Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 40. Test Untuk si Kembar


__ADS_3

Melihat sang Papa yang sedang melow Deondria yang berada di dalam pangkuan Vadeo langsung memeluk tubuh sang Papa nya itu, kepala nya pun di tempelkan di dada bidang Sang Papa. Sedang kan Valexa yang berada du pangkuan Bang Bule tangan nya terulur dan mengusap usap lengan Sang Papa.


“Siapa orang itu?” tanya Vadeo lagi sebab Bang Bule pun turut hanyut dalam suasana melow.


“Amelia.” Jawab Bang Bule dengan singkat.


“Aku tidak ingat. Aku setelah lulus kan langsung ke luar negeri. Dan aku tidak begitu memperhatikan para perempuan saat reuni dan tidak juga melihat akun akun mereka.” Ucao Vadeo sambil tangannya memeluk tubuh mungil Deondria yang masih berada di dalam pangkuannya.


“Hmmm memang hanya ada Alexa di hati mu.” Gumam Bang Bule dengan masih memangku Valexa tangannya terulur membuka lap top yang berada di atas meja, dia ingin memperlihatkan foto Amelia.


“Tan atuuu.... yan ada di ati Papa...” ucap Deondria sambil mempererat pelukan nya pada sang Papa kepala nya pun ditempelkan lagi di dada bidang Sang Papa. Vadeo terlihat mencium puncak kepala Deondria.


“Atttuuuu duda..” suara Valexa tidak mau kalah.


“Iya Sayang ...” ucap Vadeo lalu membelai rambut kepala Valexa


“Terus apa mau nya Amelia dengan menyamar dan bekerja di dalam Mansion Jonathan.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil memperhatikan layar lap top Bang Bule.


“Dia selalu melakukan stalking pada kamu dan Alexa. Dia menyamar dan masuk ke dalam mansion, mau apa lagi selain berusaha untuk menggoda kamu. Kamu tahu kan dia datang di saat Alexa pergi .” jawab Bang Bule, lalu dia memperlihatkan foto Amelia.


“Kedua anak mu tadi langsung menunjuk foto itu. Coba kamu amati apa sama dengan Atikah.” Ucap Bang Bule sambil memperbesar foto wajah Amelia. Tampak Vadeo mengangguk angguk kan kepala nya.


“Hmmm hari ini juga aku suruh dia angkat kaki dari Mansion Jonathan.” Ucap Vadeo selanjutnya dengan nada emosi.


“Dangan!” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil menatap wajah Sang Papa.


“Jangan Deo.” Ucap Bang Bule juga.


“Apa maksud kalian?” tanya Vadeo tidak habis pikir ada orang berniat jahat kok tidak boleh dia mengusirnya.

__ADS_1


“Alexa bisa marah kalau tahu ada orang yang berusaha untuk menggoda berada di dalam Mansion. Dan tidak aku suruh pergi.” Ucap Vadeo selanjutnya.


“Deo, Amelia terindikasi terlibat dalam jaringan pengedaran narkoba. Kita tanggap dia, akan tetapi harus cukup bukti. Saat ini belum ada bukti.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menatap Vadeo. Valexa dan Deondria pun tampak menatap Sang Papa. Mereka berdua tadi sudah diberi tahu oleh Bang Bule tentang kejahatan Amelia dan tugas tugas mereka berdua.


“Hah? Itu semakin berbahaya Bul!” ucap Vadeo dengan nada kaget dan khawatir.


“Tenang Bro, aku akan jamin tidak akan membahayakan keluarga mu dan para pelayan Mansion Jonathan.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menepuk paha Vadeo untuk memberikan keyakinan kalau semua akan aman dan baik baik saja.


“Tayena ada atu tan Aya Pa.” Ucap Valexa sambil membusungkan dada mungil nya dengan bangga.


“Hah? Apa apa an lagi?” tanya Vadeo sambil mengeryitkan dahi.


“Deo, Valexa dan Deondria memiliki intuisi dan insting yang sangat tajam itu sangat dibutuhkan di tim kami.” Ucap Bang Bule Vincent memberi pengertian pada Vadeo


“Aku masukkan Valexa dan Deondria di dalam tim kerja kami. Semua sudah setuju, namun.....” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya akan tetapi kalimat Bang Bule Vincent belum selesai sudah disaut oleh Vadeo.


“Aku Papa nya yang tidak setuju.” Saut Vadeo dengan nada tegas.


