
Alexandria tersenyum menatap suaminya yang berjalan cepat dengan cepat menuju ke pintu kaca penghubung dengan kamar kedua anaknya. Sementara itu Vadeo saat sudah di depan pintu dia mengecek kunci pintu, dan ternyata sudah dikunci. Korden pun juga sudah menutupi dengan rapat daun pintu kaca itu. Akan tetapi untuk memastikan agar acara dia mengunjungi anak di dalam perutnya aman tidak ada gangguan . Vadeo membuka sedikit gorden itu untuk melihat Valexa dan Deondria sedang melakukan apa. Dan saat Vadeo mengintip kamar kedua anaknya itu...
“Hmmm mereka sudah tidur.. syukurlah.” Gumam Vadeo sambil tersenyum lalu menutup gorden tebal itu dengan rapat rapat lagi. Dan dia segera membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Vadeo melangkah dengan cepat menuju ke sofa tampak Alexandria yang masih berbaring di sofa tersenyum menatap dirinya.
“Kamu sudah kunci pintu itu tadi ya ..” ucap Vadeo sambil terus melangkah mendekati istrinya.
“Dipastikan kalau sudah terkunci kan lebih tenang.” Ucap Alexandria dan Vadeo yang sudah berada di dekat sofa pun lalu menggendong tubuh Alexandria dan dibawanya menuju ke tempat tidur yang luas agar dia lebih leluasa dalam menengok anaknya.
Sesampai di dekat tempat tidur Vadeo mencium lembut bibir istrinya dan dia segera membaringkan pelan pelan tubuh Alexandria. Vadeo pun segera naik ke atas tempat tidur. Dia ciumi wajah Alexandria dengan rasa cinta dan kerinduan yang menggebu gebu. Alexandria pun membalas hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Tangan tangan mereka pun sudah saling raba dan sentuh. Ciuman Vadeo pun kini sudah tidak lagi pada wajah Alexandria akan tetapi mulai turun ke leher jenjang Alexandria yang putih mulus dan jari jari Alexandria mengusap usap punggung Vadeo bagai suatu kode agar Vadeo semakin turun ciumannya.
Akan tetapi tiba tiba terdengar suara dering hand phone di dalam kamar mereka. Vadeo tidak memedulikan, ciuman Vadeo semakin turun ke tubuh istrinya. Vadeo pun sudah membuka kancing baju piama Alexandria. Akan tetapi suara dering hand phone itu tidak juga berhenti.
“Pa ambil hand phone dulu lihat siapa yang menelepon.” Ucap lirih Alexandria karena dia jadi terganggu tidak lagi bisa nyaman menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan.
“Hmmm kenapa kita tadi tidak mematikan hand phone dulu.” Ucap Vadeo lalu mau tak mau dia melangkah turun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
“Hand phone ku sudah off Pa, itu hand phone punya Papa..” ucap Alexandria menatap sosok suaminya dengan tatapan mata yang tampak sayu.
Vadeo segera melangkah menuju ke meja yang berada di depan sofa, dia segera mengambil hand phone miliknya yang berdering dan berkedip kedip. Saat dilihat ternyata adik iparnya sedang melakukan panggilan suara.
“Dealova.” Gumam Vadeo sambil menggeser tombol hijau.
“Kak Deo!” suara cempreng Dealova dengan lantang.
“Hah.. kamu mengganggu saja. Dua keponakan kamu sudah tidur manis malah kamu yang mengganggu.” Ucap Vadeo dengan nada kesal.
“Kak Deo kalian bawa ke mana pengawalku. Aku telepon Bang Bule dan Kak Ixora hand phone mereka mati.” Suara Dealova. Bang Bule Vincent dan Ixora kemungkinan juga sedang melepas rindu dan hand phone mereka sedang dimatikan agar tidak terganggu.
