
“Kurang ajar!” suara Tuan Njun Liong dengan lantang sambil berkacak pinggang, nada suaranya pun kesal dan emosi.
“Saya Tuan?” tanya Richie dengan takut takut khawatir jika Tuan Njun Liong mendengar ucapan dan rencananya lalu dia akan dibuang ke laut sebelum mendapatkan harta karun dan membalas dendamnya pada Alexandria dan Vadeo.
“Vadeo Jonathan juga sudah menguasai orang yang bisa membaca manuskrip itu. Orang suruhanku tidak menemukan orang itu di rumahnya dan ternyata sudah berada di dalam mansion Jonathan, dalam penjagaan yang sangat ketat.” Ucap Tuan Njun Liong dengan berapi api karena emosi.
“Apa Tuan Richie bisa membantu.” Ucap Tuan Njun Liong selanjutnya dengan nada suara melemah sambil menatap serius wajah Richie.
“Ehhhmmm.” Gumam Richie sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Sebab anak buahnya di indonesia sudah masuk penjara semua.
“Bagaimana kalau Tuan langsung saja menyuruh orang darat menuju ke pulau itu dan menguasai pulau itu Tuan. Karena saya yakin akan sulit untuk mengambil orang yang sudah dalam penjaga Vadeo, apalagi sudah di dalam mansion Jonathan. “ Ucap Richie yang sudah berpengalaman gagal menculik kedua anak Vadeo meskipun orang yang akan menculik sudah berada di dalam Mansion Jonathan.
“Hmmm okey okey.. bagus ide Tuan tapi aku akan memakai banyak cara.” Ucap Tuan Njun Liong sambil mengangguk anggukan kepalanya dan kini sudah tidak lagi berkacak pinggang namun dia mengambil hand phone dari saku celana nya.
Tuan Njun Liong tampak mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi orang suruhan yang berada di daratan.
“Hei kamu segera sewa kapal dan sewa bulldozer. Jangan lupa bawa juga senjata senjata lengkap. Segera menuju ke pulau yang sudah aku kasih tahu tadi.” Suara Tuan Njun Liong saat orang yang dihubungi sudah menerima panggilan suaranya.
“Kalau perlu sewa pesawat agar cepat sampai ke pulau itu. Jangan sampai kedahuluan oleh yang lainnya. Termasuk pemilik pulau itu. Pasti mereka ke sana di saat hari libur.” Ucap Tuan Njun Liong lagi.
“Aku mungkin akan tiba di Asia beberapa hari lagi.” Ucap Tuan Njun Liong kemudian .
Dan Tuan Njun Liong pun mengakhiri percakapan nya di sambungan telepon setelah orang suruhan nya siap melaksanakan tugasnya.
__ADS_1
“Sudah, orang darat sudah akan segera bergerak menuju ke pulau itu.” Ucap Tuan Njun Liong lalu dia membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Richie yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
“Hmm berarti Tuan Njun Liong tidak mendengar ucapan ku tadi. Aku bisa melanjutkan rencana ku tadi.” Gumam Richie dalam hati lalu dia keluar dari pintu kamar nya dan berjalan untuk bergabung dengan anak buah Tuan Njun Liong yang sedang minum minum di buritan kapal.
Waktu pun terus berlalu sementara itu di belahan bumi lain di mansion Jonathan. Pagi hari pun telah tiba.
Valexa dan Deondria mulai membuat keributan. Setelah mandi mereka berdua tidak mau memakai baju seragam sekolah.
“Atu itu enggak atan te cetoyah Nanny.... (Aku itu enggak akan ke sekolah Nanny...).” ucap Valexa yang tidak mau dipakaikan baju seragam sekolah oleh pengasuh nya. Dia kini masih memakai kaos singlet dan celana dalem.
“Iya Nanny tita tuh mo te puyo Ayetandiya... (Iya Nanny tita tuh mau ke pulau Alexandria....).” saut Deondria yang juga menolak memakai baju seragam sekolah. Dia pun sama seperti Valexa masih memakai kaos singlet berwarna putih dan celana dalem.
