
“Tan anak buwah yan ada di puyo Jawa.. cuyuh meyeka beyantat denan pecawat komecial adal tidak mencuyidatan.. (Dan anak buah yang ada di pulau Jawa .. suruh mereka berangkat dengan pesawat komersial agar tidak mencurigakan..).” ucap Valexa dengan nada serius sambil menatap wajah Papa dan Unclenya.
“Cuyuh diya meyamal betelda di yumah paying mewah di tota tampat pemiyik atun itu beyada.. (suruh diya melamar bekerja di rumah paling mewah di kota tempat pemilik akun itu berada..).” sambung Deondria selanjutnya yang sudah berhenti tertawanya dan kini pun nada suara dan ekspresi wajahnya sudah kembali serius. Tampak Vadeo dan Bang Bule Vincent mendengarkan dengan serius semua yang sudah diucapkan oleh Valexa dan Deondria itu, meskipun mereka berdua di dalam hati heran dengan adanya syarat mencari anak buah yang paling tampan yang berada di pulau jawa. Bang Bule Vincent tampak berpikir keras mengingat siapa anak buahnya yang paling tampan, sebab menurut dia hanya dirinya lah yang paling tampan, keren dan ganteng maksimal.
“Danan yupa bawa cendata yahacia buwatan Enti Icoya, bawa yan banak yan bica bitin mata buta... (jangan lupa bawa senjata rahasia buatan Aunty Ixora, bawa yang banyak yang bisa bikin mata buta..).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan. Dan selanjutnya mereka berdua bangkit dan masing masing mendekat pada Vadeo dan Bang Bule Vincent. Tampak keduanya berbisik bisik di telinga Vadeo dan Bang Bule Vincent. Valexa membisiki telinga Vadeo dan Deondria membisik telinga Bang Bule Vincent. Tampak Vadeo dan Bang Bule Vincent serius mendengarkan bisikan dari kedua anak itu. Dan sesaat kemudian.
“Hah?” suara Vadeo dan Bang Bule Vincent tampak kaget. Dan saat mereka berdua masih kaget dengan bisikan dari Valexa dan Deondria. Hand phone milik Vadeo yang berada di atas tempat tidur itu berdering. Bang Bule Vincent yang belum tahu jika hand phone Vadeo sudah dipasang alat buatan Alexandria tampak melonjak kaget.
“Bro hand phone kamu kok berdering kamu alarm apa? Bikin kaget saja.” Suara Bang Bule Vincent. Sedangkan Vadeo segera meraih hand phone nya dan Sang istri sedang menghubunginya.
“Sudah ada alat dari Alexa.” Ucap Vadeo sambil memberikan kotak kecil pada Bang Bule Vincent. Dan Vadeo pun segera menggeser tombol hijau karena Sang istri melakukan panggilan video yang tentu saja sang isteri sudah sangat ingin melihat wajah kedua anaknya dan Vadeo pun juga sudah sangat ingin melihat wajah Alexandria. Sedangkan Bang Bule Vincent segera memasang lempeng tipis pada hand phone miliknya agar dia pun juga bisa menghubungi isteri tercinta dan segera melaksanakan perintah dari kedua keponakannya.
Sementara itu di lain tempat. Tuan Njun Liong kini sedang berjalan jalan dengan Sang pengawalnya di kota kecil tempat Mamah Mimi tinggal. Tuan Njun Liong dan Sang Pengawal memakai baju santai bagai turis asing yang sedang berwisata di kota kecil itu. Tuan Njun Liong tadi sangat kesulitan untuk mendapatkan izin keluar dari rumah mewah milik Mamah Mimi itu. Dan setelah memberikan banyak alasan akhirnya Tuan Njun Liong dan Sang Pengawalnya diizinkan jalan jalan keluar dari rumah mewah itu.
“Itu ada warung kopi yang tidak begitu ramai. Kalau warung tidak ramai begitu penjual dan pembelinya bisa santai santai mengobrol.” Ucap Tuan Njun Liong pada pengawal nya sambil dagunya terangkat menunjuk pada satu buah warung kopi yang tidak ramai pembelinya.