“Masalahnya ada lukisanku yang dia taruh di dalam kamarnya. Padahal harus diikutkan pameran lukisan itu. Kunci kamar tidak tahu ditaruh di mana atau dia bawa. Aku hubungi hand phone dia mati.” Ucap Dealova dengan nada serius
“Kamu hubungi Nona Eveline.” Ucap Vadeo yang kini dia pun paham jika keempat pemuda tampan utusan Bang Bule Vincent itu sudah menggunakan nomor hand phone baru.
“Aku tidak punya nomor hand phone nya.” Ucap Dealova, dan Vadeo pun segera memutus sambungan panggilan suara itu lalu segera mengirim nomor kontak Nona Eveline pada Dealova. Dan selanjutnya dia mematikan hand phone nya. Setelah mematikan hand phone Vadeo segera melangkah meninggalkan meja itu, akan tetapi dia tidak menuju ke tempat tidur akan tetapi menuju ke pintu kamar. Alexandria yang masih menunggu di tempat tidur terlihat heran.
__ADS_1
“Papa mau ke mana?” tanya Alexandria sambil menatap sosok suaminya yang melangkah menuju ke pintu kamar. Dan Vadeo hanya diam saja.
Dan saat sudah sampai di depan pintu..
“Memastikan pintu ini sudah terkunci dengan rapat.” Ucap Vadeo sambil memutar kunci untuk memastikan pintu sudah terkunci dengan rapat. Dan selanjutnya dia melangkah dengan cepat menuju ke tempat tidur.
“Sekarang tidak boleh lagi ada yang mengganggu.” Ucap Vadeo sambil terus melompat ke atas tempat tidur sambil mencumbui istrinya melanjutkan kegiatannya yang dua kali tertunda. Alexandria tertawa kecil dan seterusnya mereka berdua saling mencumbu saling membelai berbagi kasih dan cinta. Vadeo melakukan pelepasan dengan hati hati karena ingat akan buah hati yang masih berada di dalam rahim istrinya.
Waktu pun terus berlalu, dan hari hari pun terus berganti. Mamah Mimi sejenak melupakan dua bocah yang akan dibunuh. Dia sibuk menyiapkan diri untuk acara ritual di malam bulan purnama. Dan hingga waktunya pun sudah mulai mendekati.
“Tinggal dua hari lagi...” gumam Mamah Mimi sambil tersenyum menatap wajahnya di pantulan cermin besarnya.
“Aku sekarang memang terlihat lebih muda dan kinclong.” Ucap Mamah Mimi yang sudah melakukan perawatan selama lima hari.
“Rambutku pun sekarang bagai rambut model sampo ha... ha...” ucap Mamah Mimi sambil menyibak rambut panjangnya. Rambutnya pun kini sudah tampak hitam legam lagi karena sudah dicat dengan warna hitam legam seperti keinginan Mamah Mimi. Selain dicat juga dilakukan smoothi dan perawatan lain lainnya.
“Hmmm aku sudah tidak sabar... sekarang aku harus lebih banyak minum jamu kuat.” Ucap Mamah Mimi selanjutnya lalu dia melangkah menuju ke mini bar yang ada di dalam kamar mewahnya itu. Dia ambil satu gelas besar lalu dia buka kulkas kecil yang ada di dalam kamar itu. Dia ambil botol yang berisi susu kuda liar yang sudah dia pesan, dia tuang susu kuda liar itu ke dalam gelas, lalu dia tuang lagi madu hutan tiga sendok, tidak cukup dengan itu. Mamah Mimi pun mengambil telur ayam kampung dan dia ambil kuning telurnya lalu dia masukkan ke dalam gelas itu. Mamah Mimi pun lalu menaburkan lada hitam ke dalam gelas itu. Selanjutnya dia aduk aduk isi gelas itu sampai rata.
__ADS_1
“Hmmm Aku sudah tidak sabar menunggu waktunya tiba.” Gumam Mamah Mimi lalu menegak habis isi di dalam gelas itu. Akan tetapi beberapa saat kemudian mata Mamah Mimi melotot.
....