
“Bul, ayo kita buka. Mana pisau lipat multi fungsimu itu.” Ucap Vadeo sambil segera mengambil benda bulat besar yang tidak lain adalah buah semangka yang tampak sudah sangat tua. Vadeo sudah membayangkan pasti buah itu sangat nikmat dimakan karena merupakan buah yang banyak airnya bisa digunakan untuk mengatasi masalah mereka sekarang yang belum mendapatkan air minum setelah makan.
Valexa dan Deondria pun tampak tersenyum senang dan menghabiskan daging kelinci bakarnya. Bang Bule Vincent mengambil pisau lipat multi fungsinya dan memberikan pada Vadeo. Agar Vadeo yang membuka buah semangka itu, sedangkan Bang Bule Vincent masih membantu ular besar itu yang akan mengeluarkan lagi satu benda besar yang sepertinya titipan dari Alexa. Dan sesaat kemudian...
BUK!
Satu buah tas ransel besar yang tampak penuh isinya sudah berhasil dikeluarkan oleh ular besar itu dari dalam tubuhnya lewat mulutnya. Bang Bule Vincent pun segera mengambil tas besar itu. Tampak ular besar itu menatap Valexa dan Deondria, kedua bocah itu pun juga menatap dengan pandangan yang serius. Dan setelahnya tampak Valexa dan Deondria mengangguk anggukkan kepalanya. Dan ular besar itu pun pergi meninggalkan mereka berempat untuk menuju ke bawah pohon asam lewat jalan pintas.
“Aca.. Aya.. ayo makan buah ini, segar sekali.. “ ucap Vadeo sambil mengulurkan irisan buah semangka kepada anak anaknya. Dan benar buah semangka yang dibawa oleh ular besar itu warnanya sangat merah akan tetapi warna merah yang alami asli dari dalam tanaman itu.
Vadeo dan Bang Bule Vincent yang sudah kehausan sejak tadi pun segera menyantap buah semangka yang sangat manis dan segar itu.
“Ternyata nikmat juga ya Bul, makan makanan sederhana macam begini. Andai Alexa tidak hamil muda akan aku bawa juga ke sini.” Ucap Vadeo yang sudah menghabiskan beberapa potong irisan besar buah semangka. Mulut mungil Valexa dan Deondria pun juga sudah menghabiskan banyak irisan buah semangka. Akan tetapi Vadeo mengiriskan kecil kecil untuk anak anaknya karena agar wajah imut dan cantik kedua anaknya itu tidak belepotan oleh buah semangka. Vadeo pun juga dengan sabarnya membuangi dulu isi isi buah semangka itu. Agar Valexa dan Deondria langsung leb memakannya.
__ADS_1
“He... he... Iya Bro, dan hemat biaya tidak usah bayar koki untuk memasak tidak beli bumbu bumbu tidak beli bahan bakar tidak beli sabun untuk mencuci perkakasan... ha... ha... “ ucap Bang Bule Vincent sambil tertawa terbahak bahak namun tiba tiba terhenti tawanya sebab ada kulit buah semangka menempel di wajahnya karena ulah Vadeo yang melempar kulit semangka bekas dia makan itu ke arah Bang Bule Vincent.
“Sial.” Ucap Bang Bule Vincent sambil mengambil kulit buah semangka itu dan melemparkannya ke arah Vadeo akan tetapi Vadeo menghindar sambil tertawa terkekeh kekeh.
Setelah selesai acara makan daging kelinci dan ubi bakar yang diakhiri dengan menu penutup buah semangka segar. Mereka berempat pun segera kembali ke dalam bangunan istana bawah tanah itu. Bang Bule Vincent tampak membawa tas ransel besar kiriman dari Alexa yang berisi kebutuhan mereka berempat.
