Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 198


__ADS_3

Vadeo terus berjalan cepat menuju ke ruang laundry. Saat sampai di depan pintu laundry Vadeo membuka daun pintu itu dengan cepat.


“Tuan.” Ucap pelayan bagian laundry dengan nada dan ekspresi kaget saat melihat Vadeo masuk ke dalam ruang laundry dengan ekspresi wajah tampak panik.


“Mana celana panjangku yang tadi ada di keranjang yang kamu ambil?” Tanya Vadeo sambil matanya mencari cari keranjang baju kotor.


“Sudah masuk mesin cuci Tuan.” Jawab Sang pelayan yang tidak tahu jika Vadeo mencari plastik yang ada rambut Justin yang dia taruh di saku celana panjangnya.


“Matikan mesin, dan ambil celana panjangku!” Perintah Vadeo. Sang pelayan pun segera melaksanakan perintah Vadeo. Lalu tangannya terulur ke tabung mesin cuci untuk mengambil celana panjang Vadeo.


“Yang mana Tuan?” tanya sang pelayan karena ada beberapa helai celana panjang Vadeo.


“Itu itu...” ucap Vadeo sambil menunjuk salah satu celana panjang. Sang pelayan yang tampak bingung itu menyerahkan celana panjang Vadeo yang basah dan beraroma wangi sabun pada Vadeo.


Vadeo pun mengecek saku celana panjang itu.


“Kok tidak ada?” ucap Vadeo dengan nada tinggi.


“Tuan mencari apa?” tanya sang pelayan yang tiba tiba teringat akan plastik yang ada di saku.


“Plastik di dalam saku celana ini. Apa kamu lihat?” jawab Vadeo balik bertanya.


“Iya Tuan, sudah saya buang di tempat sampah.” Jawab Sang pelayan

__ADS_1


“Hah? Kenapa kamu buang ambil sekarang!” teriak Vadeo sambil menatap ke arah pojok ruang laundry itu di mana tempat sampah berada.


“Hmmm... plastik dibuang kok tidak boleh.” Gumam Sang pelayan sambil berjalan menuju ke tempat sampah dan selanjutnya dia membuka tempat sampah dan mencari cari plastik yang tadi dibuangnya ke tempat itu.


“Yang mana ya.” Gumam Sang pelayan sebab di dalam bak tempat sampah itu sudah banyak sampah kering lainnya. Untung di Mansion Jonathan sudah menerapkan sistem memilah sampah. Jadi tidak tercampur sampah basah.


“Cepat, awas kalau tidak ketemu. Kamu aku kirim ke lapas!” teriak Vadeo sambil berkacak pinggang sebab dia sudah tidak sabar.


“Tuan, saya membuang sampah plastik di celana yang akan saya cuci kenapa saya akan dimasukan penjara.” Ucap Sang pelayan ketakutan karena ancaman dari Vadeo yang akan mengirim dirinya ke lapas.


“Sudah cepat cari! Sampai ketemu. Kalau tidak ketemu aku tidak main main, aku kirim kamu ke lapas!” ucap Vadeo lagi lalu dia melangkah mendekati tempat sampah itu. Sebab dia tidak tega pada sang pelayan sudah gemetaran mencari cari plastik yang berisi rambut setan alas.


“Jangan takut aku kirim kamu ke lapas untuk menjenguk setan alas.” Ucap Vadeo sambil menepuk nepuk pundak Sang pelayan itu yang bajunya sudah basah oleh keringat dingin, padahal di ruang ber AC.


“Ahhh ini Tuan, plastik nya nempel di bak sampah.” Ucap Sang pelayan setelah menemukan plastik yang dicari carinya. Dengan senyum lebarnya dia menyerahkan plastik itu pada Tuan Muda Vadeo.


“Kok seperti ada rambut di dalamnya? apa ini jimat Tuan Vadeo ya...” gumam Sang pelayan itu dalam hati. Dan setelahnya dia pun menyerahkan plastik yang berisi beberapa helai rambut Justin itu pada Vadeo dengan takut takut.


Setelah menerima plastik itu, Vadeo pun segera melangkah ke luar dari ruang laundry. Sedangkan sang pelayan masih bertanya tanya dalam hati.


