
“Tidak Papa....” ucap mereka berdua yang kini duduk serius sambil memegang hand phone Alexandria yang layarnya sudah menampilkan menu siap mengerjakan sebuah gambar.
Tuan Rangga masih terlihat bengong dan heran menatap Valexa dan Deondria.
“Mari Tuan kita mulai lagi. Mereka berdua bisa menggambar. Maaf di sini tidak ada kertas dan pensil biar Aya menggambar lewat aplikasi.” Ucap Vadeo dengan nada sopan.
“Oooo iya iya...” ucap Tuan Rangga yang masih tampak ragu ragu. Lalu dia mengarahkan lagi kaca pembesar nya pada lembar manuskrip yang ada kode kode nya.
Tuan Rangga lalu membaca kode kode yang ada di dalam manuskrip. Vadeo dan Bang Bule Vincent tampak bingung. Sedangkan Deondria terlihat jari mungilnya lincah mengusap usap dan menekan nekan layar hand phone Alexandria. Valexa pun tampak membantu saudara kembarnya. Alexandria tampak mengamati layar hand phone yang lama lama tergambar sebuah peta. Sedangkan Bang Bule Vincent tetap menulis apa yang diucapkan oleh Tuan Rangga yang kosa kata nya seputaran kata titik dan arah arah mata angin.
Dan terakhir Tuan Rangga menyebutkan Pusat kerajaan.
“Sudah, gambar apa yang terlihat?” tanya Tuan Rangga sambil menatap Deondria.
“Peta pulau Alexandria. “ jawab Alexandria sambil tersenyum lalu mencium puncak kepala kedua anak nya.
Vadeo dan Bang Bule Vincent yang penasaran lalu segera bangkit dari duduk nya akan mendekat ke arah ke dua anaknya untuk melihat gambar yang sudah jadi.
“Cudah atu tiyim te hang pong Papa tan Ante Pin ( sudah aku kirim ke hand phone Papa dan Uncle Vin).” Ucap Valexa.
Bang Bule Vincent dan Vadeo pun lalu kembali ke tempat duduknya dan membuka gambar kiriman dari nomor hand phone Alexandria.
“Pusat kerajaan ada di bukit pohon asam itu.” Ucap Vadeo sambil menatap kedua anak nya. Karena Vadeo pun sudah mengenali letak letak wilayah yang berada di pulau Alexandria. Valexa dan Deondria pun mengangguk dengan mantap.
“Tuan mengenali pohon asam yang ada di dalam cerita manuskrip ini?” tanya Tuan Rangga sambil menatap serius wajah Vadeo.
“Iya Tuan pohon asam itu masih hidup sampai sekarang. Pohon itu sangat besar dan tinggi, buah nya lebat dan besar besar.” Jawab Vadeo
__ADS_1
“Dan ular besar itu pun masih ada.” Ucap Vadeo kemudian.
“Hah?” teriak Alexandria dengan nada dan ekspresi kaget.
“Sayang dia sangat baik pada kita.” Ucap Vadeo sambil menatap wajah istrinya yang masih tampak kaget.
“Kenapa Papa tidak menceritakan pada ku kalau di bukit itu ada ular besar.” Ucap Alexandria sambil memeluk erat kedua anaknya.
“Tayo ceyita te Mama pati tita ga boyeh te butit itu.. (kalau cerita ke Mama pasti kita ga boleh ke bukit itu...).” ucap Valexa dan Deondria.
“Aku juga tidak diberi tahu Al..” saut Bang Bule Vincent
“Dia sangat baik pada kita Sayang... Kamu dengar tadi kan jika ular besar itu terus mengeluarkan air mata. Mungkin kehadiran kita bisa menghibur diri nya. Saat aku lihat dia sudah tidak mengeluarkan air mata kok.” Ucap Vadeo dengan nada serius sambil menatap istrinya.
“Apa masih ada lembar selanjutnya?” tanya Alexandria yang kini juga ikut kepo dengan isi manuskrip itu.
Tuan Rangga pun lalu mengarahkan kaca pembesar itu pada lembar berikutnya. Dan melanjutkan membaca dan menerjemahkan nya.
