Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 35. Perintah dari Si Kembar


__ADS_3

“Ada apa?” tanya sang perawat sambil berjalan mendekati tempat tidur Atikah.


“Bagai mana kalau aku kembali tidur ke kamar ku saja?” tanya Atikah sambil menatap sang perawat. Keringat di dahi nya pun semakin banyak yang keluar. Dia sangat khawatir jika hand phone aslinya berdering dan Richie yang menghubungi kemudian ada pelayan yang mendengar lalu mengambil hand phone itu sebab tadi kamar nya lupa tidak dia kunci karena saking terburu buru nya.


“Sudah larut, sudah tidur saja di sini. Besok pagi aku periksa lagi kondisi kamu.” Ucap sang perawat sambil menatap Atikah.


“Aku juga sudah pesan pada orang dapur agar memberikan sarapan buat satu pasien di sini.” Ucap sang perawat selanjutnya.


“Hmmm.” Gumam Atikah yang sudah kehabisan cara.


“Tuan Vadeo sudah memerintahkan semua harus istirahat malam ini, kecuali yang piket malam.” Ucap Sang perawat itu lagi.


“Sudah kamu itu karyawan baru satu hari kalau tidak menurut dan baru satu hari kerja sudah sakit bisa bisa kamu besok pagi sudah disuruh pergi dari Mansion ini.” Ucap sang perawat sambil menatap tajam ke arah Atikah. Dan selanjutnya sang perawat itu pun melangkah akan keluar dari kamar yang ditempati Atikah.


Dan di saat sang perawat sudah sampai di depan pintu kamar.


“O ya kamu kalau ada perlu bisa tekan bell di dekat tempat tidur kamu itu. Pintu aku kunci dari luar.” Ucap sang perawat itu sambil menoleh ke arah Atikah yang masih terduduk di tempat tidur.


Sang perawat pun keluar dari kamar dan pintu segera ditutup dan terdengar suara “CEKLEK, CEKLEK.” Tanda pintu sudah dikunci dari luar.


“Hmmm sial benar, aku malah jadi macam dipenjara di sini.” Gumam Atikah dalam hati lalu merebahkan tubuh nya dengan kasar di tempat tidur itu.

__ADS_1


“Semoga saja Richie tidak menelepon ku malam ini dan besok pagi sampai aku kembali ke kamar itu.” Gumam Atikah lagi sambil berusaha untuk memejamkan mata nya agar bisa tidur dan berharap esok pagi tidak ada lagi kesialan buat diri nya.


Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam dan hari pun mulai berganti. Pagi hari pun sudah tiba.


Di mansion Jonathan, ibu kepala pelayan pun sudah mendapat laporan jika Atikah sakit dan kini pak sopir senior pun sudah berada di ruang kerja nya untuk dimintai keterangan.


“Setelah saya mengantar Neng Atikah ke klinik, Saya dan petugas keamanan mencari dompet Atikah yang katanya tertinggal di mobil akan tetapi kami tidak menemukan.” Ucap Pak sopir senior.


“Apa ada yang masuk ke dalam mobil selain Atikah sebelum Pak Sopir senior dan petugas keamanan mencari?” tanya Ibu kepala pelayan.


“Ya pelayan bagian logistik Bu yang satu mobil saat pergi dengan Neng Atikah.” Jawab Pak Sopir senior.


“Hmmm, tetapi pelayan bagian logistik itu sangat jujur tidak mungkin dia mengambilnya jika menemukan dompet Atikah. Pasti dia akan memberikan atau melaporkan pada aku.” Ucap Ibu kepala pelayan.


“Hmmmm baiklah aku panggil pelayan bagian logistik sekarang.” Ucap Ibu kepala pelayan dengan nada serius bisa menerima pendapat dari Pak Sopir senior sebab dia pun juga mendengar tentang berita keributan yang terjadi antara Atikah dan pelayan bagian logistik.


