Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 73. Penasaran


__ADS_3

“Mama tahu dari siapa kalau batu permata seperti ini simbol dari suatu kekuasaan?” tanya Vadeo yang dia juga ikut mengamati amati batu permata di salah satu cincin itu sedang satu cincin lainnya masih dipegang oleh Nyonya Jonathan.


“Ya tahulah Mama kan suka dengan perhiasan, tidak sembarang orang bisa memiliki nya.” Ucap Nyonya Jonathan dengan nada serius dan masih terus mengamat amati batu permata itu.


“Dan kalau aku baca baca di artikel hanya raja raja jaman dahulu kala yang memiliki dan memakainya. Kalau di jaman sekarang itu menjadi pemilik kolektor benda langka tingkat atas. Yang bisa membeli juga orang orang top dunia.” Ucap Nyonya Jonathan lagi sambil masih mengamati batu permata yang menempel pada salah satu cincin itu.


“Dan kalau aku lihat ini lebih bagus dari pada yang ada difoto itu. Dan kamu lihat kotak perhiasannya juga asli ini memang benar benar satu set Deo. Ini pasti mahal sekali. Sepertinya kotak perhiasan nya juga dari emas kalau dilihat dari beratnya yang mantap.” Ucap Nyonya Jonathan sambil meraih kotak perhiasan yang tadi dipegang oleh Vadeo dan dia amat amati. Sedangkan Vadeo tampak berpikir pikir.


“Siapa yang memberi hadiah semewah ini Deo?” tanya Nyonya Jonathan sambil sedikit mendongak menatap Vadeo karena postur tubuh Vadeo yang lebih tinggi dari dirinya.


“Teman Ma.” Jawab Vadeo singkat.


“Siapa?” tanya Nyonya Jonathan lagi


“Belum saat nya Mama tahu.. he... he...” ucap Vadeo sambil tertawa kecil.


“Kamu beli di mana katakan pada Mama. Ini barang mahal pemiliknya pasti kolektor benda benda langka spesial. Dan Mama heran saja kenapa dia mau menjualnya.” Ucap Nyonya Jonathan lag sambil menetap Vadeo dengan tajam.


“Aku tidak membeli Ma aku dapat hadiah. Dari temanku di luar negeri yang Mama belum mengenalnya.” Jawab Vadeo sambil meminta kotak perhiasan yang dibawa oleh Sang Mama.


“Sekarang juga kenalkan Mama pada dirinya.. Aku heran saja kenapa memberikan kepada mu kenapa tidak dimiliki sendiri .” ucap Nyonya Jonathan lagi


“Mungkin dia tidak tahu Ma.” Ucap Vadeo dan tangannya terulur untuk meminta satu cincin yang masih dipegang oleh Sang Mama.


“Ya mungkin saja tidak tahu jika batu permata ini simbol dari kekuasaan, tapi pasti dia membeli dengan mahal.” Ucap Nyonya Jonathan dan masih memegang satu cincin itu.


Saat Vadeo dan Nyonya Jonathan masih bersikeras mempertahankan kemauannya, Nyonya Jonathan mau Vadeo mengatakan dari mana mendapatkan perhiasan itu, dan Vadeo tetap tidak akan memberi tahu.

__ADS_1


Tiba tiba pintu kamar Vadeo terbuka dengan lebar dan muncul sosok dua bocah yang cantik jelita berjalan dengan cepat.


“Papa.... Omma...” teriak Valexa dan Deondria. Vadeo dan Nyonya Jonathan yang masih berdiri di dalam kamar itu segera menoleh ke arah Valexa dan Deondria. Vadeo pun segera merebut satu cincin yang masih dipegang oleh Sang Mama.


“Oma ditundu Mama di bawah.. (Oma ditunggu Mama di bawah).” Ucap Valexa sambil menatap Nyonya Jonathan. Nyonya Jonathan tersenyum dan mengiyakan lalu dia melangkah keluar dari kamar Vadeo.


“Papa... mandiin tita dong.. (Papa mandiin kita dong..).” ucap Deondria sambil mendongak menatap Sang Papa.


“Di mana Nanny kalian?” tanya Vadeo sambil menatap kedua anaknya dan menaruh lagi cincin itu pada kotak perhiasannya Valexa dan Deondria hanya diam saja sebab tahu jika Sang Papa tidak mengatakan dari ular besar perhiasan itu.


