Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 148.


__ADS_3

Hari yang dinanti nanti pun telah tiba. Hari di mana nanti malam harinya adalah malam bulan purnama. Tidak seperti Mamah Mimi dan juga Tuan Njun Liong maupun Richie, yang akan melepaskan hasrat gairah menunggu di malam bulan purnama. Vadeo dan Bang Bule Vincent, tadi malam sudah melepaskan hasratnya sepuas puasnya karena mereka berdua akan meninggalkan istri istri tercinta mereka.


Pagi hari di kamar Vadeo dan Alexandria, mereka berdua baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut kepala kedua nya yang basah karena habis mandi keramas. Vadeo terlihat masih mengeringkan rambut kepalanya dengan handuk kecil. Sedangkan Alexandria tubuhnya masih terbalut bath robe dan tampak rambut kepalanya masih tertutup handuk lalu dia berjalan menuju ke kursi rias dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


“Papa tidak tahu sampai kapan di sana?” tanya Alexandria sambil mengeringkan rambutnya.


“Selesai langsung pulang Ma.” Jawab Vadeo sambil melangkah menuju ke balkon untuk menjemur handuk karena dirasa rambutnya sudah cukup kering. Alexandria pun menitipkan handuknya untuk dibawa Vadeo ke balkon.


Sesaat pintu kaca penghubung kamar digedor gedor oleh kaki kaki mungil Valexa dan Deondria.


“Mama... Papa... buta pintu na.... (Mama... Papa.. buka pintu nya).” Teriak mereka berdua hingga suaranya didengar oleh Vadeo yang sedang berada di balkon. Vadeo pun segera masuk ke dalam kamarnya, karena tidak ingin Alexandria yang sedang mengeringkan rambut tergesa gesa untuk membukakan pintu buat ke dua anaknya apalagi Alexandria sedang hamil muda.


“Sayang biar aku yang buka kan pintu.” Ucap Vadeo saat melihat Alexandria sudah mematikan hair dryer nya dan akan bangkit berdiri. Vadeo pun segera melangkah menuju ke pintu penghubung sedangkan Alexandria kembali melanjutkan mengeringkan rambutnya yang belum selesai.


“Papa... tita beyangkat ciang nanti te pantai duyu (Papa... kita berangkat siang nanti ke pantai dulu).” Ucap Valexa saat Vadeo sudah membuka pintu kaca penghubung.


“Atu mau peyuk Adik Adikku duyu...( Aku mau peluk Adik Adikku dulu...).” suara Deondria lalu berlari menuju ke tempat Alexandria duduk.

__ADS_1


“Ceyamat padi Adik Adik Cayangku... (Selamat pagi Adik Adik Sayangku).” Ucap Deondria sambil memeluk perut sang Mama dengan hati hati, lalu dia pun menciumi perut Alexandria, hingga Alexandria kegelian


“Kakak danan yama yama ya peldi na... (Kakak jangan lama lama ya pergi nya).” Ucap Alexandria menirukan suara celat anak kecil..


“Tidak yama Adik Adik tan Mama Cayang ceabis celecai yancung puyang... (tidak lama Adik Adik dan Mama Sayang sehabis selesai langsung pulang...).” ucap Deondria masih terus menciumi perut Sang Mama dan berulang ulang bagai menciumi pipi kanan kiri pada dua bocah. Dan tidak lama kemudian Valexa yang sudah selesai berbicara dengan Sang Papa juga turut memeluk dan menciumi perut Alexandria. Mereka berdua saling berebut dan saling dorong. Akhirnya Alamanda memeluk tubuh dua anaknya itu.


Sedangkan Vadeo terlihat sibuk dengan hand phone menghubungi sana sini untuk menyiapkan segalanya dan memberi pesan pesan pada orang orang kepercayan yang ada di Pulau Alexandria.


Waktu pun terus berlalu. Siang hari setelah selesai makan siang. Vadeo, Bang Bule Vincent dan Si Kembar sudah siap akan berangkat ke pantai menuju ke tempat pesawat yang sudah menunggu mereka. Valexa dan Deondria mengenakan pakaian ala Bang Bule Vincent. Dengan celana cargo dan tshirt warna hitam kini mereka berdua juga mengenakan jaket jeans warna biru kelabu. Alexandria dibuat gemes melihat penampilan mereka berdua. Akan tetapi ada sebagaian rasa di dalam lubuk hatinya, dia tidak tega melihat kedua anaknya yang masih balita itu berurusan dengan para penjahat.