Vadeo berjalan menuju ke dapur untuk menemui istrinya akan tetapi saat sudah sampai di dapur dia sudah tidak lagi melihat istri dan anak anaknya. Vadeo pun lalu berjalan meninggalkan dapur dan saat melangkah menuju ke ruang lainnya terdengar sayup sayup suara Valexa dan Deondria.


“Hmmm mereka di ruang makan.” Gumam Vadeo lalu dia pun segera melangkah ke ruang makan.

__ADS_1


Saat sampai di ruang makan. Tampak Alexandria dibantu oleh seorang pelayan menata box box makanan dan tidak ada hidangan makanan di meja makan. Yang ada hanya box box makanan special koleksi Nyonya Jonathan. Semua makanan sudah dimasukkan ke dalam box makanan itu.


“Pa kita sekarang ke rumah Ibu Rina. Kita ambil sample rambut Boy, dan bilang pada Wika kalau Boy dipindah sekolah nya secepat mungkin.” Ucap Alexandria saat semua box box makanan sudah siap.


“Kita makan malam ke sana. Sudah lama juga kita tidak berkunjung ke Ibu Rina.” Ucap Alexandria dan Si Kembar pun langsung berlari kegirangan karena akan bertemu Boy.


Mereka pun segera berjalan keluar dari pintu utama Mansion dan menuju ke mobil yang sudah siap dengan sopir dan Richardo.


“Pa, jangan lupa rambut Justin.” Ucap Alexandria mengingatkan Vadeo sebelum masuk ke dalam mobil.


“Sudah.” Ucap Vadeo lalu masuk ke dalam mobil. Dan mobil pun berjalan pelan pelan meninggalkan halaman Mansion Jonathan dan menambah kecepatannya setelah masuk jalan raya. Mobil terus melaju menuju ke rumah Ibu Rina.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah ibu Rina. Saat mobil berhenti tampak seorang laki laki kira kira berumur lima tahunan berlari lari dari sebuah bangunan yang terpisah dari rumah induk. Bangunan kecil itu dulu yang ditempati Alexandria saat menyamar menjadi Sandra. Dan kini di tempati oleh Wika dan Boy anaknya.


Mobil pun berhenti tidak jauh dari pintu rumah induk. Boy anak laki laki itu kini sudah berada di dekat mobil akan tetapi dia hanya berdiri dengan jarak kira kira tiga meter. Dia tidak berani mendekat. Dia hanya menatap mobil itu, tidak berani mengucapkan apa apa dan juga tidak tersenyum bibirnya. Akan tetapi matanya menatap penuh harap.


Valexa dan Deondria pun segera membuka pintu dan segera keluar dari mobil.


“Boy... ayo tita te Nenek Lina.. (Boy... ayo kita ke Nenek Rina).” teriak Valexa yang terus berlari menuju ke pintu rumah induk Ibu Rina. Boy masih berdiri dan menatap pada mobil.


“Ayo Boy.. nanti ada tue tue tan coookeelat buwatmu... (Ayo Boy... nanti ada kue kue dan cokelat buat mu....).” Teriak Deondria yang berlari di belakang Valexa. Dan Boy pun berjalan mengikuti Si Kembar. Berbeda dengan Si Kembar yang selalu ceria, mudah akrab dengan orang dan percaya diri tinggi, Boy merupakan anak yang lebih banyak diam, dan kurang percaya diri. Akan tetapi dia senang jika bertemu dengan Si Kembar, sebab dua anak itu tidak pernah membully dirinya baik karena tidak punya Papa atau karena miskin tidak punya rumah dan mobil.


“Hei Boy... Boy...” teriak Vadeo yang ingat harus mengambil sample rambut Boy untuk uji DNA. Boy yang sudah berdiri di depan pintu itu pun menoleh ke arah Vadeo dengan takut takut. Sementara Valexa dan Deondria sedang menendang nendang pintu, mereka berdua sudah lupa pada pesan dua pengasuhnya agar memberi contoh yang baik pada adik adiknya.

__ADS_1


Vadeo pun mempercepat langkahnya menuju ke tempat Boy berdiri. Dan setelah sampai di dekat Boy, Vadeo segera mencabut beberapa helai rambut Boy. Boy yang sudah ketakutan saat dipanggil oleh Tuan Muda Vadeo ditambah dengan tiba tiba dicabut beberapa rambutnya itu langsung memerah matanya dan..


“Hiks.... hiks.... hiks....” suara tangis Boy dengan lirih.


__ADS_2