
“Nyonya silahkan masuk. Saya tinggal ya.” Ucap pelayan itu dengan tangan sedikit mendorong tubuh Wika agar masuk ke dalam kamar lalu pelayan itu menutup pintu kamar pengantin dengan rapat.
“Kenapa kamu tidak gugurkan saja anak itu dulu?” tanya Justin tanpa memandang wajah Wika yang takut takut.
“Maaf Tuan, saya takut sakit dan menambah dosa..” jawab Wika yang masih berdiri dan kini menundukkan kepala nya.
“Halah alasan aku tahu kamu sengaja agar kamu bisa nebeng hidup enak pada keluarga Jonathan.” Ucap Justin yang kini menatap sosok Wika. Sosok yang sudah sangat jauh berbeda dengan dulu saat masih menjadi karyawan Jonathan Co, dulu Wika benar benar sangat berani.
“Maaf Tuan, saat itu Nyonya Alexa juga melarang saya menggugurkan bahkan Nyonya Alexa selalu memberi saya susu dan vitamin untuk ibu hamil.” Ucap Wika yang masih menundukkan kepala nya selain takut akan kemarahan Justin dia juga malu melihat laki laki di depan nya hanya memakai celana boxer.
“Jika Tuan tidak menghendaki pernikahan ini saya siap dicerai. Yang penting buat saya Boy sudah tahu siapa Papa nya.” Ucap Wika memberanikan diri dan dia pun menatap wajah Justin.
“Hah!.” Teriak Justin lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi.
“Mana mungkin aku bisa menceraikan dia, bisa babak belur aku oleh Vadeo dan Bule itu.” Gumam Justin dalam hati dan terus membuka pintu kamar mandi. Justin pun menikmati mandi berendam di dalam bath up mewah yang tidak dia dapatkan selama dia berada di dalam penjara.
Sedangkan Wika duduk di kursi rias sambil menghadap ke cermin. Dia membongkar rambut dan riasan wajahnya.
“Aku harus kuat, demi Boy anakku.” Gumam Wika dalam hati. Setelah membersihkan riasan dan membongkar sanggul rambutnya. Wika berjalan menuju ke lemari pakaian. Sebab Alexandria bilang katanya semua keperluan pribadi sudah disediakan di dalam kamar. Wika akan melepas baju pengantinnya dan akan berganti dengan baju santai.
__ADS_1
“Hmmm kalau ada daster nyaman sekali. Sejak pagi hingga sore terlilit kain panjang dan kebaya begini rasanya sumpek.” Gumam Suka dalam hati. Wika pun segera membuka pintu lemari, saat pintu lemari terbuka mata Wika terbelalak sebab yang ada di dalam lemari itu hanya ada lingerie sexy dengan warna dan model yang beraneka.
“Hah kok baju beginian semua.” Gumam Wika sambil menyibak nyibak lingerie lingerie yang tergantung pada hanger.
Wika akhirnya tidak jadi mengambil baju ganti. Dia kembali berjalan menuju ke kursi rias dan kembali duduk di sana. Pandangan matanya mengitari ruangan kamar pengantin itu.
“Sangat indah kamar ini.” Gumam Wika yang melihat desain interior kamar pengantin. Tempat tidur luar dengan sprai putih kain halus dan lembut menjuntai sampai lantai. Bunga bunga segar, indah dan harum menghiasi sisi atas tempat tidur dan juga berada di sana sini.
“Untuk biaya beli bunga saja itu pasti berjuta juta. Bisa untuk biaya makan aku dan Boy berbulan bulan.” Gumam Wika masih saja bengong dan pandangan mata mengitari isi ruangan.
Sesaat kemudian pandangan matanya menatap tubuh Justin yang ke luar dari kamar mandi dan hanya terlilit handuk tubuh bagian bawahnya. Wika pun cepat cepat mengalihkan pandangan matanya. Pipi Wika pun tiba tiba merona merah melihat tubuh kekar Justin yang sedikit basah karena habis mandi.
“Hmmm apa dia berharap aku yang membukakan baju pengantinnya lalu melakukan adegan romantis.” Gumam Justin dalam hati sambil melangkah menuju ke lemari.
“Hmmm jangan harap aku akan menyentuh dirinya. Perempuan murahan.” Gumam Justin lagi sambil terus melangkah menuju ke lemari. Dan di saat Justin sudah berada di depan lemari Wika pun cepat cepat bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Sedangkan Justin segera membuka pintu lemari. Saat pintu lemari sudah dibuka matanya melotot saat yang tergantung hanya baju baju lingerie sexy berwarna warni.
“Kenapa tidak ada tshirt dan celana yang bener.” Gumam Justin saat di rak lemari yang ada hanya koleksi G string saja. Akan tetapi tidak ada G string model gajah karena itu khusus buat Vadeo saja. (He.. he...).
__ADS_1
“Aha aku punya pakaian di dalam tas ku tadi. Mungkin pak sopir sudah menaruh di dalam kamar ini.” Gumam Justin lalu dia menutup lemari dan berjalan menuju ke dekat pintu kamar untuk melihat kalau kalau tas yang dia bawa dari lapas di taruh di dekat pintu.
Akan tetapi saat sampai di dekat pintu dia tidak menemukan barang yang dia cari. Justin pun mengitarkan pandangan matanya pada seluruh isi kamar, di sofa panjang yang ada di dalam kamar itu, di meja depan sofa, di meja rias, di tempat tidur, di nakas. Akan tetapi tetap tidak melihat barang yang dia cari.
Justin mencoba membuka pintu kamar yang tadi tidak dia kunci. Dia akan melihat kalau kalau ada pelayan lewat akan dia tanya. Akan tetapi...
“Sial, kenapa terkunci dari luar.” Ucap Justin dengan nada dan ekspresi wajah kaget.
Justin pun lantas menuju ke telepon yang ada di dalam kamar itu, dia akan menghubungi pelayan. Justin masih ingat jika di kamar kamar Mansion Keluarga itu disediakan telepon yang bisa untuk menghubungi para pelayan untuk membutuhkan sesuatu yang diinginkan.
Saat sudah sampai di dekat nakas Justin pun mengangkat ganggang telepon.
“Kok mati.” Gumam Justin saat tidak mendengar nada apapun di pesawat telepon itu.
“Hmmm aku tidak punya hand phone lagi.” Gumam Justin dengan nada kecewa.
“Mungkin perempuan itu bawa hand phone, aku akan meminjamnya.” Gumam Justin lalu dia berjalan lagi menuju ke lemari dan dengan terpaksa dia mengambil salah satu G string yang ada dan memakainya.
Justin pun lantas duduk di sofa panjang dengan hanya mengenakan G string sambil menunggu Wika selesai mandi.
__ADS_1