Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 26. Bahagia Hati Atikah


__ADS_3

“Tidak bisa tidur Zul, rasanya ingin segera pagi hari dan pergi ke Mansion Jonathan.” Ucap Atikah yang memiringkan tubuhnya dan menatap Zulfa yang tidur di tempat tidur satu nya di dalam kamar kost itu.


“Tapi harus tidur kalau kamu tidak tidur bahaya saat kamu besok kerja apalagi kerja pertama kali, bisa langsung dipecat kamu kalau membuat celaka mobil mereka.” Ucap Zulfa dengan kesal sebab dia pun juga jadi ikut tidak bisa tidur.


Atikah lalu bangkit berdiri. Zulfa yang belum bisa tidur juga hanya melihat Atikah dari pembaringannya. Tampak Atikah mengambil sesuatu dari dalam tas nya dan selanjutnya dia mengambil air mineral dan menelan sesuatu yang tadi diambil dari dalam tas nya.


“Minum apa kamu At?” tanya Zulfa kepo.


“Obat tidur.” Jawab Atikah yang memang sudah memiliki obat tidur di dalam tas nya, obat itu juga yang akan dia gunakan untuk si kembar nanti nya saat dia sudah ada kesempatan untuk membawa kabur si kembar.


“Kamu mau? Agar bisa tidur nyenyak juga malam ini he... he... “ ucap Atikah sambil berjalan lagi menuju ke tempat tidurnya.


“Tidak. Malah ketiduran sampai siang.” Jawab Zulfa


“Hanya berefek lima sampai delapan jam kok. Kalau anak anak bisa lebih dari itu...” ucap Atikah yang sudah membaringkan tubuh nya di tempat tidur.


“Kalau kamu sudah tidur aku pun akan bisa tidur.” Ucap Zulfa sambil memejamkan mata nya.


“Ha... ha... ya sudah kalau aku besok pagi masih nyenyak bangunkan.” Ucap Atikah yang juga sambil memejamkan mata nya dan selanjutnya dia pun sudah mulai merasa kan kantuk.


Sementara itu di Mansion Jonathan, tepatnya di kamar Vadeo. Valexa dan Deondria sudah tidur dengan nyenyak sambil memeluk tubuh Sang Papa. Vadeo pun juga sudah tertidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Akan tetapi tiba tiba Vadeo memiringkan tubuhnya karena sejak tadi dia tidur dengan posisi terlentang. Dia pun memeluk tubuh mungil salah satu anak nya. Dan tiba tiba...


“Pa... dangan beyi atu patat.. (Pa jangan beri aku pantat)” terdengar suara Deondria yang kini posisinya di belakangi oleh Vadeo. Dan tidak hanya itu kaki mungil Deondria pun menendang pantat Sang Papa. Vadeo pun lalu terjaga dan mengubah posisi tidur nya, dia membalikkan tubuh nya untuk menghadap pada Deondria. Vadeo pun memeluk tubuh mungil Deondria yang matanya masih terpejam rapat.


Dan baru saja Vadeo melanjutkan tidur nya.


“Pa dangan beyi atu patat. (Pa jangan beri aku pantat)..” suara Valexa dan sama seperti yang Deondria lakukan kaki Valexa pun menendang pantat Vadeo. Vadeo yang baru saja tertidur langsung terkaget.


“Kalian mau menjaga Papa, apa mau membuat Papa terus terjaga dalam tidur...” gumam Vadeo lalu dia mengubah posisi tidur nya lagi dan kini dia pun tidur terlentang lagi agar tidak ditendang oleh kedua anak nya lagi. Dan kedua bocah itu pun terus saja terpejam mata nya sambil masih memeluk tubuh Sang Papa.


Keesokan pagi nya. Vadeo bangun lebih pagi karena dia akan melakukan panggilan video call pada istrinya. Kedua anak nya masih tertidur dengan nyenyak dengan masih memeluk tubuhnya itu pun, akan dia tinggalkan dengan pelan pelan. Namun baru saja dia bangkit dan duduk di tempat tidur.


“Stttttt.... Papa ada perlu dengan Mama penting...” ucap Vadeo sambil menepuk nepuk pelan pantat kedua anaknya itu. Akhir nya kedua anak itu maklum paham dengan Papa nya dan membiarkan Sang Papa meninggalkan mereka berdua di tempat tidur.


