Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 59. Sketsa dan Peta dari Si Kembar


__ADS_3

Sesaat pimpinan tim misi itu mengambil hand phone dari saku pakaiannya. Dan selanjutnya tampak dia mengusap usap layar hand phone nya.


“Masuk.” Suara pimpinan tim itu dengan mendekatkan wajah pada hand phone nya. Dan pimpinan tim misi itu bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke pintu ruangan itu. Dengan segera dia membuka daun pintu itu. Tidak lama kemudian masuk dua orang laki laki dengan memakai baju seragam polisi.


“Jangan tangkap saya Pak.” Teriak Atikah dan Zulfa secara bersamaan. Akan tetapi dua orang polisi itu pun segera membawa Atikah dan Zulfa ke luar dari ruangan Ibu kepala pelayan.


Dan kini di dalam ruangan itu sudah tidak ada lagi Atikah dan Zulfa. Ibu kepala pelayan pun menyuruh pelayan bagian logistik keluar dari ruangan itu untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Terima kasih Nona Nona Cantik.” Ucap pimpinan tim misi sambil menatap wajah Valexa dan Deondria yang duduk di pangkuan Bang Bule Vincent. Bang Bule Vincent pun sangat senang dan bangga pada kedua ponakan itu berkali kali mengusap usap puncak kepala Valexa dan Deondria, sesekali menciumi puncak kepala kedua bocah itu.


“Balu catu... (Baru satu).” Ucap Valexa dengan nada malas sambil menyandarkan tubuh mungilnya pada tubuh Bang Bule Vincent.


“Masih cembiyan.. (masih sembilan).” Saut Deondria sambil mengangkat kedua tangan mungilnya dan melipat satu jari jempol nya.


“Sayang apa kalian punya informasi di mana yang sembilan itu?” tanya Bang Bule Vincent dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sebab anggota Tim yang sudah melacak orang orang yang dicurigai juga tempat tempat yang curigai tidak menemukan adanya transaksi.


“Tapi na atu mayas... ( tapi nya aku malas..).” ucap Valexa yang masih menyandarkan tubuh mungilnya pada tubuh Uncle nya itu.


“Atu duda bocen.. (aku juga bosan).” Ucap Deondria yang kini juga menyandarkan tubuh mungilnya di tubuh Bang Bule Vincent , tampak Valexa dan Deondria wajahnya saling berhadapan di dalam pelukan Bang Bule Vincent.


“Nona tolong kami...” pinta pimpinan tim misi itu sambil menatap Valexa dan Deondria yang masih menyandarkan dengan malas ditubuh Bang Bule Vincent.


“Kata nya mau kerja sama Uncle, kok sekarang malas.” Ucap Bang Bule Vincent dengan lembut sambil menepuk nepuk pelan paha kedua ponakan nya yang ada di pangkuannya itu.

__ADS_1


“Cini han pong Ante.. ( Sini hand phone Uncle ).” Ucap Valexa selanjutnya yang kini sudah menegakkan badannya.


“Dan atu minta tetas tan pencil. ( dan aku minta kertas dan pencil).” Ucap Deondria yang masih menyandarkan tubuh nya di tubuh Bang Bule Vincent.


Dan sesaat kemudian dua bocah itu sudah bangkit berdiri. Valexa lalu duduk santai di samping Bang Bule Vincent sibuk dengan hand phone milik Uncle nya. Valexa yang memiliki bakat kecerdasannya di dunia teknologi informasi dari Sang Mama segera mengusap usap layar hand phone Bang Bule. Dengan segera dia membuka aplikasi peta kota. Dengan cepat dia tekan tekan titik suatu tempat dan selanjutnya dia share di group chat tim misi. Dan tidak lama kemudian dia sudah membagikan sembilan titik lokasi ke group chat tim misi. Valexa bisa tahu kalau itu group tim misi dari photo profil dan tulisan yang sama dengan logo dan tulisan di surat kontrak kerja nya.


