
Mobil yang ditumpangi oleh keluarga Vadeo itu terus melaju menuju ke rumah sakit. Mobil satunya yang ditumpangi oleh keluarga Bang Bule Vincent ditambah dua pengasuh Valexa dan Deondria juga terus mengikuti dari belakang.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah sakit. Mobil berhenti di depan pintu masuk karena Vadeo menghendaki begitu.
“Ayo turun Ma.” Ajak Vadeo agar Alexandria segera turun dan dirinya yang duduk di jok belakang bisa segera turun pula.
“Atu tan Aya di cini caja ya Pa... (aku dan Aya di sini saja ya Pa...).” ucap Valexa sambil menoleh menatap Sang Papa, Deondria yang duduk di sampingnya pun juga menoleh menatap Sang Papa yang melangkah turun dari mobil.
“Iya, apa kalian tidak ingin melihat Oma Oma.” Ucap Vadeo dan selanjutnya melangkah bersama Alexandria menuju tempat petugas penerimaan tamu. Dan terlihat semua petugas menerima kedatangan Vadeo dan Alexandria dengan ramah, penuh hormat dan sangat sopan. Tidak lama kemudian Bang Bule Vincent dan Ixora pun menyusul Vadeo dan Alexandria.
“Tidak ada Nyonya Jonathan dan Nyonya William di rumah sakit ini Tuan.” Ucap petugas rumah sakit itu, saat para tamu itu menanyakan di mana Nyonya Jonathan dan Nyonya William.
“Benar tidak ada pasien atas nama Nyonya Jonathan dan Nyonya William?” tanya Vadeo lagi.
“Benar Tuan.” Jawab petugas rumah sakit itu.
“Apa mereka belum sampai di sini.” Gumam Vadeo lalu dia mengambil hand phone dari saku kemejanya. Bang Bule Vincent pun memgambil hand phone dari saku celana cargonya. Mereka berdua menelepon pengawal Nyonya Jonathan dan Nyonya William. Kali ini panggilan mereka berdua diterima dan mereka mengatakan jika berada di guest house dan kedua Nyonya berada di dalam rumah.
“Hmmm benar yang dikatakan Aca.” Gumam Vadeo dalam hati lalu dia membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari gedung rumah sakit itu untuk menuju ke mobil yang masih berhenti di depan pintu masuk rumah sakit.
Sementara itu di rumah Vadeo dan Alexandria. Nyonya Jonathan dan Nyonya William sudah berada di dalam kamarnya masing masing. Mereka berdua sudah mandi dengan air hangat dan kini sudah memakai bath robe dan masing masing sedang menghubungi suaminya.
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi oleh keluarga Vadeo dan Bang Bule Vincent pun sudah masuk ke halaman rumah Vadeo dan Alexandria. Mereka semua segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah untuk menemui Oma Oma. Mereka segera berjalan menuju ke lift agar cepat sampai ke kamar Oma Oma di lantai tiga. Valexa dan Deondria digendong oleh Vadeo dan Bang Bule Vincent. Dan sesaat kemudian....
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
Vadeo mengetuk ngetuk pintu kamar Nyonya Jonathan dan Bang Bule Vincent mengetuk ngetuk pintu kamar Nyonya William. Sesaat kemudian kedua pintu kamar itu terbuka dan muncul sosok Nyonya Jonathan dan Nyonya William di depan pintu kamar mereka.
“Ma, bagaimana ceritanya sampai pingsan?” tanya Vadeo.
“Siapa yang pingsan?” jawab Nyonya Jonathan malah balik bertanya. Dan Nyonya Jonathan segera menciumi Valexa yang digendong oleh Vadeo kemudian mengambil Valexa untuk digendongnya dan dia mengajak Valexa untuk bercakap cakap agar Vadeo tidak menanyakan apa apa pada dirinya.
“O ya Aca dan Aya mau punya adik ya?” tanya Nyonya Jonathan sambil menatap pada Valexa yang digendongnya. Valexa pun tersenyum dan mengangguk.
