Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 95. Kode


__ADS_3

“Bro, ada kemungkinan di pulau Alexandria itu ada harta karun nya.” Suara Bang Bule Vincent dari balik hand phone Vadeo


“Hah? Ini kesimpulan mu setelah mendengar cerita isi dari manuskrip itu ya?” tanya Vadeo dengan nada kaget sambil tangannya kembali menutup pintu kaca penghubung dengan rapat agar Sang Psikolog tidak mendengarkan pembicaraan nya.


“Belum tentu Bul, siapa tahu kerajaan besar itu datang kembali dan merampok segala kekayaan raja Mahadiraja. Kan sang Raja hanya sendiri dan tidak lagi memiliki kekuatan apa pun.” Ucap Vadeo selanjutnya yang tidak begitu yakin dengan informasi harta karun di pulau Alexandria.


“Bukan begitu Bro, dari pelacakan ku, mereka yang mencari informasi tentang pulau Alexandria dan akan membeli pulau mu itu para pemburu harta karun. “ ucap Bang Bule Vincent dengan pelan pelan dan nada serius.


“Hah.. Aku senang senang takut nih Bul..” ucap Vadeo dengan jujur mengungkapkan perasaan.


Akan tetapi tiba tiba handel pintu bergerak dan ..


“Pa...” suara Alexandria sambil membuka pintu kaca penghubung kamar. Alexandria kembali berjalan mendekati Vadeo yang sejak tadi belum juga sampai di kamar anak nya.


“Pa, itu psikolog menunggu.” Ucap Alexandria selanjutnya sambil menatap Vadeo yang masih berdiri sambil memegang hand phone yang didekat kan di telinga nya.


“Iya Ma, ini bang Bule nelpon ada hal penting.” Ucap Vadeo kemudian yang sudah memutus sambungan teleponnya dengan bang Bule Vincent.


“Apa?” tanya Alexandria. Vadeo pun lalu membisiki di telinga Sang istri.


“Hah? Valid tidak informasi nya?” tanya Alexandria tampak kaget.


“Kita bicarakan nanti saja, maka nya Aca dan Aya khawatir. Ayo kita temui psikolog dulu.” Ucap Alexandria selanjutnya sebelum Vadeo menjawab sambil menarik tangan Sang suami tercinta, untuk berjalan masuk ke dalam kamar kedua anak nya.


Sesaat mereka berdua sudah sampai di sofa yang ada di dalam kamar Valexa dan Deondria. Sedang kan Valexa dan Deondria tampak keduanya duduk di sofa panjang secara berdampingan sambil berangkulan, dan sang psikolog duduk di sofa yang tidak jauh dari mereka.


Vadeo dan Alexandria lalu duduk di sofa panjang mengapit kedua anak nya.


“Tuan, Nyonya.. Mereka sedang sedih dan khawatir. Sudah menangis mungkin sudah sedikit lega..” ucap sang psikolog sambil menatap Vadeo dan Alexandria

__ADS_1


“Sayang kalau kalian sedih menangislah biar lega...” ucap Alexandria sambil memeluk anak anak nya. Lalu dia mengambil salah satu dan dipangku nya sedang yang satu nya dipangku oleh Vadeo.


“Mereka belum mau menceritakan siapa yang meninggal yang menyebabkan mereka menangis dan sedih. Mungkin mereka mau menceritakan pada Tuan dan Nyonya Vadeo.” Ucap sang psikolog. Dan selanjutnya sang psikolog pun mohon diri berharap agar Valexa dan Deondria mau bercerita pada kedua orang tua nya.


Akan tetapi saat Sang Psikolog sudah pulang kedua bocah itu pun belum mau menceritakan siapa yang meninggal.


“Pa.. te puyo Ayetandiya.. (Pa... ke pulau Alexandria).” Ucap Valexa dan Deondria sambil menatap Sang Papa.


“Iya Sayang... besok ya...” jawab Vadeo sambil mengusap usap kepala anak nya yang ada di dalam pangkuannya. Alexandria pun melakukan hal yang sama


“Benen ya Pa... (bener ya Pa..).” ucap Valexa dan Deondria.


“Iya Papa selesaikan dulu menerjemahkan manuskrip itu. Apa kalian tahu jika di pulau kita ad a harta karun nya?” tanya Vadeo dengan pelan pelan dan kedua bocah itu menganggukkan kepalanya.


“Ante Pin cuyuh te cini.. (Uncle Vin suruh ke sini).” Ucap Valexa dan Deondria selanjutnya. Vadeo pun segera menuruti perintah kedua anaknya untuk menghubungi Bang Bule Vincent agar kembali ke mansion Jonathan.