“Di mana Nanny kalian?” tanya Vadeo lagi kini menatap wajah imut kedua anak nya.


“Ada.. Tapi na mau dimandiin Papa he.... he... ( Ada... Tapi nya mau dimandiin Papa he... he...).” jawab Valexa dan Deondria sambil tertawa kecil dan menatap wajah Sang Papa Vadeo.


Vadeo pun akhirnya membawa kedua anak nya itu menuju ke kamar mandi. Dengan sabar dan penuh kasih sayang Vadeo membuka baju anak anak nya lalu mengikat rambut kedua anak nya.


“Ya dayi cana lah Pa.. dari butit... (Ya dari sana lah Pa.. dari bukit).” Jawab Deondria sambil tangan mungilnya mengusap usap perut nya sendiri bermain buih buih sabun yang ada di tubuh nya.


“Dayi bawah... (dari bawah).” Sambung Valexa sambil menaruh buih sabun dari tubuhnya di kepala saudara kembar nya. Yang akhirnya kedua nya pun harus mandi keramas karena rambut kepala penuh buih sabun sebab Deondria pun membalas perlakukan dari Valexa.


“Hmmm apa dulu ada orang yang pernah datang ke bukit itu dan barang itu jatuh.” Gumam Vadeo dalam hati sambil terus memandikan kedua anaknya, sedangkan Valexa dan Deondria tampak riang gembira dalam guyuran shower atas.


“Kenapa juga ular itu tahu barang mahal.” Gumam Vadeo dalam hati lagi.


“Aku harus tanya Bang Bule siapa saja dulu yang pernah datang ke pulau ini.... Hmm iya besok saja aku tanya pada Bang Bule Vincent. Dia dulu yang mendapati pulau ini.“ gumam Vadeo dalam hati dan terus menyelesaikan memandikan kedua anak nya.


Saat Vadeo dan kedua anaknya sudah selesai mandi, tampak pintu kamar terbuka dan muncul sosok Alexandria melangkah ke dalam kamar.

__ADS_1


“Oooh kalian sudah dimandikan oleh Papa.” Suara Alexandria sambil terus melangkah mendekati Suami dan kedua anaknya. Tampak Valexa dan Deondria sudah memakai bath robe dan rambut nya basah. Alexandria pun turut membantu Vadeo memakaikan baju dan mengeringkan rambut anak anak nya.


“Pa, Oma Jo bilang. Papa dapat hadiah mewah?” tanya Alexandria sambil mengeringkan rambut Valexa.


“Iya ..” jawab Vadeo sambil menatap wajah Valexa dan Deondria.


“Dari siapa Pa?” tanya Alexandria yang sudah mendapatkan cerita dari Nyonya Jonathan. Nyonya Jonathan yang penasaran menyuruh agar Alexandria mencari tahu dari siapa Vadeo mendapatkan hadiah mewah nya.


“Dari teman.” Jawab Vadeo yang kini tampak bingung sebab teman teman nya juga banyak yang kenal dengan Alexandria.


“Siapa?” tanya Alexandria dengan nada curiga.


“Kasih tahu tidak ya....” ucap Vadeo sambil tersenyum menggoda Alexandria.


“Danan Pa... yaaaacia..... (jangan Pa... rahasia).” Teriak Valexa dan Deondria.


“Gitu ya... kalian bertiga main rahasia rahasia an sama Mama.” Ucap Alexandria dengan cemberut menatap wajah kedua anaknya.


“Apa hadiah dari tim misi?” gumam Alexandria menduga duga.


“Iya... iya....” jawab Vadeo dan kedua anaknya sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


"Awas ya jangan sampai kena kasus pencucian uang dan sejenisnya. Mama tidak suka." ucap Alexandria dengan nada tegas dan serius.


Dan sesaat hand phone Vadeo yang berada di atas meja rias berdering. Vadeo segera mengambil hand phone, dan tampak di layar hand ada nama kontak Bang Bule Vincent sedang melakukan panggilan suara.


“Bule, sebenarnya bisa sekalian tanya tentang pulau ini dulu nya, tetapi masih ada Alexa di sini.” Gumam Vadeo dalam hati sambil menggeser tombol hijau.

__ADS_1


....


__ADS_2