“Tapi Non, Papa dan Mama tidak memberi tahu pada Nanny kalau kita mau ke pulau Alexandria jadi mungkin belum jadi Non ke pulau Alexandria ya...” ucap pengasuh Valexa yang masih berusaha memakaikan baju seragam sekolah pada Nona kecil nya.
“Coba Nanny teyepon Papa... (Coba Nanny telepon Papa).” ucap mereka berdua dengan lantang.
Pengasuh Deondria pun melangkah menuju ke tempat telepon yang ada di dalam kamar itu, tangannya masih membawa baju seragam milik Nona kecil nya. Setelah sampai di depan pesawat telepon yang tertempel di dinding kamar. Pengasuh itu segera mengangkat ganggang telepon dan menekan nomor untuk menghubungi nomor kamar Vadeo dan Alexandria. Tidak lupa dia menekan mode speaker agar semua yang ada di dalam kamar mendengar jawaban dari Vadeo atau pun Alexandria.
Sementara itu di dalam kamar Vadeo dan Alexandria. Mereka berdua pun baru selesai mandi bersama sekaligus ngadon berusaha untuk membuatkan adik buat Valexa dan Deondria.
Vadeo tampak senyum senyum sebab bisa melakukan tiga kali tanpa gangguan dari kedua anaknya. Alexandria terlihat masih memakai bath robe duduk di kursi rias sambil mengeringkan rambut nya. Sementara Vadeo tampak sudah memakai celana panjang dan sedang memakai kemeja.
Sesaat telepon yang ada di dalam kamar berdering.
__ADS_1
“Pa, tolong angkat itu telepon, tanggung nih.. bentar lagi kering..” ucap Alexandria yang masih mengeringkan rambut dengan hair dryer nya.
“Okey Sayang kamu selesaikan saja...” ucap Vadeo sambil melangkah menuju ke tempat telepon yang ada di kamar itu.
Vadeo pun segera mengangkat ganggang telepon.
“Hallo.” Ucap Vadeo
“Tuan, Nona Valexa dan Nona Deondria tidak mau memakai baju seragam sekolah. Katanya hari ini tidak ke sekolah tapi ke pulau Alexandria.” Suara pengasuh Deondria dari balik telepon.
“Sekolah dulu mereka hari ini.. nanti siang ke pulau Alexandria nya setelah makan siang.” Ucap Vadeo..
“Atu mau cetayang... (Aku mau sekarang....).” teriak Valexa dan Deondria yang didengar oleh Vadeo..
“Sekolah dulu, Papa dan Mama juga mau kerja dulu, sudah ada jadwal meeting di pagi hari.” Suara Vadeo lebih keras sebab dia tahu jika telepon di kamar anak nya di mode speaker.
Akan tetapi tiba tiba pintu kaca penghubung kamar sudah ditendang tendang oleh kaki kaki mungil Valexa dan Deondria. Alexandria pun segera menaruh alat pengering rambut nya dan bangkit berdiri untuk berjalan menuju ke pintu penghubung. Vadeo pun juga segera memasang lagi ganggang telepon pada tempat nya dan membalikkan tubuh untuk melangkah menuju ke pintu penghubung kamar.
Vadeo yang lebih dulu sampai di pintu kaca penghubung itu segera membuka kunci kamar dan memutar handel pintu. Sebelum dia menarik daun pintu. Pintu sudah terbuka lebar karena dorongan dari tangan tangan mungil Valexa dan Deondria. Tidak hanya itu tubuh Vadeo pun sampai terhuyung huyung ke belakang karena dorongan pintu.
“Cetayang... Papa... (sekarang Papa...).” teriak mereka berdua sambil menghambur masuk ke dalam kamar orang tua nya.
"Sayang kalian sudah membuat Papa mau jatuh..." ucap Vadeo sambil menutup pintu kaca penghubung kamar itu.
__ADS_1
"Cetayang Papa.. Atu ga mau cetoyah.. (Sekarang Papa aku ga mau sekolah)." teriak mereka berdua lagi sambil menatap Sang Papa.