Sedangkan Deondria yang memiliki bakat menggambar dan melukis setelah mendapat satu lembar kertas putih dan pensil dia mencoret coret di atas kertas. Mungkin bakat menurun dari Aunty Dealova. Dan tidak lama kemudian di atas kertas putih itu sudah tercipta satu sketsa wajah seseorang.


“Ini oyang yan yayi te yual nedeyi .. ( ini orang yang lari ke luar negeri).” Ucap Deondria sambil menyerahkan kertas yang sudah ada gambar sketsa wajah ke pimpinan tim misi.


Pimpinan tim misi yang masih membuka group chat misi, tampak kaget.


“Kalian berdua sangat luar biasa.” Ucap pimpinan tim misi itu saat melihat gambar sketsa wajah seorang laki laki dari tangan mungil Deondria.


“Atu tuh Aya.. Deondiya butan Payeca..( Aku tuh Aya Deondria bukan Valexa).” Ucap Deondria dengan bibir mengerucut cemberut.


“Ooh maaf Nona Deondria.” Ucap pimpinan tim misi itu lalu menatap wajah Valexa dan Deondria untuk mencari perbedaan nya akan tetapi sia sia saja, dia tetap merasakan kesulitan untuk membedakan kedua nya.


“Atu yan tiyim, atu ndak puna han pong dadi pindam Ante Pin....( aku yang kirim, aku tidak punya hand phone jadi pinjam Uncle Vin).” Ucap Valexa yang juga cemberut bibir nya.


“Ooh iya maaf Nona Valexa.” Ucap pimpinan tim misi itu dengan nada menyesal


Bang Bule Vincent yang juga penasaran lalu mengambil kertas sketsa wajah dari Deondria itu. Bang Bule Vincent tampak mengamati gambar sketsa itu.

__ADS_1


“Belum ada di daftar kita.” Gumam Bang Bule Vincent.


“Aya tahu ke mana orang ini pergi?” tanya Bang Bule Vincent pada Deondria yang kini sudah kembali berada di dalam pangkuannya. Sedangkan Valexa masih duduk di sampingnya dengan tangan yang masih sibuk dengan hand phone milik Bang Bule Vincent.


“Te piyipina ( Ke Philipina).” Jawab Deondria pelan


“Benar?” tanya Bang Bule Vincent meminta kepastian dan Deondria menganggukkan kepala nya dengan mantap.


“Aca, Uncle pinjam hand phone sebentar.” Pinta Bang Bule Vincent pada Valexa yang kini sedang serius memainkan game yang ada di hand phone Bang Bule. Valexa pun memberikan hand phone milik Bang Bule Vincent ity, dan selanjutnya tampak Bang Bule Vincent sibuk dengan hand phone nya untuk menghubungi seseorang.


Waktu pun terus berlalu....


Sementara itu di negara Philipina. Di salah satu bandara internasional. Laki laki bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam, dengan wajah yang sangat mirip dengan gambar sketsa wajah hasil coretan tangan mungil Deondria. Laki laki itu yang tidak lain adalah Jhon, dia sudah turun dari pesawat terbang. Setelah melewati semua prosedur yang berlaku di bandara, Jhon melangkah menuju ke ruang kedatangan penumpang. Jhon tersenyum sebab perjalanannya lancar.


Sambil berjalan, salah satu tangan Jhon mengambil hand phone dari saku jas nya, sedang satu tangan lainnya menarik sebuah koper berukuran sedang. Dengan cepat Jhon mengaktifkan hand phone nya. Saat semua program sudah aktif banyak notifikasi masuk ke dalam hand phone nya. Jhon akan menghubungi orang yang akan menjemput diri nya. Saat dia akan mengusap usap layar hand phone nya tiba tiba layar berkedip kedip ada panggilan masuk.


Dengan segera Jhon menggeser tombol hijau dan mendekatkan hand phone di telinganya. Jhon mendengarkan suara di balik hand phone nya. Suara orang yang menghubungi nya.


Dan sesaat kemudian....


“Apa?” teriak Jhon dengan ekspresi wajah kaget dan tampak mata nya melotot dengan lebar hingga sangat tampak warna kontras antara putih mata dengan kulit hitam nya.


...

__ADS_1


__ADS_2