Dan waktu pun berlalu. Valexa dan Deondria sudah sedikit membaik kondisi mood nya.


Bang Bule Vincent pun juga sudah siap dengan hand phone nya.


“Ayo Kek...” ucap Bang Bule Vincent. Valexa dan Deondria duduk di samping kiri dan kanan Alexandria. Mereka bertiga menatap wajah Tuan Rangga dan Sang Papa yang serius memegang manuskrip.


“Sampai mana tadi?” tanya Tuan Rangga


“Ini Kek.. Sang Raja tidak mau diajak meninggalkan pulau Kemakmuran.” Jawab Vadeo sambil menunjukkan lembar yang harus diterjemahkan oleh Tuan Rangga. Dan Tuan Rangga pun mengarahkan kaca pembesar dan mulai membaca dan menerjemahkan.....


Sang patih dengan yang lainnya pergi meninggalkan pulau Kemakmuran dengan hati yang sedih. Mereka menyamar menjadi rakyat biasa dan memakai perahu sampan pergi menuju ke pulau seberang yang terdekat hanya sekedar untuk mencari makanan agar bisa bertahan hidup.


Beberapa hari berikutnya, sang patih dan penasihat kembali ke pulau Kemakmuran untuk mengirim bahan pangan pada Sang Raja namun mereka berdua tidak menemukan sosok Sang Raja akan tetapi yang mereka lihat ada seekor ular besar yang terus mengeluarkan air mata. Di bawah pohon asam yang tiba tiba tumbuh di dalam kerajaan itu. Sebab sebelum nya tidak ada pohon asam yang tumbuh di dalam kerajaan.

__ADS_1


“Oooo itu mungkin Bul.” Ucap Vadeo yang kini sudah mengira jika pohon asam dan ular besar yang diceritakan di dalam manuskrip itu juga yang kini sering dikunjungi oleh anak anaknya. Alexandria ekspresi wajahnya tampak serius menatap Vadeo.


“Bro, biar dilanjut dulu...” ucap Bang Bule Vincent dengan kesal.


“Ah kamu tadi juga sering menyela.” Saut Vadeo. Valexa dan Deondria malah tersenyum melihat Sang Papa dan Uncle nya saling menyalahkan.


“Lanjut Kek.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menatap tajam ke arah Vadeo.


Tuan Rangga pun melanjutkan terjemahan nya...


Sang patih dan Sang penasihat kerajaan ketakutan dan mengira Sang Raja Mahadiraja dimakan oleh ular besar itu. Sang patih dan Sang penasihat kerajaan pun lari tunggang langgang meninggalkan kerajaan dan pergi dari pulau Kemakmuran dan tidak kembali lagi.


Mendengar cerita ada ular besar yang memakan sang raja, ditambah pulau yang rusak oleh racun tidak ada satu orang pun yang mau dan berani masuk ke dalam pulau Kemakmuran yang sudah menjadi kering kerontang.


“Buka lembar berikutnya.” Ucap Tuan Rangga dan Vadeo pun membuka lembar berikutnya. Tuan Rangga tampak mengernyitkan dahinya saat melihat lembar manuskrip berikutnya.


“Ini kode kode atau simbol simbol. Aku akan baca kode kode ini. Ini akan menjadi sebuah peta jika ada yang bisa menggambar dengan panduan dari kode ini.” Ucap Tuan Rangga sambil serius mengarahkan kaca pembesar di lembar manuskrip itu.


“Ooo ada gambar peta tapi dalam kode kode.” Gumam Vadeo dan Bang Bule Vincent secara bersamaan dan saling pandang .


“Aya bica ... (Aya bisa).” ucap Deondria dengan nada serius menatap Tuan Rangga. Tuan Rangga yang mendengar langsung menatap ke arah Deondria dengan tatapan heran cenderung tidak percaya.


“Ayo Sayang kamu buat dibantu Mama..” ucap Vadeo sambil menatap Deondria dan Alexandria


Alexandria pun lalu mengambil hand phone yang tadi dia taruh di atas meja lalu mengusap usap layar hand phone nya mencari aplikasi yang sudah dia buatkan untuk Deondria yang punya bakat menggambar.


‘Atu bantu Ya.. ( aku bantu Ya..).” ucap Valexa sambil berusaha memegang hand phone Sang Mama.


“Jangan berebut ya..” ucap Vadeo sambil menatap kedua anaknya, dia khawatir jika kedua anak itu saling berebut

__ADS_1


....


__ADS_2