
Saat Atikah masih berpikir pikir lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau. Klakson mobil mobil di belakang pun mulai berbunyi kini bukan hanya klakson dari mobil yang dikemudikan oleh Pak Sopir senior saja, akan tetapi mobil mobil lainnya juga sudah ribut membunyikan klakson. Sebab mobil box yang dikemudikan oleh Atikah itu, belum juga berjalan.
“Neng ayo jalan, jangan melamun.” Teriak pelayan bagian logistik yang duduk di samping Atikah. Atikah pun langsung melajukan mobil nya, sambil masih berpikir pikir. Se saat mobil yang membawa Valexa dan Deondria sudah mendahului mobil box yang dikemudikan oleh Atikah.
“Hmmm pak sopir senior begitu gesit dalam membawa mobil dan juga mobil nya dengan pengaman baik. Kalau aku gagal membawa kabur dua anak itu. Malah aku berurusan dengan polisi. Jadi gagal total lagi.” Gumam Atikah dalam hati saat melihat mobil yang membawa Valexa dan Deondria sudah melesat jauh dari mobil box yang dia kemudian.
“Hmmm terima nasib dulu. Berpayah payah sekarang bersenang senang kemudian..” gumam Atikah dalam hati dan tidak terasa bibir dia pun tersenyum. Sang pelayan bagian logistik yang sejak tadi mengamati tampak mengeryitkan dahi nya melihat Atikah senyum senyum sendiri yang sebelumnya tampak wajah nya menegang.
“Kamu sehat kan?” tanya sang pelayan bagian logistik itu. Atikah pun hanya diam saja dan mobil terus melaju menuju ke pasar tradisional yang jalur nya sudah berbeda dengan jalur yang dilalui oleh mobil yang membawa Valexa dan Deondria.
Dan benar sesampai di pasar tradisional Atikah tidak boleh menunggu di dalam mobil. Dia harus ikut sang pelayan bagian logistik dan ikut membantu membawa barang belanjaan jika saat tidak ada tukang angkut pemilik kios nya. Dan mereka berdua pun terus berkeliling untuk membeli segala kebutuhan yang sudah dicatat oleh pelayan bagian logistik
“Hmmm apa Nyonya Jonathan sengaja membuat sengsara diri ku atau ini kelakuan pelayan bertubuh gempal itu.” Gumam Atikah sambil kedua tangannya membawa belanjaan yang lumayan berat. Bibir nya pun terlihat hanya cemberut saja tidak ada lagi lengkungan senyuman. Atikah sudah merasakan tubuhnya pegal pegal. Dia sudah berkali kali bolak balik menuju ke mobil untuk menaruh barang belanjaan. Meskipun juga ada sebagian barang barang yang dibawa oleh kuli angkut. Akan tetapi tetap saja Atikah merasakan kecapekan.
“Sudah ayo, ini yang terakhir. Aku tahu kamu sudah lelah.” Ucap sang pelayan bagian logistik yang dia pun juga membawa barang belanjaan kiri kanan.
“Aku kasih hadiah es cincau nanti beli di depan pasar he.. he...” ucap pelayan bagian logistik sambil tertawa.
Sementara itu, Valexa dan Deondria di tempat play group nya tampak bersemangat riang gembira dan tidak ada ekspresi bibir cemberut karena bosan, dalam mengikuti semua jadwal pelajaran dan permainan di hari itu. Mereka berdua ingin menunjukkan pada Richardo kalau mereka adalah anak anak yang nurut pada guru dan tidak malas, meskipun Richardo menunggu mereka di luar kelas.
Dan waktu pun terus berlalu. Acara sekolah Valexa dan Deondria pun sudah usai. Pak sopir senior juga menunggu mereka berdua bersama Richardo.
__ADS_1
“Atu puyang duyu ya.... “ teriak mereka berdua pada teman temannya yang masih menunggu jemputan. Mereka berdua pun berjalan dengan cepat keluar dari ruang kelas nya. Tidak lupa mereka berdua pamit pada Ibu Guru, Ibu Guru mereka yang masih muda itu pun turut mengantar mereka berdua sebab ingin melihat wajah pengawal si kembar yang tampan bagai oppa oppa korea dan memiliki tubuh yang atletis.
“Ibu Duyu mau tenal cama Om Yicado?” tanya Deondria dengan senyum menggoda, dan Ibu Guru itu pun tampak tersenyum tersipu malu.
“Om Yicado tu miyik atu tan Aya.. Bu... Bu Duyu boyeh tenal tapi ndak boyeh cuka ya..” ucap Valexa yang cemburu jika ada perempuan dekat dekat dengan Richardo.
