
Sedangkan di tempat lain. Mobil Vadeo sudah berhenti di tempat parkir Jonathan Co.
“Oyang nya layi Pa.. ( orang nya lari Pa).” Ucap Deondria tampak bibirnya manyun cemberut, wajah Valexa pun terlihat kecewa. Sedangkan Boy justru menoleh ke luar mobil pandangan matanya menatap kagum gedung Jonathan Co.
“Biar Uncle Vin mengejar nya.” Ucap Vadeo sambil membuka pintu mobil.
Baru saja Vadeo berhenti bicara hand phone di dalam saku kemejanya berdering. Vadeo meraih hand phone miliknya. Sedangkan Alexandria membuka pintu mobil dan membantu ketiga bocah itu keluar dari mobil. Boy tampak terkagum kagum dengan wajah sampai mendongak melihat gedung megah Jonathan Co.
“Orang nya lari ya.” Ucap Vadeo saat sudah menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan suara dari Bang Bule Vincent.
“Kok kamu sudah tahu Bro.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone milik Vadeo.
Vadeo sambil memegang hand phone miliknya terus berjalan di belakang Alexandria, sedang ketiga bocah sudah berlarian menuju ke lift.
“Ma, Pa aku antal Boy jalan jalan ya.. “ teriak Valexa dan Deondria sambil terus berlarian. Vadeo dan Alexandria pun menganggukkan kepala nya.
Vadeo lalu berjalan di samping Alexa dan masih memegang hand phone miliknya.
“Terus apa yang kamu lakukan?” ucap Vadeo malah bertanya pada Bang Bule Vincent, tanpa menghiraukan ucapan Bang Bule Vincent tadi.
“Polisi sedang melihat di rekaman CCTV. Orang itu naik taxi on line, tapi wajah nya tidak terlihat. Ini aku dan polisi masih di mobil orang itu. Tapi ternyata hanya mobil rental Bro. Tidak ada data data tentang orang itu. Ini di dash board ada surat surat sudah di cek ternyata data di surat surat itu pemilik mobil rental.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone milik Vadeo.
“Sial.” Umpat Vadeo sambil terus berjalan di samping Alexa.
__ADS_1
“Kamu coba minta tolong ke Deondria untuk buat sketsa wajah pelaku.” Suara Bang Bule Vincent selanjutnya.
“Okey aku juga akan minta tolong pada mereka agar melihat di mana pelaku itu.” Ucap Vadeo sambil terus melangkah.
“Tapi mereka sedang lari lari dengan Boy, sepertinya sedang mengajak Boy keliling lihat lihat Jonathan Co. “ ucap Vadeo selanjutnya.
“Okey Bro, kutunggu ya..” suara Bang Bule Vincent lalu sambungan telepon itu terputus.
Vadeo menaruh hand phone miliknya di saku kemeja dan kini dia sudah berada di depan pintu lift bersama dengan Alexa. Sedang ketiga bocah sudah tidak terlihat.
“Polisi dan Bang Bule Vincent kehilangan jejak dan tidak mendapatkan data.” Ucap Vadeo sambil menatap Alexa yang berdiri di sampingnya menunggu pintu lift terluka.
“Benar benar Riris ingin membunuh Boy. Kurang ajar!” ucap Alexandria dengan nada kesal. Lalu mereka berdua masuk ke dalam lift.
“Sudah tapi ada tiga orang. Nanti minta tolong Twins untuk menyeleksi agar lebih fokus dalam melacak.” Ucap Alexandria dengan nada serius.
“Aku sebenarnya kasihan pada Twins, Pa. Mereka masih kanak kanak, tapi kita malah yang merepotkan mereka.”
“Demi kebaikan dan kemanusiaan Ma.. mungkin memang mereka terlahir kembali demi suatu misi kebaikan.” Ucap Vadeo sambil memeluk pinggang Alexandria yang masih ramping. Tidak lupa dia mengecup lembut puncak kepala Alexandria. Vadeo pun lama lama juga berpikir seperti Bang Bule Vincent, kemungkinan Twins adalah kelahiran kedua puteri puteri Raja Mahadiraja kalau melihat kelebihan yang dimiliki oleh Twins.
“Semoga nanti Raja dan Asasta yang membantu kedua kakaknya.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil jari jarinya mengusap usap perut Alexandria, dia berharap anak anak yang ada di dalam perut Alexandria bisa membantu misi kakak kakaknya.
“Aamiiinnn.. kita orang tua nya juga akan selalu membantu mereka Pa...” Ucap Alexa yang juga memeluk tubuh suami tercintanya.
__ADS_1
“Pasti Ma, tapi kita semakin tua nanti he.. he... he... Semoga Boy juga bisa rukun terus dengan anak anak kita.” Ucap Vadeo sambil tertawa kecil membayangkan semakin lama nanti akan semakin tua dengan semakin besarnya anak anak mereka.
“Aammmiiin, bahagia nya orang tua jika anak anak semua rukun, rukun dengan saudara kandung juga rukun dengan saudara sepupu mereka, dengan anak anak Ixora dan Dealova kelak. Tidak ada rebutan harta warisan dan hal hal duniawi lainnya.” Ucap Alexandria sambil mempererat pelukannya pada Vadeo. Dia pun juga jadi membayangkan semakin menua bersama suami tercinta membesarkan dan melihat tumbuh kembang anak anak mereka dan keponakan keponakan mereka. Berharap semua hidup rukun. Vadeo pun mengecup puncak kepala Alexandria lagi dengan penuh cinta dan kasih sayang.
TING
Bunyi alarm tanda lift sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Saat pintu terbuka tampak sosok ketiga bocah.
“Mama... Papa...” teriak Valexa dan Deondria dengan tawa lebar nya, Boy pun juga tertawa lebar menatap Vadeo dan Alexandria.
“Kalian sudah sampai sini.” Ucap Vadeo sambil keluar dari pintu lift setelah Alexa ke luar lebih dulu.
“Apa Papa mau minta tolong pada aku?” tanya Deondria sambil menggandeng jari sang Papa.
“Iya, Mama juga mau minta tolong pada Aca.” Ucap Vadeo sambil menunduk menoleh pada anak anaknya. Mereka berlima pun melangkah menuju ke ruang kerja Vadeo.
“Uncle, Aunty Boy besok ingin bekerja di sini. Keren... “ ucap Boy sambil mendongak menatap Alexandria dan Vadeo lalu mungilnya terus melangkah mengikuti langkah kaki Twins, tidak lupa mulutnya tersenyum lebar.
“Boleh, kamu harus rajin belajar mulai sekarang dan harus hidup rukun dengan saudara saudara tidak boleh saling iri dengki.” Ucap Alexa sambil menggandeng tangan mungil Boy. Dia sungguh berharap jika besar nanti Boy tidak memiliki sifat seperti Justin yang iri pada Vadeo.
“Iya Aunty aku sayang sama Twins dan adik adik di dalam perut Aunty...” Ucap Boy sambil memegang erat telapak tangan Alexandria sambil mendongak menatap Alexandria dengan serius. Alexandria pun tersenyum senang.
Beberapa saat kemudian mereka sudah masuk di ruang kerja Vadeo. Alexandria pun segera mengajak ke tiga bocah itu untuk duduk di sofa.
__ADS_1
“Aya, buat sketsa pakai kertas dan pensil ya.. hand phone untuk Aca, biar melihat dengan siapa Riris bekerja sama.” Ucap Alexandria lalu memberikan hand phone milik nya pada Valexa dan Deondria pun menganggukkan kepalanya.