__ADS_1
Setelah masuk dan dipersilahkan duduk oleh pemilik warung kopi, Tuan Njun Liong pun memesan dua cangkir kopi.
“Pak hotel yang paling bagus di kota ini yang mana ya?” tanya Tuan Njun Liong saat pemilik warung kopi itu sudah memberikan kopi pesannya.
“Tuan sekarang menginap di mana?” ucap Pemilik warung kopi malah balik bertanya.
“Hotel melati, terlalu ramai dan kurang bersih bagi saya.” Jawab Tuan Njun Liong bohong.
“Aku lihat ada bangunan mewah di sana, tetapi kok sepertinya bukan hotel.” Ucap Tuan Njun Liong yang mulai aksinya mencari informasi tentang rumah mewah Mamah Mimi.
“Iya benar. Apa bisa menginap di sana?” ucap Tuan Njun Liong sambil menoleh menatap pengunjung warung kopi di dekatnya.
“Itu rumah Mamah Mimi, para normal terkenal di kota ini, pelanggannya bahkan sampai ke luar negeri.” Ucap pengunjung warung kopi itu.
“Itu rumah khusus Tuan. Hanya orang orang tertentu yang boleh masuk ke dalam situ. Kalau di kota ini ada pemuda tampan dan gagah pasti Mamah Mimi tahu dan segera disuruh menjadi pelayan di rumah mewah itu.” Ucap pengunjung kopi itu selanjutnya sambil menoleh menatap Tuan Njun Liong.
__ADS_1
“Termasuk melayani Mamah Mimi di hari hari tertentu. Terutama di malam bulan purnama tiba.” Saut pemilik warung kopi sambil sibuk menggoreng pisang.
“Iya benar jika di malam bulan purnama tiba Mamah Mimi akan mencari perjaka untuk melayani dirinya agar ilmunya semakin kuat.” Ucap pengunjung warung kopi yang duduk di dekat Tuan Njun Liong.
“Untung anakku perempuan semua jadi tidak menjadi sasaran Mamah Mimi.” Saut pengunjung warung kopi lainnya yang duduk agak jauh dari Tuan Njun Liong.
“Apa tidak bisa menolak?” tanya Tuan Njun Liong sambil menatap pengunjung warung kopi dan juga pemilik warung kopi itu secara bergantian.
“Orang orang tidak berani menolak kemauan Mamah Mimi, lebih baik merelakan anak perjaka mereka dari pada keluarga mereka mati dengan cara mengenaskan.” Ucap pengunjung warung kopi yang duduk di dekat Tuan Njun Liong dengan nada dan ekspresi wajah serius cenderung takut.
“Hmmm serem juga kenapa Siu Lie sampai memiliki teman seperti itu, apa dia juga akan belajar ilmu itu dari Mamah Mimi.” Gumam Tuan Njun Liong dalam hati. Dia pun menjadi begidik ngeri. Dan menyesali telah melakukan bekerja sama Nyonya Siu Lie akan tetapi sudah terlanjur tercebur, Tuan Njun Liong sudah membayar uang pada Nyonya Siu Lie dan juga kapal besar miliknya sudah diketahui oleh Mamah Mimi, yang mana Mamah Mimi bisa membuat kapal besarnya tenggelam dan akan habislah semua kekuatan Tuan Njun Liong. Tampak Tuan Njun Liong memijit mijit pelipisnya.
“Aku sudah mengira para pemuda tampan dan gagah itu santapan dan kesayangan Mamah Mimi, tetapi tidak menyangka Mamah Mimi menginginkannya dengan cara paksa dan sadis. Aku pun memilik banyak wanita penghibur akan tetapi mereka senang dan suka rela karena mendapat imbalan uang yang banyak dari aku.” Gumam Tuan Njun Liong dalam hati dan masih memijit mijit pelipisnya.
“Tuan apa Tuan pusing karena kopi?” tanya sang pengawal yang berpura pura, sebenarnya dia tahu jika Tuan Njun Liong pusing karena informasi yang dia dapat baru saja.
__ADS_1