Richardo yang diomongin tampak berjalan mendekati Valexa dan Deondria yang sudah berjalan keluar dari ruang kelas. Ibu Guru yang masih tersenyum dengan ucapan Valexa pun berhenti melangkahkan kaki nya.
“Terima kasih Bu.” Ucap Richardo pada Ibu Guru sambil kedua tangannya memegang bahu Valexa dan Deondria
“Sama sama Tuan.” Jawab Ibu Guru sambil tersenyum dan memandang wajah tampan Richardo.
Dua bocah itu pun tersenyum dan melambaikan tangannya pada Ibu Guru yang masih berdiri di depan pintu kelas. Mereka bertiga pun segera masuk ke dalam mobil. Pak sopir senior yang sudah menyalakan mesin mobil pun segera menjalankan mobil meninggalkan play group itu.
Mobil terus melaju dan beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki mansion Jonathan. Richardo masih terus menemani Valexa dan Deondria turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam mansion. Sementara itu Pak Sopir senior melangkah menuju ke gedung tempat ruang kerja nya berada.
Saat sampai di depan gedung tampak Atikah duduk beristirahat di kursi teras seorang diri. Dia masih meratapi nasib nya yang menjadi sopir pelayan plus kuli angkut.
“Gimana kerja pertama kamu Neng?” tanya Pak Sopir senior yang melihat wajah Atikah tampak lelah dan jam makan siang pun belum juga tiba.
“Lumayan Pak, tapi ya gimana lagi namanya cari rejeki.” Ucap Atikah dengan wajah memelas.
__ADS_1
“Eh Pak bisa tidak mengantar saya ke kost untuk ambil baju saya, saya mau menginap di sini sudah dapat kamar dari Ibu kepala pelayan.” Ucap Atikah kemudian yang berusaha untuk bisa masuk ke dalam mobil yang biasa ditumpangi oleh Valexa dan Deondria.
“Kenapa kamu tidak saja naik ojek on line dan kalau kamu mau bawa mobil box itu juga boleh tetapi jangan sendirian harus ditemani oleh salah satu pelayan senior.” Ucap Pak Sopir senior sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Atikah.
“Masalahnya semua pelayan senior sibuk Pak.” Ucap Atikah dengan nada serius.
“Ya sudah pakai ojek on line saja. Aku mau istirahat nanti aku masih ada tugas mengantar Nona Nona Kecil.” Ucap Pak Sopir senior lalu segera melangkah masuk ke dalam gedung itu dan meninggalkan Atikah yang duduk seorang diri di kursi teras itu
“Hmmm harus nya aku yang mengantar Nona Nona kecil itu... terus gimana cara nya aku bisa membawa kabur mereka jika aku malah menjadi sopir pelayan.” Gumam Atikah dalam hati sambil terus berpikir pikir untuk mencari cara.
Di saat Atikah masih berpikir pikir tampak seorang sopir yang dulu bertugas mengantar pelayan dan kini naik jabatan menjadi sopir Nyonya Jonathan berjalan tergopoh gopoh dari dalam gedung.
“Pak mau kemana?” tanya Atikah yang berusaha untuk mencari bantuan untuk mengantar ke tempat kost nya untuk mengambil baju baju nya.
“Ooo dapat tugas menyenangkan Neng. Mengantar Tuan dan Nyonya ke villa mereka berdua mau menginap di sana. Dan saya pun jadi ikut tidur di villa.” Ucap Pak Sopir itu dan selanjutnya terus melangkah menuju ke garasi mobil. Nyonya Jonathan memang mau pergi ke villa setelah kedua cucu nya pulang dari sekolah terlebih dahulu agar mereka berdua tidak mencari nya sepulang sekolah bila tidak melihat Oma dan Opa nya, meskipun sebenarnya Tuan William mengajak pergi ke villa sejak pagi sehabis Vadeo berangkat kerja.
Atikah yang mendengar tampak tersenyum licik.
“Hmmm Tuan dan Nyonya Jonathan pergi, Alexandria juga pergi. Di dalam Mansion itu hanya ada Tuan Vadeo dan kedua anak nya. Itu kesempatan buat ku untuk menggoda Tuan Vadeo.” Gumam Atikah dalam hati. Dia pun langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju ke ruang kerja Ibu kepala pelayan untuk izin pergi ke tempat kost nya guna mengambil baju baju, dan dia akan mulai tidur di dalam Mansion Jonathan.
“Hmmmm aku harus mencari cara agar bisa masuk ke dalam Mansion utama nanti.” Gumam Atikah dalam hati...
__ADS_1