Vadeo pun lalu mengambil hand phone yang berada di nakas di dekat tempat tidur nya. Dan setelah mengaktifkan hand phone nya dia pun segera melakukan panggilan video pada Alexandria, sang istri tercinta. Alexandria di seberang sana kini pada saat nya istirahat sore hari. Vadeo pun bercerita tentang kedua anak nya yang sangat posesif pada diri nya bahkan melebihi Alexandria. Alexandria hanya tertawa gemas pada anak nya dan membuatnya semakin rindu pada anak anak nya. Vadeo pun lalu mengarahkan kamera depan hand phone pada kedua anaknya yang tidur di tempat tidurnya agar Alexandria terobati rindu nya.


“Sayang dan ini juga ada yang rindu berat ke kamu.” Suara Vadeo yang sudah mulai parau dan dia pun segera melangkah ke kamar mandi agar kedua anak nya tidak mendengar suara suara yang belum layak mereka dengar. Dan Vadeo pun menuntaskan hasrat nya lewat video call dengan istrinya di kamar mandi.


Dan waktu pun terus berlalu. Acara pagi si kembar tanpa banyak menimbulkan kehebohan yang berarti. Kini mereka semua sudah berada di dalam ruang makan.


“Sayang, kalian hari ini sudah diantar oleh Pak Sopir senior ya.. nanti Om Richardo sudah bisa mengawal kalian.” Ucap Vadeo yang sudah mendapat informasi dari Bang Bule jika Richardo sudah bisa mengawal Valexa dan Deondria.

__ADS_1


“Accccciiiiiiikkkkkk.” Teriak mereka berdua sambil tangan tangan mungil nya tertepuk tangan karena hati riang gembira.


Sementara itu di pintu gerbang mansion Jonathan. Baru saja masuk sebuah taxi on line ke dalam halaman Mansion Jonathan dan bersamaan dengan itu berhenti sebuah motor ojek on line yang menurunkan satu penumpang yang tidak lain adalah Atikah. Atikah pun berjalan menuju ke tempat pos penjaga keamanan.


“Pak itu kok taxi on line boleh masuk ke dalam mansion dan bisa menuju ke pintu utama?” tanya Atikah yang iri sebab ojek on line yang dia tumpangi tidak boleh masuk ke dalam pintu gerbang dan dia harus ber jalan kaki yang agak jauh untuk menuju ke gedung ruang kerja kepala pelayan.


“Ooo itu kan taxi yang membawa Tuan Richardo, pengawal Nona Nona kecil.” Jawab petugas keamanan yang sudah mendapat informasi dari Vadeo.


“Pengawal...” gumam Atikah lalu pandangan mata nya pun tertuju pada mobil taxi yang sudah berhenti. Atikah lalu berjalan masuk ke dalam halaman Mansion Jonathan sambil pandangan mata nya tidak lepas untuk melihat mobil taxi on line itu, dia ingin tahu sosok orang di dalam mobil yang akan menjadi pengawal Nona Nona kecil keluarga Jonathan. Dan sesaat kemudian mata Atikah melihat sosok Richardo yang keluar dari pintu mobil taxi on line.


“Hmmmm tampan juga pengawal itu.” Gumam Atikah saat melihat sosok Richardo yang tampan bagai oppa oppa korea.


“Apa dia bisa diajak bekerja sama ya...” gumam Atikah dalam hati sambil terus berjalan menuju ke ruang kerja kepala pelayan.


“Ha... ha... ha... kalau dia bisa diajak bekerja sama akan lebih mudah, akan tetapi kalau tidak bisa aku harus cari cara...” gumam Atikah sambil terus melangkah..


“He... he... kalau dia pengawal kedua bocah itu dan aku sopir nya berarti aku akan selalu berada di dekat pemuda tampan itu.” Gumam Atikah dalam hati sambil tersenyum senang. Hati Atikah pun berbunga bunga penuh dengan harapan, dan dia terus berjalan dengan senyum an merekah di bibir nya.


Di saat dia masih berjalan dia kaget karena melihat sosok yang tergopoh gopoh berjalan keluar dari gedung tempat ruang kerja kepala pelayan.


....

__ADS_1


__ADS_2