaimana kalau kita pakai strategi. Kita mau bekerja sama lalu setelah pulau harta karun itu bisa kita kuasai dari pemiliknya. Kita habisi juga perempuan itu dan anak buahnya.” Ucap Richie memberi saran masukan pendapat pada Tuan Njun Liong.
“Hmmm okey .. okey.. Aku pun juga berpikir begitu.” Ucap Tuan Njun Liong sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Tuan Njun Liong pun melanjutkan mengusap usap layar hand phone nya untuk memesan tiket pesawat ke Singapura meskipun Nyonya Siu Lie belum mengirim lokasi hotel tempat dia menginap.
Dan beberapa saat terdengar bunyi notifikasi masuk ke dalam hand phone Tuan Njun Liong, pertanda ada chat masuk. Saat dilihat chat dari Nyonya Siu Lie yang mengirimkan lokasi hotel tempat Nyonya Siu Lie menginap. Tuan Njun Liong tersenyum lalu dia dia mengusap usap layar hand phone nya lagi untuk memesan kamar di hotel yang sama dengan Nyonya Siu Lie. Dan mobil terus melaju menuju ke bandara Internasional.
Sementara itu di pulau Alexandria. Tepatnya di rumah Vadeo dan Alexandria yang tenang, asri dan damai. Para pelayan sudah menyiapkan makan pagi akan tetapi para Tuan, Nyonya dan Nona Nona kecil masih belum juga keluar dari kamar mereka. Mereka semua masih tidur dengan nyenyak akibat mereka berjaga hingga dini hari bahkan menjelang pagi.
Alexandria membuka kedua matanya karena merasakan perutnya lapar ditambah ada benda berat menekan pada perutnya. Alexandria pelan pelan mengambil benda berat yang menekan pada perutnya itu yang tidak lain adalah tangan kekar Vadeo.
“Ehhhhmmm Ma jangan pergi dulu..” gumam Vadeo yang masih tertutup rapat kelopak matanya dan mempererat lagi pelukannya pada tubuh Alexandria.
__ADS_1
“Pa, anakmu butuh makan.” Ucap Alexandria sambil melepaskan diri dari pelukan Vadeo. Mendengar kata anak, Vadeo pun lalu membukakan matanya meskipun masih tampak susah karena masih mengantuk.
“Ma, aku lupa kalau di sini sudah ada juniorku lagi.” Ucap Vadeo lalu mengusap usap perut Alexandria yang sudah duduk di tempat tidur itu dengan lembut.
“Aku juga mau lihat Aca dan Aya.” Gumam Alexandria lalu dia mengusap usap punggung telapak tangan sang suami yang masih mengusap usap perutnya. Dan tiba tiba...
KRUCUK KRUCUK
Suara perut Alexandria yang minta diisi. Vadeo yang mendengar tertawa kecil lalu dia pun juga ikut bangkit dari tidurnya.
“Kasihan istriku kelaparan.” Ucap Vadeo sambil mengecup puncak kepala Alexandria lalu mengacak acak dengan lembut puncak kepala Alexandria itu sambil tersenyum. Mereka berdua pun lalu pergi ke kamar mandi dan setelahnya berjalan menuju ke pintu kaca penghubung kamar Valexa dan Deondria.
Saat Vadeo akan membuka pintu kaca penghubung itu tiba tiba hand phone nya berdering, Vadeo menoleh ke arah nakas tempat hand phone nya berada.
Vadeo segera mengambil hand phone nya dan tampak di layar hand phone nya tertera nama kontak Richardo sedang melakukan panggilan suara. Vadeo segera menggeser tombol hijau.
“Ada apa Do, Aca dan Aya masih tidur kemungkinan tidak akan pergi ke mana mana hari ini.” Ucap Vadeo setelah menggeser tombol hijau, dia mengira jika Richardo menanyakan jadwal pengawalan pada Valexa dan Deondria.
“Baik Tuan. Ini saya sudah sangat mengantuk siapa yang gantian jaga, alarm masih berwarna kuning, Tuan. Bang Bule Vincent saya hubungi hand phone tidak aktif. Dan ini ada laporan dari salah satu penjaga pintu masuk pulau menemukan ada orang terdampar. Dan sudah ditahan.” Ucap Richardo dengan nada serius dan sesekali menguap karena sudah sangat mengantuk.
“Hmmm ternyata Bang Bule Vincent ganti menyuruh kamu. Kamu suruh penjaga menahan orang itu jangan sampai lepas. Sebentar aku datang.” Ucap Vadeo lalu menutup sambungan teleponnya. Vadeo lalu menaruh lagi hand phone pada nakas dan dia melangkah menuju ke kamar kedua anaknya. Sesaat dia lihat kedua anaknya sudah tanpa dan keduanya menempel di tubuh Alexandria yang duduk di tepi tempat tidur salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Papa itu gimana sih, katanya tadi melihat mereka, baju basah keringat begini tidak diganti.” Ucap Alexandria saat Vadeo sudah berada di dekatnya. Dan Vadeo hanya diam saja sebab dia tidak berpikir untuk mengganti baju kedua anaknya yang basah oleh keringat.
“Sayang dimandiin Mama dan Papa ya.. terus kita makan. Adik kalian sudah lapar.” Ucap Alexandria sambil mengusap usap tubuh kedua anaknya yang terasa lengket.
“Ma... ada peyempuan dahat yagi.. (Ma ... ada perempuan jahat lagi...).” Ucap mereka berdua yang masih menempel pada tubuh Sang Mama.
“Papa tidak akan tergoda Sayang.. ayo cepat mandi.” Ucap Vadeo yang kepedean, jika akan ada perempuan yang akan menggodanya lagi. Tampak Valexa dan Deondria yang menempel pada tubuh Sang Mama menoleh ke arah Vadeo menatap tajam sambil mencibirkan bibirnya.
“Ini tuh perempuan na cudah tua mau te butit acam.. ( ini tuh perempuan nya sudah tua mau ke bukit asam)” ucap Valexa kemudian.
“Pate caya yicik.. hayus telja teyas tita Pa.. ( Pakai cara licik, harus kerja keras kita Pa..).” ucap Deondria dengan nada serius. Vadeo tampak kaget dan khawatir, dia juga penasaran siapa perempuan jahat yang dibilang oleh kedua anaknya, termasuk akan memakai cara apa kenapa Valexa dan Deondria mengatakan dia memakai cara licik.
“Apa dia juga akan menggunakan racun seperti jaman dulu?” tanya Vadeo pada Valexa dan Deondria
“Kita harus antisipasi sebelumnya.” Saut Alexandria
“Kita minta bantuan untuk pengiriman hujan buatan atau paling tidak kita buat green house untuk tanaman pangan kita dan karyawan Pa. Pastikan gudang logistik penuh teris. Pipa air jangan sampai ada yang bocor agar tidak tercemar.” Ucap Alexandria lagi sambil menatap Vadeo sang suami tercinta sambil tangannya mengusap usap rambut kepala kedua anak nya yang terasa lepek akibat tadi malam hingga dini hari keluar banyak keringat.
Dan tiba tiba....
KRUCUK KRUCUK KRUCUK
__ADS_1
Suara perut Valexa, Deondria dan Alexandria berbunyi minta diisi.
....