Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 88. Kerajaan Asasta


__ADS_3

Vadeo lalu membuka kembali lembar halaman manuskrip yang tadi terakhir kali diterjemahkan oleh Tuan Rangga. Bang Bule Vincent pun telah siap dengan hand phone nya untuk mencatat apa yang akan diucapkan oleh Tuan Rangga.


“Kita mulai Tuan.” Ucap Vadeo sambil mendekatkan manuskrip itu pada Tuan Rangga agar dia levih enak membacanya.


“Sampai mana tadi?” tanya Tuan Rangga dan Vadeo pun membantu mengarahkan letak kaca pembesar yang dipegang oleh Tuan Rangga pada tulisan manuskrip yang harus dibaca nya.


Tuan Rangga lalu melanjutkan menerjemahkan tentang hasil alam di pulau itu.


“Tuan ular besar khusus yang saya tanyakan tadi apa ada?” tanya Vadeo yang ingat pertanyaannya belum dijawab oleh Tuan Rangga.


“Tidak disebutkan ada ular besar khusus tadi entah nanti tunggu saja.” Jawab Tuan Rangga.


“Ayo buka lagi halaman selanjutnya.” Perintah Tuan Rangga pada Vadeo, dan Vadeo pun membuka halaman selanjutnya dan tampak halaman yang merupakan bab baru.


“Kerajaan Asasta.” Gumam Tuan Rangga.


“Hah... ada kerajaan dulu di pulau itu?” tanya Vadeo dan Bang Bule dengan ekspresi tampak kaget, heran dan senang. Campur campur pokoknya.


“Iya kerajaan Asasta, itu kalau diterjemahkan kerajaan Sejahtera. Cocok dengan sebutan pulau nya yang orang orang menyebut pulau Kemakmuran.” Jawab Tuan Rangga.


“Lanjut Kek...” ucap Bang Bule Vincent yang siap menulis lagi dan Vadeo pun mendengar dengan saksama ingatan dia pun pada cincin permata langka nya.


“Apa cincin itu peninggalan dari jaman kerajaan Asasta itu ya...” gumam Vadeo dalam hati.


Tuan Rangga pun kembali menerjemahkan tentang kerajaan Asasta yang rakyatnya hidup makmur, sejahtera dan bahagia dipimpin oleh seorang Raja yang disebut di manuskrip itu dengan sebutan Raja Mahadiraja yang didampingi oleh seorang permaisuri yang cantik jelita dan tidak ada satu pun selir.

__ADS_1


“Lanjut Kek...” ucap Bang Bule Vincent yang sudah selesai mencatat apa yang diucapkan oleh Tuan Rangga.


“Berikan aku air putih.” Ucap Tuan Rangga sambil menatap Juna.


“Tuan itu terjemahan perintah sang Raja Mahadiraja apa Tuan sungguh sungguh haus?” tanya Bang Bule Vincent yang sudah siap mengetik setiap kata yang keluar dari mulut Tuan Rangga.


“Ini aku haus beneran, bukan terjemahan.” Saut Tuan Rangga sambil menatap tajam Bang Bule Vincent.


“Bul, kamu catat yang benar ya, jangan sampai nanti malah kacau karena campur campur.” Ucap Vadeo yang tampak khawatir dengan hasil pencatatan Bang Bule Vincent.


“Iya iya, maka ini aku klasifikasi pada Tuan Rangga. “ ucap Bang Bule Vincent.


“Ayo kita lanjut lagi.” Ucap Tuan Rangga setelah selesai minum air putih.


Tuan Rangga pun kembali menerjemahkan isi manuskrip itu yang menceritakan tentang kesejahteraan kerajaan Asasta yang terkenal hingga ke kerajaan kerajaan lainnya dan juga hingga ke seluruh dunia. Banyak kerajaan kerajaan dan negara negara melakukan kerja sama. Dan akhirnya tiba pada masa nya ada yang ingin menguasainya. Dan terjadilah peperangan. Berkali kali terjadi peperangan dan kerajaan Asasta memenangkan peperangan itu.


“Lanjut Kek...” ucap Bang Bule Vincent.