“Sudah Pak Sopir senior sekarang siap siap antar Nona Nona kecil.” Ucap Ibu kepala pelayan. Dan pak sopir senior pun segera bangkit berdiri dan bersiap siap menjalankan tugas nya.


Ibu kepala pelayan pun segera menghubungi pelayan bagian logistik yang pergi bersama Atikah kemarin.


Beberapa saat kemudian pintu terdengar suara ketukan dan Ibu kepala pelayan segera menyuruh masuk orang yang mengetuk ngetuk pintu ruang kerja nya itu.

__ADS_1


Pintu pun segera terbuka dan muncul sosok pelayan bagian logistik yang bertubuh gempal itu. Ibu kepala pelayan pun segera menyuruh pelayan bagian logistik itu untuk segera duduk di kursi di depan meja kerja nya.


“Aku tahu kamu adalah pelayan yang sangat jujur maka aku tempatkan kamu di bagian logistik dan aku percayakan ke kamu untuk memegang uang dan belanja segala keperluan di gedung ini.” Ucap Ibu kepala pelayan mengawali ucapan nya.


“Iya Bu, terimakasih atas kepercayaan yang diberikan pada saya.” Ucap pelayan bagian logistik sambil tertunduk kepala nya karena dia merasa ada yang tidak beres sampai dia dipanggil ibu kepala pelayan di pagi pagi hari apalagi sudah terdengar berita Atikah sakit.


“Tolong berkatalah jujur apa kamu menyembunyikan dompet Atikah yang ada obat sakit kepala dia.” Ucap Ibu kepala pelayan dengan tenang sambil menatap tajam wajah pelayan bagian logistik yang terlihat langsung kaget dan menatap ibu kepala pelayan.


“Demi Allah, Bu saya tidak melihat dompet Atikah. Bisa dilihat dari CCTV atau bisa geledah kamar saya Bu.” Ucap pelayan bagian logistik itu dengan nada serius.


Dan tiba tiba .... di saat itu terdengar suara dering di telepon yang ada di dalam ruang kerja ibu kepala pelayan itu.


“Telepon dari Mansion utama.” Gumam ibu kepala pelayan saat melihat alarm nomor yang menunjukkan nomor dari Mansion utama menyala berkedip kedip. Ibu kepala pelayan pun segera mengangkat ganggang telepon itu.


“Deyedah aja tamal coping bayu itu.” Terdengar suara anak balita dengan lantang dari balik telepon di ruang Ibu Kepala Pelayan.


“Nona kecil.” Gumam Ibu kepala pelayan tampak heran kenapa tiba tiba Nona kecil menelepon dan ucapannya nyambung dengan pembicaraan yang sedang terjadi di ruangan itu.


“Cetayang tepat yatutan.” Suara anak balita itu lagi dan sambungan teleponnya pun kini sudah terputus.


“Ayo kita ke kamar Atikah.” Ucap Ibu kepala pelayan sambil bangkit berdiri. Pelayan bagian logistik pun turut bangkit berdiri dan mereka berdua segera melangkah menuju ke kamar Atikah, untuk melaksanakan perintah dari bos kecil mereka. Para pelayan sudah hafal sikap dari Nona Nona kecil mereka yang sangat keukeuh dan keras kepala jika menginginkan sesuatu. Mereka tidak ingin mendapat marah dari Nona Nona kecil itu. Apalagi setelah kejadian kecelakaan yang terjadi akibat pengasuh tidak mendengarkan perintah dari Nona Nona kecil mereka.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Ibu kepala pelayan dan pelayan logistik sudah sampai di depan kamar Atikah. Ibu kepala pelayan yang sudah membawa kunci duplikat kamar Atikah pun tampak memasukkan anak kunci itu pada lobang nya. Akan tetapi tidak bisa masuk.


“Ada kunci di dalam nya.” Gumam Ibu kepala pelayan lalu memutar handel pintu itu dan mendorong daun pintu kamar Atikah yang tidak terkunci.


__ADS_2