“Deo, tapi kemampuan mereka berdua melebihi orang dewasa.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius dengan raut wajah yang berekspresi memohon.


“Termasuk orang tua nya.” Ucap Bang Bule selanjutnya dengan senyum di bibir nya.


“Hi... Hi... Hi... Hi...” tawa kecil Valexa dan Deondria, kedua bocah itu menutup mulut mungil nya dengan telapak tangan nya yang juga imut imut.


“Kalian berdua malah menertawakan Papa ya?” ucap Vadeo sambil menatap wajah imut kedua anak nya yang mulut nya masih ditutup oleh telapak tangan mereka karena masih tertawa kecil.


“Deo, tolong Izinkan mereka membantu tim kami. Ini juga kesempatan buat Valexa dan Deondria untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki agar bisa bermanfaat buat kebaikan memberantas kejahatan. Semakin potensi mereka itu digunakan akan semakin tajam intuisi dan insting yang mereka miliki.” Ucap Bang Bule dengan nada serius.


“Sayang tadi mereka datang sedikit terlambat, tadi teman tim datang ke sini dia pulang, Valexa dan Deondria baru datang. Jika dia tadi bisa bertemu langsung dengan Valexa dan Deondria pasti akan sangat senang. Tapi dia sudah setuju saat aku beri tahu pengalaman dari Valexa dan Deondria. Tapi dia juga akan menguji Valexa dan Deondria secara off line.” Ucap Bang Bule sambil menatap wajah Vadeo dengan serius.

__ADS_1


“Tadi ujian on line mereka berdua sudah lulus.” Ucap Bang Bule lagi


“Hah pakai ujian masuk juga?” tanya Vadeo tampak heran.


“Iya Bro.” Jawab Bang Bule singkat dan masih berharap Vadeo mengizinkan Valexa dan Deondria ikut masuk tim misi nya.


“Tadi tu daya daya ada Oma tucing Pa, dadi tita teyambat datan... “ ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.


“Kapan test off line nya?” tanya Vadeo yang sudah mulai melunak nada nya, dia pun kepo ingin mengetahui sejauh mana potensi dan kemampuan anak anak nya.


“Lebih cepat lebih baik.” Jawab Bang Bule Vincent.


Dan di saat Bang Bule baru saja menjawab pertanyaan Vadeo, terdengar suara dering hand phone yang berada di dalam saku jas Vadeo. Deondria yang masih di dalam pangkuan Vadeo pun segera mengambil hand phone sang Papa yang masih berdering.


“Oma Tucing.” Suara Deondria saat melihat foto profil Nyonya William melakukan panggilan video, jari mungil Deondria pun segera menekan tombol hijau.


“Hayyyyyo Oma Tucing...” suara Deondria dengan lantang.


“Hai anak kucing, kalian itu kenapa tidak pulang pulang. Oma masih menunggu kalian makan siang di sini. Ini Oma hanya sendirian di meja makan. Papa mu disuruh menjemput kalian malah juga tidak segera membawa kalian pulang. Kalian itu sudah makan siang belum? Ini Oma sudah lapar....” suara Nyonya William dari balik telepon Vadeo, Deondria pun kini mengulurkan hand phone itu pada sang Papa.


“Hallo Ma.” Suara Vadeo yang sudah memegang hand phone nya sambil menatap layar yang tampak wajah Mama Mertuanya.


“Hah aku bicara panjang kali lebar tadi tidak kalian dengar? Apa aku harus mengulangi lagi?” suara Nyonya William dengan nada tinggi.


“Kalau Oma sudah lapar silahkan Oma makan lebih dulu, jangan sampai Oma sakit gara gara menunggu kami Ma. Ini masih ada hal penting yang harus kami bicarakan.” Ucap Vadeo dengan sopan.


“Hah ini pasti gara gara mantu ku Bule itu.” Ucap Nyonya William dengan suara keras sampai Bang Bule yang duduk du samping Vadeo pun juga ikut mendengar.


“He... he... gara gara Bule juga kan yang menyelamatkan Mama dari penculik tambun itu.” Ucap Bang Bule sambil sedikit mendekatkan wajah nya di hand phone Vadeo. Dan seketika sambungan panggilan video itu pun terputus.

__ADS_1


“Jadi kapan harus ikut tes off line nya?” tanya Vadeo sambil menaruh hand phone nya lagi di saku jas nya. Tampak Valexa dan Deondria mata nya berkedip kedip mereka juga ingin tahu kapan waktunya mereka harus ikut test secara off line.


....


__ADS_2