Tuan Rangga pun mulai lagi mengarahkan kaca pembesar itu pada lembar manuskrip berikut nya. Dan hingga pada suatu masanya ada satu kerajaan besar yang bisa menundukkan banyak kerajaan kerajaan lainnya pun bermaksud ingin juga menundukkan kerajaan Asasta dengan cara akan mempersunting kedua puteri Sang Raja Mahadiraja yang disebut sebagai Puteri Deepa Lila dan Puteri Deepa Jingga. Sang Raja pun menolak pinangan dari Raja kerajaan besar itu, selain karena kedua puterinya masih di bawah umur. Sang Raja Mahadiraja juga tidak setuju kedua puterinya dipoligami. Merasa kecewa karena akal nya untuk menundukkan kerajaan Asasta ditolak , maka kerajaan besar itu melakukan serangan.


“Tuan apa kedua puteri itu kembar?” tanya Vadeo yang spontan teringat akan kedua puterinya.


Di saat Tuan Rangga belum menjawab pertanyaan Vadeo. Pintu paviliun tamu itu mendadak terbuka lebar. Semua yang ada di dalam ruangan itu pun tampak kaget, termasuk Tuan Rangga yang masih memegang kaca pembesaran nya, hingga....


PRAAAANNGGGGG

__ADS_1


Terdengar suara kaca pembesar Tuan Rangga yang terjatuh dari pegangan tangan Tuan Rangga. Vadeo dan Bang Bule Vincent pun kaget berkali kali.


“Hah... rupanya kalian berdua bersekongkol dan bersembunyi di sini.” Suara Nyonya Jonathan dan Nyonya William yang sosoknya langsung menghambur berjalan mendekati Vadeo dan Bang Bule Vincent setelah pintu terbuka. Nyonya Jonathan langsung menjewer telinga Vadeo dan Nyonya William menjewer telinga Bang Bule Vincent.


“Hmmmm apa Kakek ini yang menjual perhiasan permata langka itu?” gumam Nyonya Jonathan saat melihat ada orang tua di dekat Vadeo.


“Ma... lepas.. sakit nih...kuping ku..” ucap Vadeo sambil tangan satunya memegang telinga yang dijewer oleh Sang Mama dan tangan satunya masih memegang manuskrip dengan kuat agar tidak jatuh atau direbut oleh Sang Mama. Bang Bule Vincent pun demikian tangan satunya memegang hand phone sedang tangan satu nya berusaha melepaskan tangan sang Mama Mertua yang masih menjewer telinga nya hingga wajah Bang Bule Vincent tampak memerah.


“Kalian buat apa di sini?” tanya Nyonya Jonathan selanjutnya yang akhirnya melepas jeweran telinga Vadeo karena dia penasaran dengan sosok Tuan Rangga. Sedangkan Juna sudah mengambil kaca pembesar Tuan Rangga yang terjatuh tadi, dan untung tidak pecah dan juga tidak retak.


“Tuan Rangga apa baik baik saja?” tanya Vadeo selanjutnya sambil menatap Tuan Rangga . Vadeo khawatir jika Tuan Rangga kaget dan jantungnya bermasalah.


“Mama lain kali ketuk pintu dulu, kasihan orang tua jika kaget.” Ucap Vadeo sambil menatap tajam pada Nyonya Jonathan dan Nyonya William yang juga sudah melepas jeweran telinga Bang Bule Vincent.


“Kalian belum menjawab pertanyaan ku.” Ucap Nyonya Jonathan sambil menatap Vadeo lalu mendudukkan pantat nya di salah satu kursi yang berada di ruangan itu.


Vadeo pun lalu menceritakan jika mereka sedang menerjemahkan cerita tentang pulau Alexandria.


“Heleh.. membaca buku saja pakai sembunyi sembunyi.” Ucap Nyonya Jonathan dan Nyonya William secara bersamaan karena Vadeo belum mengatakan jika sudah banyak orang yang menginginkan pulau Alexandria dan juga belum mengatakan jika di pulau Alexandria dulu ada sebuah kerajaan.


“Sekarang katakan pada Mama, Bul di mana kamu membeli perhiasan langka itu?” tanya Nyonya William sambil menoleh menatap wajah Bang Bule Vincent yang tampak masih memerah akibat telinganya dijewer oleh nya.


“Di museum Belanda Ma.” Jawab Bang Bule asal berucap dengan maksud agar kedua Mama itu segera keluar dari paviliun tamu.


Dan di saat yang bersamaan hand phone di dalam saku jas Vadeo terdengar bunyi dering....

__ADS_1


...


__ADS_2