
“Ayo cepat jalankan mobilnya Pak, aku mau menjemput Opa Jo.” Ucap Boy dengan bersemangat sebab selama ini Tuan Jonathan menunjukkan sikap yang sangat sayang pada Boy. Jika diajak menjenguk Justin di lapas pulang nya Tuan Jonathan memberikan banyak uang pada Boy. Dan betapa bahagianya Boy ternyata Tuan Jonathan adalah benar benar Opa nya meskipun bukan Opa kandung akan tetapi masih ada aliran darah.
“Sabar Boy...” ucap Wika yang sudah duduk di dalam satu mobil golf dengan mereka. Sementara Justin hanya diam saja. Twins tampak menatap Justin dengan tatapan mata yang sangat serius.
“Ante jangan jauh jauh dayi paya pengawal ya...” bisik Deondria pada Justin sambil tersenyum. Sebab Twins tahu apa yang dikhawatirkan oleh Justin. Justin hanya mengusap usap puncak kepala Deondria sambil tersenyum tipis.
Tidak lama kemudian pesawat sudah mulai tampak lebih jelas dan semakin lama semakin turun dan akhirnya mendarat dengan sempurna.
Ketiga bocah yang sudah turun dari mobil golf itu tampak meloncat loncat sambil bertepuk tangan senang.
“Opa... Oma.... “
“Opa... Oma...”
“Opa... Oma...”
Teriakan ketiga bocah itu berulang kali sambil meloncat loncat riang.
Sementara itu Opa opa dan Oma Oma juga terlihat senang melihat cucu cucu mereka yang begitu dirindukan sudah di depan mata. Meskipun masih lewat kaca jendela pesawat mereka melihatnya sebab pintu pesawat belum dibuka dan para kru pesawat masih tampak sibuk menyiapkan turunnya penumpang.
__ADS_1
“Itu Boy yang Oma Jo ceritakan?” tanya Nyonya William saat melihat anak laki laki meloncat loncat senang berada di dekat Twins.
“Iya, syukurlah dia sudah tampak riang gembira. Sebelumnya dia minderan dan takut takut jika lihat orang.” Ucap Nyonya Jonathan sambil tersenyum mengamati Boy dari jendela kaca pesawat.
“Padahal anaknya cakep dan tampak baik. Ayahnya yang kurang ajar.” Ucap Nyonya William yang juga ikut mengamati Boy dan ada nada kesal di kalimat belakang.
Sesaat kemudian Pintu pesawat pun mulai terbuka. Tuan dan Nyonya Jonathan mulai menuruni anak tangga demikian juga Tuan dan Nyonya William. Dua pengawal Nyonya Jonathan dan Nyonya William juga mulai turun bersama sang anjing pelacak.
“Hei.. kau bantu Tuan Rangga turun.” Perintah Tuan Jonathan sambil menoleh pada Sang pengawal.
Sementara itu di bawah pesawat Twins dan Boy berlari menuju ke tangga pesawat.
“Boy hati hati tunggu dulu biar semua turun. Pak pilot istirahat lama.” Teriak Wika yang khawatir akan Boy. Sebab situasi tangga pesawat itu sungguh sangat heboh. Eveline segera mengikuti langkah kaki Boy. Ada anjing yang tidak mau turun dari pesawat masih mogok di tangga ingin kembali masuk ke dalam pesawat. Sedangkan Sang pengawal yang satu tampak kesulitan menggendong Tuan Rangga apalagi ada anjing yang meronta ronta di tangga. Membuat pengawal yang menggendong Tuan Rangga hampir kehilangan keseimbangan karena sang anjing yang ingin kembali masuk ke dalam pesawat. Dan dari bawah Boy sudah mulai menaiki anak tangga. Boy memberi salam pada Tuan dan Nyonya Jonathan juga Tuan dan Nyonya William namun bocah itu segera bergegas naik ke atas dan masuk pesawat.
“Kamu bantu meyeka!” teriak Twins pada para pengawal yang ada di bawah. Para pengawal itu pun segera melaksanakan perintah Twins. Sedangkan Justin tampak berdiri mematung karena bingung dan takut akan bertemu dengan Tuan dan Nyonya William.
Setelah sampai di bawah tampak Opa Opa dan Oma Oma itu memeluk dan menciumi Twins. Wika pun segera memberikan salam pada Opa Opa dan Oma Oma. Justin pun memberi salam pada Tuan dan Nyonya Jonathan.
Dan sesaat kemudian ...
__ADS_1
“Hai kamu masih hidup?” ucap Tuan William dengan nada tinggi sambil menatap tajam ke arah Justin. Tuan William pun menggelapkan telapak tangannya.
“Tuan ampun Tuan.” Ucap Justin yang langsung kedua tangannya memegang tangan Tuan William yang mengepal dan punggung Justin menunduk hingga kepalanya berada di dapan perut Tuan William.
“Kurang ajar ya kamu, sudah menelantarkan anak orang. Dan dulu selalu membikin repot keluarga William.” Ucap Nyonya William yang selanjutnya menarik kuping Justin dengan kuat. Justin yang masih menunduk itu tidak menyangka jika akan dijewer kuat kuat oleh Nyonya William.
“Oma lepaskan Ante Justin cudah minta ampun.” Teriak Valexa dan Deondria sambil menatap Oma Kucing.
“Ihhh Oma masih ingat gara gara ulah dia Mama Alexa dan Aunty Aunty kamu mau celaka.” Ucap Nyonya William lagi dan masih menarik kuping Justin.
“Nyonya saya sudah dihukum bertahun tahun dan saya sudah menyadari kesalahan saya. Saya tidak akan mengulangi lagi Nyonya. Beri kesempatan pada saya untuk menjadi orang baik di sisa hidup saya... demi anak istri saya.. demi Papa dan Mama Jo.. demi Vadeo dan keluarganya.. demi keluarga besar Jonathan dan keluarga William.” Ucap Justin yang masih menunduk dan kepalanya berada di dekat tubuh Nyonya William karena tangan Nyonya William masih memegang telinga Justin. Mendengar kalimat panjang Justin itu tangan Nyonya William semakin lama semakin kendor dalam menarik telinga Justin dan akhirnya di lepas.
“Iya aku maafkan. Allah saja mengampuni hamba nya yang tulus bertobat. Awas kalau kamu mengulangi lagi. Aku suruh ular besar itu makan tubuhmu hidup hidup.” Ucap Nyonya William dengan nada rendah. Justin dan Wika pun tampak lega. Mereka berdua menjabat tangan Nyonya William dan mencium punggung tangan Nyonya William berkali kali.
Tiga orang pengawal akhirnya bisa membawa turun anjing pelacak permata itu. Dan dua pengawal lainnya membantu menurunkan Tuan Rangga dan kursi roda nya. Juna pun melangkah di belakang mereka.
Setelah tangga pesawat terlihat sepi. Wika dan Justin pun ikut naik ke atas pesawat untuk melihat Boy yang terlihat melambai lambaikan tangannya ke arah mereka dari jendela kaca pesawat. Twins pun akhirnya juga ikut karena diajak oleh Wika.
Setelah Boy puas melihat isi di dalam pesawat. Mereka pun turun dan segera pulang ke Mansion.
__ADS_1