“Sayang hati hati ya... jangan lupa berdoa agar Allah selalu melindungi kalian.” Ucap Alexandria sambil menunduk menciumi kedua anaknya.


Vadeo, Bang Bule Vincent dan Si Kembar segera masuk ke dalam mobil. Sedangkan Alexandria, Ixora dan Richardo masih berdiri di halaman mengantar hingga mobil tidak terlihat dari pandangan mata mereka.


Mobil yang dikemudikan oleh sopir yang kemarin dulu pingsan waktu di bukit pohon asam. Mobil terus melaju menuju ke Pantai Alexandria tempat pesawat mereka parkir menunggu. Bang Bule Vincent dan Vadeo duduk di jok belakang kemudi sambil memangku Valexa dan Deondria. Dan jok di samping kemudi diduduki oleh sopir serep. Untuk antisipasi jika ada keadaan darurat pada pak sopir yang bertugas mengemudi.


“Pak jangan pingsan lagi ya..” ucap Bang Bule Vincent memecah keheningan di dalam mobil. Karena semua sibuk dengan pikirannya masing masing.

__ADS_1


“Tidak lagi Tuan he... he...” ucap Pak Sopir sambil tertawa kecil dan terus fokus pada kemudi mobilnya. Mobil pun terus melaju, Valexa dan Deondria tampak diam dengan pandangan yang terus menatap jauh.


Sementara itu di rumah mewah Mamah Mimi. Mamah Mimi sedang berada di salah satu kamar yang digunakan untuk klinik kecantikan. Dia sedang berbaring beberapa karyawan petugas klinik kecantikan yang datang dari Korea itu sedang melakukan lulur full di seluruh tubuh Mamah Mimi. Bibir Mamah Mimi terus saja tersenyum membayangkan acara ritual nya nanti malam.


Sedangkan di halaman belakang rumah mewah Mamah Mimi sedang dilakukan upacara pemotongan empat ayam jago. Aroma kemenyan yang dibakar pun menguar memenuhi seluruh ruang ruang dan tempat tempat di lokasi rumah mewah itu.


Tampak satu orang laki laki setengah baya tengah mengasah pisau agar lebih tajam saat digunakan untuk mengeksekusi keempat ayam jago itu. Di dekatnya ada empat baskom berisi air dengan bunga mawar tabur di dalamnya.


“Sudah siap bawa ayamnya ke sini!” perintah laki laki paruh baya itu dan empat orang laki laki temannya. Keempatnya itu pun datang dengan membawa keempat ayam jago. Ayam jago yang tampak besar, gagah dan sehat. Laki laki paruh baya itu segera mengeksekusi keempat ayam jago itu. Darah dari ayam jago itu ditaruh pada empat mangkok kecil kecil.


Dan setelahnya ke empat ayam jago yang sudah mati itu masing masing dimasukkan ke dalam waskom yang berisi air kembang mawar merah jambu. Laki laki paruh baya itu membenamkan ayam ayam jago yang sudah mati itu ke dalam air kembang di dalam baskom sampai benar benar tenggelam di dalam air kembang. Dan setelahnya.


“Sudah selesai tugasku, bawa ke empat nya ke dapur.” Ucap laki laki paruh baya itu dan keempat baskom yang berisi ayam jago mati itu dibawa ke dapur akan dimasak untuk dijadikan ingkung dan digunakan untuk sesaji acara nanti ritual malam bulan purnama. Sedangkan laki laki paruh baya itu membawa mangkuk kecil yang berisi darah ayam jago.


Aroma bau kemenyan yang dibakar terus menguar ke seluruh sudut sudut di lokasi rumah mewah Mamah Mimi itu. Suasana mistis sungguh sungguh dirasakan oleh penghuni di rumah mewah itu. Keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent masih berada di dalam kamarnya.


Dan sesaat kemudian. Laki laki yang bertugas menyembelih ayam tadi berdiri di depan kamar tempat keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent. Orang itu masih membawa mangkok mangkok kecil yang berisi darah ayam jago.

__ADS_1


(maaf jika ada typo typo dan salah salah sedang ada hajatan di tetangga telingaku berisik banget 😁🙏🥰🥰🥰


__ADS_2