Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 106. Punden Berundak


__ADS_3

“Untung ini bisa terhubung dengan Tuan..” ucap Pak Sopir itu lagi yang kini nada suaranya tampak lega, mungkin bibir nya tersenyum. Akan tetapi Vadeo tidak bisa melihat sebab dia melakukan panggilan suara.


“Kamu tunggu saja di mobil jangan ke mana mana katakan pada Nyonya Alexa kalau aku dan anak anak baik baik saja. Jaringan sinyal susah.” Ucap Vadeo dengan nada serius.


“Tuan tapi saya bingung jalan untuk turun ke tempat mobil tadi.” Ucap Pak Sopir lagi yang kini nada suaranya kembali tampak panik.


“Hah? Kamu sekarang di mana? Di pohon asam tempat singgasana Aca dan Aya?” tanya Vadeo lagi


“Bukan juga Tuan, tadi saya sudah sampai di pohon asam tapi tidak ada Tuan, maka saya terus berjalan mencari.” Jawab Pak Sopir dengan nada suara penuh kekhawatiran.


“Haduh.” Gumam Vadeo tampak bingung.


“Cuyuh di citu aja Pa, ga ucah pedi pedi yadi... (suruh di situ saja Pa, ga usah pergi pergi lagi..).” ucap Valexa yang mendengar percakapan Sang Papa dengan pak sopir lewat hand phone.


“Ato te pohong acam.. tayo diya pedi pedi yadi ndak ada dayingan yepot nanti.. (Atau ke pohon asam... kalau dia pergi pergi lagi tidak ada jaringan repot nanti).” Tambah Deondria. Vadeo pun lalu mengatakan apa yang diucapkan oleh Valexa dan Deondria itu pada pak sopir. Dan setelah Pak Sopir mengiyakan apa yang dikatakan oleh Vadeo sambungan telepon terputus.

__ADS_1


Tampak ular besar itu masih menunggui Vadeo yang sedang menerima telepon dari Pak Sopir. Dan kini ular besar itu melanjutkan menggeser tubuhnya berjalan ke suatu tempat. Valexa dan Deondria tampak minta turun dari gendongan Richardo. Dua bocah itu berjalan sendiri dengan cepat seperti sudah mengenal lokasi yang baru saja didatangi itu. Bahkan kini kedua bocah itu berlari dan berada di depan sang ular besar. Dua bocah itu terus berlari dan semakin kencang.


“Aca .... Aya....” teriak Vadeo sambil ikut berlari mengejar Valexa dan Deondria. Richardo pun juga ikut berlari karena pundaknya ditepuk dengan keras oleh Vadeo sebagai kode agar ikut mengejar Valexa dan Deondria. Sedangkan Bang Bule Vincent tampak berjalan dengan langkah normal sambil melihat lihat lokasi yang baru dia datangi itu dengan penuh kekagumannya karena ada bekas bekas bangunan bangunan kuno.


Dan beberapa menit kemudian Valexa dan Deondria sampai pada suatu bangunan semacam punden berundak. Valexa dan Deondria pun lalu duduk bersimpuh di bawah punden berundak itu. Dan di dekat punden berundak itu ada dua batu hitam berukir yang terpancang di tanah.


Vadeo dan Richardo pun turut bersimpuh di belakang Valexa dan Deondria. Dan sesaat kemudian terdengar suara tangisan sesenggukan Valexa dan Deondria. Ular besar itu pun juga melingkar di dekat punden berundak tidak jauh dari dua batu hitam berukir yang terpancang di tanah.


“Sayang... “ ucap Vadeo dengan nada sedih kedua tangannya memegang dengan lembut kepala Valexa dan Deondria, dengan pelan pelan jari jari Vadeo menghapus air mata kedua anaknya yang terus saja meleleh. Vadeo ingin bertanya pada kedua anaknya itu akan tetapi dia belum sampai hati untuk menanyakannya. Dan dia biarkan lebih dulu kedua anaknya itu menangis agar hatinya mereka lega.