Beberapa tahun kemudian pulau itu masih tampak kering kerontang dan hanya ada pohon asam yang tumbuh subur. Orang orang tidak ada yang berani lagi datang ke pulau Kemakmuran yang lambat laun para nelayan mengabarkan pulau itu terkenal angker dan berita yang berkembang sang raja Mahadiraja menjelma menjadi ular besar dan Sang permaisuri menjelma menjadi pohon asam. Mereka berdua menjaga dan melindungi kedua Puterinya.
Aku penasihat kerajaan, menulis manuskrip ini sebagai darma bakti dan permohonan maaf ku pada Raja Mahadiraja kerajaan Asasta.
Tuan Rangga lalu mendongakkan wajahnya menatap orang orang yang ada di dalam ruangan itu.
“Raja dan permaisuri itu masih hidup namun dalam wujud ular besar dan pohon asam?” tanya Bang Bule Vincent
“Entahlah.” Gumam Vadeo.
__ADS_1
“Itu cerita yang berkembang di masyarakat sekitarnya. Percaya atau tidak percaya terserah pada kita. Yang utama kita tetap menjaga alam mencintai setiap makhluk hidup ciptaan Allah.” Ucap Tuan Rangga sambil menyerahkan kaca pembesar itu pada Juna.
“Tuan, saya sudah selesai menerjemahkan manuskrip ini, bagaimana jika saya dan cucu saya pulang.” Ucap Tuan Rangga sambil menyandarkan punggungnya dia terlihat tampak sangat lelah.
“Tuan, saya mohon Tuan tinggal di sini sampai kondisi aman. Karena banyak yang mencari manuskrip ini termasuk orang yang bisa membaca manuskrip ini.” Ucap Vadeo lalu tampak dia bangkit berdiri menuju ke telepon yang tertempel di dinding ruang itu.
“Tuan Rangga bisa istirahat sekarang.” Ucap Alexandria, sementara Vadeo tampak menghubungi perawat yang ditugaskan untuk menjaga Tuan Rangga agar segera datang ke paviliun tamu.
Sementara itu di belahan bumi lain kapal Tuan Njun Liong terus berlayar menuju ke Asia. Richie tampak senang dia sudah tidak sabar untuk mendapatkan harta karun itu dan juga membalas dendam pada Alexandria dan Vadeo.
Kini Richie berada di dalam kamarnya seorang diri sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur Richie tampak berpikir pikir.
“Hmmm aku ingin melihat peta harta karun itu kenapa Tuan Njun Liong sangat pelit sekali.” Gumam Richie dalam hati sebab selama ini Tuan Njun Liong hanya melihat sendiri peta harta karun itu dan menyembunyikan peta itu di dalam baju yang dia pakai.
“Baru peta nya saja pelit. Pasti nanti juga akan pelit dengan harta karun yang didapat.” Gumam Richie lagi sambil berpikir pikir.
“Apa aku curi saja peta nya. Ah... tapi kalau ketahuan aku bisa dilempar dari kapal dan dibuang ke laut.” Gumam Richie lagi.
“Hmmm besok saja kalau sudah mendarat aku atur strategi. Aku coba sekarang mencari tahu siapa anak buah Tuan Njun Liong yang bisa diajak kerja sama.” Ucap Richie lalu dia bangkit dari tidurnya dan melangkah keluar dari kamar nya untuk bergabung dengan anak buah Tuan Njun Liong untuk mendengarkan suara mereka.
“Hmmm kini bukan saat nya bergabung dengan wanita wanita penggoda itu, sekarang aku harus mikir untuk mendapatkan harta karun yang banyak.” Gumam Richie sambil membuka pintu kamarnya yang berada di dalam kapal besar.
Akan tetapi saat pintu dibuka sudah ada sosok Tuan Njun Liong berdiri di depan pintu kamar Richie. Mendadak keringat dingin Richie keluar dari pori pori tubuh nya.
“Apa Tuan Njun Liong mendengar rencana ku?” tanya Richie pada dirinya sendiri di dalam hati.
“Tuan, ada perlu apa?” tanya Richie sambil menatap wajah Tuan Njun Liong yang tampak tegang.
__ADS_1
...