“Oma Kucing ... ayo ngobrol di dalam kamarku. Kita pikirkan siapa nama adik Aca dan Aya. Vadeo kalau buat nama nanti hanya putar puter nama dia dan Alexa saja..” ucap Nyonya Jonathan dengan keras sambil menoleh pada besan perempuannya yang juga sedang menggendong cucu satunya. Mereka para perempuan pun akhirnya masuk ke dalam kamar Nyonya Jonathan dan saling melepas rindu di sana.
Sedangkan Vadeo dan Bang Bule Vincent akhirnya melangkah menuju ke sofa yang ada di dekat mereka. Dan mereka berdua pun duduk di situ.
“Oma Oma itu pasti malu jika kita tahu mereka pingsan karena ular besar itu.” Ucap Vadeo
“He... he... padahal kita semua juga pingsan.” Ucap Bang Bule Vincent sambil tertawa kecil.
__ADS_1
“Kalau aku beda Bul, pertama kali lihat aku tidak pingsan, hanya takut setengah mati. Tapi aku pingsan saat Twins bermain main dengan ular besar itu, coba apa tidak takut kepala kedua anakku dijilat jilat hiiiii aku pikir saat itu Aca dan Aya akan dimakan hidup hidup oleh ular besar itu. Sudah habis seluruh hatiku saat itu mungkin jantungku saat itu juga sudah berhenti detak nya. Kata Richardo ular besar itu menjilat jilat juga wajahku saat aku pingsan.” Ucap Vadeo dengan nada serius, Bang Bule Vincent pun juga mendengarkan dengan serius.
“O ya Bul. Aku punya rencana untuk melakukan rehab pada bangunan istana bawah tanah itu. Agar menjadi bersih, udara segar bisa masuk dan juga keluarga kita bisa masuk tanpa susah payah. Oma Oma dan isteri kita pasti sangat takut jika jalan ada tikus tikus liar yang besar besar, landak tanah dan binatang binatang liar lainnya.” Ucap Vadeo selanjutnya masih dengan nada serius dan menatap wajah Bang Bule Vincent
“Ide bagus Bro, aku setuju tetapi tetap jangan kamu ubah ubah bangunan asli itu, itu masih bagus dan masih kokoh hanya kotor saja oleh debu.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius pula
“Iya Bul, tapi masalahnya ular besar itu apa setuju. Aku takut jika dia tidak setuju malah makan korban. Entah itu korban para pekerja atau keluarga kita.” Ucap Vadeo selanjutnya.
“Ya sudah izin saja sana.” Ucap Bang Bule Vincent sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju ke mini pantry yang ada di lantai tiga itu. Tampak Bang Bule Vincent membuat dua cangkir kopi lalu dia berjalan lagi menuju ke tempat semula.
“Iya cari waktu yang tepat aku akan ajak Aca dan Aya ke sana, hanya dua bocah itu yang bisa bercakap cakap dengan ular besar itu.” Ucap Vadeo saat Bang Bule Vincent sudah berdiri di dekatnya. Bang Bule Vincent pun memberikan satu cangkir kopi buat Vadeo, lalu dia kembali duduk di sofa sambil menyesap kopi dari dalam cangkir nya.
“Seperti nya Alexa dan Twins masih ingin pergi ke pantai. Jadi setelah kita pergi ke pantai. Baru kita ajak twins ke bukit pohon asam itu untuk menemui ular besar.” Ucap Vadeo setelah menyesap kopinya juga.
“Sepertinya yang ingin ke pantai tidak hanya Alexa dan Twins... ha... ha... ” ucap Bang Bule Vincent sambil tertawa.
Saat Bang Bule Vincent masih tertawa, hand phone yang ada di saku Vadeo berdering lagi. Saat dilihat di layarnya tertera nama Sang Papa Jo melakukan panggilan suara.
“Papa lagi, ada apa sih?” gumam Vadeo lalu menggeser tombol hijau.
“Deo, pulau Alexandria sudah aman, Oma Oma sudah sehat. Kamu segera pulang dan urus lagi Jonathan Co!” suara Tuan Jonathan lalu sambungan panggilan suara itu terputus.
__ADS_1
Vadeo pun kini mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi balik Sang Papa.