Sesaat kemudian Bang Bule Vincent pun sudah menyusul mereka. Melihat suasana sedih Bang Bule Vincent pun turut bersimpuh di dekat Vadeo dan tampak ekspresi bingung Bang Bule Vincent.


“Hmmm ini tempat apa ya kenapa mereka semua menangis. Apa di sini makam kedua puteri kerajaan Asasta yang dibunuh itu.” Gumam Bang Bule Vincent dalam hati. Bang Bule Vincent pernah melihat gambar punden berundak seperti di depan nya itu di dalam buku pelajaran sejarah Nusantara di jaman dia sekolah dulu. Seingatnya bangunan punden berundak untuk makam leluhur.


Saat Bang Bule Vincent masih menduga duga. Hand phone di dalam saku celana cargonya berdering. Karena melihat suasana sedih dan di dekat punden berundak. Bang Bule Vincent bangkit berdiri dan berjalan menjauh dari tempat itu. Bang Bule Vincent takut dipatuk oleh ular besar itu.

__ADS_1


Setelah agak menjauh dari tempat itu dan mendapatkan spot jaringan sinyal yang bagus. Bang Bule Vincent mengambil hand phone dari saku celana cargo nya. Saat dilihat nama kontak Alexandria menghubungi nya. Bang Bule Vincent pun segera menggeser tombol hijau.


“Bang, susah banget sih dihubungi kalian itu. Saat bisa terhubung hand phone Kak Deo malah sibuk, sekarang off malah hand phone Kak Deo . Pak Sopir aku suruh mencari katanya tidak ketemu. Kalian berada di mana? Cepat pulang.” Suara Alexandria dengan nada khawatir dan panik.


“Mana Aca dan Aya, aku ingin bicara dengan mereka berdua. Perasaanku kok tidak enak.” Ucap Alexandria lagi.


“Apa Pak Sopir belum menghubungi kamu lagi Al? Kami di sini baik baik saja. Kamu dan Ixora tenang saja menunggu di rumah. Aca dan Aya sedang ada acara penting dengan ular besar itu ditemani Vadeo mereka berdua baik baik saja. “ ucap Bang Bule Vincent yang tidak mengatakan jika Valexa dan Deondria sedang menangis sesenggukan. Bang Bule Vincent pun bersyukur karena dua berjalan menjauh dari punden berundak itu sehingga Alexandria tidak mendengar suara tangis Valexa dan Deondria. Mereka berdua pun tidak menangis keras keras hanya sebuah isakan isakan dan sesenggukan.


“Belum, pak sopir belum menghubungi aku lagi setelah mengatakan dia tidak menemukan kalian dan katanya dia tersesat. Sekarang hand phone nya malah off sama seperti hand phone Kak Deo.” Ucap Alexandria.


“Mungkin jaringan hilang Al atau batere habis.. “ ucap Bang Bule Vincent


“Eh tapi kalau pak sopir hand phone off dan dia tersesat gimana nasib nya nanti.” Gumam Bang Bule Vincent yang didengar oleh Alexandria


“Haduh, kalau pak sopir hilang kalian semua juga tidak bisa pulang kalau kunci mobil dibawa Pak Sopir. Sudah aku tutup aku suruh Pak Sopir lain untuk menuju ke sana lagi.” Ucap Alexandria di balik hand phone Bang Bule Vincent. Bang Bule Vincent kini ekspresi wajahnya tampak khawatir jika pak sopir tersesat dan hand phone off.

__ADS_1


“Hmmm bisa bermalam di bukit ini gara gara mencari orang hilang nanti.” Gumam Bang Bule Vincent sambil kembali berjalan mendekati punden berundak itu lagi sebab tampak mereka semua masih duduk bersimpuh dengan suasana hening dan sedih.


...


__ADS_2