Vadeo yang kini sudah mengenakan celana pendek dan tshirt memandikan kedua anaknya. Vadeo masih penasaran dengan ide apa yang ada di kepala kedua anaknya itu. Akan tetapi Valexa dan Deondria belum mengatakan. Karena setelah selesai makan mereka berdua minta dimandikan dan menyuruh Bang Bule Vincent juga segera mandi.
Saat sudah selesai memandikan kedua anaknya dan akan memakaikan baju kepada dua bocah itu. Vadeo melihat ada sebuah kotak kecil di dalam lipatan baju baju mereka.
“Sayang kalian sekarang sudah cantik cantik dan sudah bersih. Perut juga sudah kenyang. Ayo katakan pada Papa apa ide kalian...” ucap Vadeo setelah selesai memakaikan baju pada Aca dan Aya, dan juga sudah memberi bedak, dan menyisir rambut kedua anaknya itu.
“Tundu Ante Pin, Papa... (Tunggu Uncle Vin Papa...).” ucap Valexa dan Deondria yang seterusnya mereka berdua naik ke atas tempat tidur.
__ADS_1
“Jangan bobok ya..” ucap Vadeo yang khawatir kedua anaknya tertidur menunggu Bang Bule Vincent yang sedang mandi, sehingga masih tertunda lagi informasi tentang ide kedua anaknya itu. Tampak Valexa dan Deondria tersenyum lalu membaringkan tubuh mungil mereka dan saling berhadapan berangkulan satu sama lain.
Sambil menunggu Vadeo mengambil lagi kotak kecil kiriman dari Alexa dan dia mengambil satu lempeng kecil itu lalu dia tempelkan di hand phone nya di bagian belakang. Vadeo pun segera mengaktifkan hand phone nya dan tidak lama kemudian, banyak notifikasi masuk ke dalam hand phone. Vadeo tampak tersenyum lebar karena kini dia sudah bisa berkomunikasi meskipun berada di dalam kamar itu tidak perlu lari lari keluar untuk mencari spot spot jaringan.
Saat Vadeo akan menghubungi sang istri tercinta. Tiba tiba pintu kamar terbuka. Tidak lama kemudian muncul sosok Bang Bule Vincent masuk ke dalam kamar itu sudah segar sehabis mandi dan sudah berganti baju sama seperti Vadeo dia juga memakai tshirt dan celana pendek.
“Ayo Ca, Ya.. katakan Uncle Vin sudah selesai.” Ucap Vadeo sambil mendudukkan pantatnya di tempat tidur juga.
Kedua anak itu pun segera bangkit dari tidurnya dan kini tampak duduk di atas tempat tidur menghadap pada sang Papa.
“Bul, cepat duduk sini!” perintah Vadeo sambil menepuk nepuk kasur tempat tidur itu agar Bang Bule Vincent segera ikut duduk dan mendengarkan ide dari kedua anaknya. Dan Bang Bule Vincent pun segera mendekat ke arah mereka dan ikut duduk di atas tempat tidur yang tampak kuat karena terbuat dari kayu jati asli tua, antik, unik dan elegan itu.
“Papa, ante tan atan menyuyuh anak buwah Ante mencayi pemiyik atun yan cetayang beyada di puyo sebeyah.. (Papa, Uncle kan akan menyuruh anak buah Uncle mencari pemilik akun yang sekarang berada di pulau sebelah..).” ucap Valexa sambil menatap serius wajah Papa dan Uncle nya.
__ADS_1
“Iya, pemilik akun yang dicurigai juga sebagai pemburu harta karun.” Ucap Vadeo dan Bang Bule Vincent secara bersamaan.
“Ante cuyuh anak buwah yan paying tampan tan dadah.. tapi danan Om Yicado.. kik...kik.. kik ..... (Uncle cari anak buah yang paling tampan dan gagah.. tapi jangan Om Richardo.... ..kik... kik... kik.. ...).” ucap Deondria sambil tertawa kecil lalu menutup mulut mungilnya dengan telapak tangan imutnya.