
“Kakak itu Dokter kok sakit.” Ucap Dealova sambil bangkit berdiri.
“Kamu pikir Dokter itu bukan manusia yang bisa sakit.” Ucap Bang Bule Vincent sambil bangkit berdiri dan membantu isterinya.
“Ya setidaknya bisa mengantisipasi gitu... “ ucap Dealova lagi. Namun tiba tiba... Ixora menutup mulutnya dan berlari menuju ke wastafel terdekat dan...
“Hoek... Hoek... Hoek.. “ suara Ixora saat sudah berada di depan wastafel. Dan Ixora pun mengeluarkan isi di dalam lambungnya.
“Beb... Kamu kenapa?” teriak Bang Bule Vincent yang tampak panik berlari menyusul Ixora.
“Deal kamu ke depan sana, sambut kerabat Jonathan. Dan bilang pada pelayan suruh siapkan jamuan!” teriak Bang Bule Vincent yang sedang memijit mijit punggung Ixora yang masih hoek hoek.
“Yang bener yang mana dulu? Ke depan apa ke belakang?” tanya Dealova dengan ekspresi wajah bingung yang masih berdiri . Bang Bule Vincent tidak menjawab sebab masih sibuk mengurus istrinya. Dan Dealova pun akhirnya berteriak dengan lantang menyuruh para pelayan menyiapkan jamuan dan dia berjalan dengan cepat menuju ke pintu utama Mansion dengan tidak lupa masih membawa raket nyamuk punya Sang Papa, Tuan William.
Se saat Ixora sudah berhenti hoek hoeknya.
“Bang Bule, ke depan sana temani Dealova. Aku ga apa apa. Aku akan ke belakang sebentar biar ga lemes.” Ucap Ixora sambil memutar kran air wastafel.
__ADS_1
“Benar kamu ga apa apa?” tanya Bang Bule Vincent sambil menatap Ixora dengan ekspresi khawatir akan tetapi sebagian hatinya bahagia berharap pusing pusing dan mual nya Sang istri pertanda hamil. Ixora pun menganggukkan kepalanya lalu tangannya yang sudah selesai mematikan kran air menepuk nepuk lengan Bang Bule Vincent pelan.
“It’s okey..” ucap Ixora lalu melangkah menuju ke dapur. Dan bersamaan dengan itu sudah terdengar sayup sayup suara langkah kaki banyak orang dan suara orang orang dari arah ruang tamu . Suara Dealova terdengar dominan menyambut mereka para tamu.
Sementara itu mobil yang ditumpangi oleh keluarga Vadeo masih melintas di jalan raya mengikuti mobil pengantin yang berjalan menuju ke Mansion Jonathan.
“Famili Papa dan Mama Jo sudah sampai Mansion Pa.” Ucap Alexandria yang selalu memantau persiapan acara penyambutan Justin dan keluarga kecilnya.
“Hmmm semoga Boy senang aku juga sudah menyuruh notaris untuk mengurus dokumen dokumen Boy.” Ucap Vadeo sambil menoleh ke arah Alexandria.
“Tapi aku bingung Ma, Boy di belakang namanya di kasih nama Opa kandung nya ga ya?” tanya Vadeo tampak keningnya berkerut sebab Papa nya Justin kelakuannya buruk hingga dibunuh oleh masyarakat adat. Vadeo khawatir jika itu akan mempengaruhi mental Boy ke depannya.
“Kasihan Boy, anak tidak berdosa jadi ikut menanggung resiko karena ulah orang tua.” Gumam Vadeo lirih.
“Makanya Papa jangan macam macam. Awas kalau tergoda Riris lagi, jangan sampai Papa terkena jebakan nya lagi.” Ucap Alexandria lirih namun ada nada kesal.
“Tidak usah diungkit ungkit masa lalu, itu kan karena Justin dan Riris yang sangat licik.” Ucap Vadeo sambil memeluk tubuh Alexandria dari samping.
__ADS_1
“Aku sudah sangat bahagia memiliki gadis kecilku yang aku cari cari dulu, dan aku sudah akan punya empat anak, seluruh hatiku hanya untuk kalian...Hmmm.” ucap Vadeo masih memeluk Alexandria dan tangan satunya mengusap usap perut datar Alexandria. Valexa dan Deondria yang duduk di jok belakang mereka tampak saling pandang dan tersenyum senang.
Mobil terus melaju dan beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki pintu gerbang mansion Jonathan. Dua mobil berjalan pelan pelan menuju ke dekat mansion utama. Tampak beberapa mobil sudah terparkir di sana.
Mobil pengantin pun berhenti lebih dahulu dan setelahnya mobil yang membawa keluarga Vadeo. Sesaat pintu mansion utama pun terbuka lebar. Sosok Bang Bule Vincent dan Dealova berdiri menyambut mereka. Tangan kanan Dealova masih saja memegang raket nyamuk.
Orang orang di dalam dua mobil itu pun keluar dari mobil. Valexa dan Deondria segera berjalan menuju ke mobil yang membawa Boy.
“Boy.... apa kamu baik baik ...” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan. Boy tampak sudah keluar dari mobil dan berdiri dengan tangan mungil nya digandeng oleh Wika. Sedangkan Justin tampak berdiri mematung sambil membawa tas miliknya yang berisi beberapa helai baju dari penjara. Pandangan mata Justin mengitari Mansion Jonathan. Mansion milik Uncle nya yang dulu dia tinggali. Tuan dan Nyonya Jonathan merawat dirinya bagai anak kandungnya sendiri. Hingga dia masuk penjara karena niatnya ingin menguasai harta Jonathan Co, akan tetapi Sang Uncle tetap sering mengunjungi dirinya. Kini pandangan matanya tertuju ke pintu utama Mansion, dia mencari sosok Tuan Jonathan akan tetapi yang dilihat hanya sosok Bang Bule Vincent dan sosok Dealova yang tersenyum lebar sambil membawa raket nyamuk. Apalagi saat Dealova melihat Justin menatapnya, Dealova melambai lambaikan tangannya yang memegang raket nyamuk itu ke arah Justin.
Melihat raket nyamuk di tangan Dealova secara spontan kedua tangan Justin memegang burungnya dan secara spontan pula tas yang dia pegang terjatuh.
BUUK
Bunyi suara tas Justin jatuh.
“Papa... kenapa...?” tanya Boy sambil menatap Sang Papa. Sedangkan Valexa dan Deondria yang sudah berdiri di dekatnya tampak tertawa terkekeh kekeh.
__ADS_1
“Papa kamu tidak apa apa Boy.” Ucap Valexa dan Deondria lalu dua bocah itu menarik tangan Boy dan diajak berjalan masuk ke dalam Mansion.
“Ayo kita macuk... pasti ada banak es klim dan tue tue yan kamu cuka... (Ayo kita masuk pasti ada banyak es krim dan kue kue yang kamu suka).” Ajak Valexa dan Deondria Sementara Boy yang ikut melangkah digandeng oleh Twins masih menoleh melihat Sang Papa yang masih memegangi burungnya dan tampak Vadeo berjalan mendekati Justin.