
“Hallo Tuan Rangga, selamat pagi kenalkan saya Vincent dan ini Kakak Saya.” Suara Bang Bule Vincent membalas sapa an laki laki tua yang dihubungi lewat video call itu sambil mengenalkan diri dan juga mengenalkan Vadeo. Vadeo yang dikenalkan sebagai Kakaknya tampak tersenyum kecut.
“Oohh Tuan Vincent ternyata masih muda dan Kakaknya kenapa justru terlihat lebih muda.” Ucap laki laki tua itu yang bernama Tuan Rangga. Kini gantian Bang Bule Vincent yang tersenyum kecut sedangkan Vadeo tampak tersenyum senang.
“Terima kasih Tuan, sekarang langsung pada pokok pembahasannya, saya mendapatkan rekomendasi dari teman saya jika Tuan Rangga bisa membaca huruf palawa kuno. Kami membutuhkan bantuan Tuan Rangga.” Suara Bang Bule Vincent selanjutnya dengan nada serius.
“Seperti yang kamu dengar dari temanmu itu. Dan bawa manuskrip itu kepada ku, sebab karena usia ku aku sudah tidak sanggup pergi ke mana mana , aku selalu didampingi oleh asisten saya, termasuk dalam video call macam begini.” Ucap Tuan Rangga dan selanjutnya di layar lap top Bang Bule Vincent tampak juga wajah seorang laki laki muda, asisten Tuan Rangga.
“Tapi Tuan, manuskrip itu ada di negara Belanda.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya masih dengan nada serius.
“Ya kamu bawa manuskrip itu ke sini.” Ucap Tuan Rangga lagi
“Baik Tuan.” Saut Vadeo, dan setelahnya mereka mengakhiri panggilan video nya.
“Deo aku belum tanya pada pengelola Museum itu apa boleh kita pinjam dan kita bawa manuskrip itu.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menatap Vadeo
“Sekarang juga akan aku beli manuskrip itu. Cepat kamu telepon pengelola Museum itu. Aku yang akan bicara.” Ucap Vadeo dengan mantap.
Bang Bule Vincent lalu sibuk lagi dengan tuts tuts lap top nya, dia mengirim email pada pengelola Museum di negara Belanda itu. Dan setelah mendapat balasan email nya, tampak Vadeo yang sibuk dengan hand phone nya. Vadeo menyampaikan maksud nya untuk membeli manuskrip itu, dia pun mengatakan kalau dirinya pemilik pemilik resmi pulau yang diceritakan di dalam manuskrip itu, demi keamanan maka dia bermaksud untuk memiliki manuskrip itu. Dari pada juga manuskrip itu diam teronggok di Moseum dan belum ada yang mengerti isi cerita di dalam nya.
“Baiklah Tuan, kami akan melepas manuskrip itu pada orang yang tepat. Terima kasih juga jika Tuan Vadeo sudah bisa mendapatkan orang yang bisa membaca isi manuskrip itu. Jika boleh izin kan kami mengcopy secara digital manuskrip itu dulu sebelum kami lepas pada Tuan.” Ucap pengelola Museum
“Hmmm ... Aku akan segera mentransfer dan segera kirim kepadaku manuskrip itu. Untuk copy an digital nya nanti akan aku buatkan dan aku kirim kepada kamu. Bagaimana pun aku mengucapkan terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan manuskrip itu.” Ucap Vadeo yang sesungguhnya tidak begitu rela jika ada orang lain yang mengetahui cerita tentang pulau Alexandria yang belum dia ketahui apalagi jika jatuh pada orang jahat.
__ADS_1
“Orang yang akan menerjemahkan sudah tua renta jadi aku ingin segera kamu kirim manuskrip itu. Mumpung sekarang dia sedang dalam kondisi sehat.” Ucap Vadeo selanjutnya.
“Oooo baiklah Tuan, akan segera kami kirim.” Ucap pengelola Museum itu.
“Okey cepat kamu kirim bukti pengiriman.” Ucap Vadeo selanjutnya. Dan setelah terjadi kesepakatan Vadeo memutus sambungan teleponnya. Dan dia segera mengirim uang yang diminta oleh pengelola Museum itu.
“ Bul, sudah aku transfer tinggal nunggu manuskrip itu dikirim ke sini. Baru kita antar ke Tuan Rangga. Aku ingin kita yang mendampingi mereka, aku tidak ingin ada orang lain yang mendengar terjemahan dari manuskrip itu.” Ucap Vadeo sambil menaruh hand phone nya ke dalam saku blazer nya lagi.
“Dan aku ingin secepat selesai. “ ucap Vadeo selanjutnya sambil menatap tajam ke arah Bang Bule Vincent.
“Aku juga khawatir Bro, Tuan Rangga sudah tua. Khawatir sebelum dia menyelesaikan isi manuskrip itu dia sudah berpulang selama lama nya.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius dan ekspresi wajah yang khawatir.
“Hust..” Saut Vadeo sambil menepuk paha Bang Bule Vincent.
“Iya sih, tapi itu juga sebagai alasan agar manuskrip itu cepat dikirim tanpa mereka copy dulu. Besok kalau kita kirim copy an digital nya untuk hal hal yang rahasia yang tidak perlu diketahui oleh umum tidak perlu kita kirim.” Ucap Vadeo dan Bang Bule Vincent hanya mengangguk angguk paham.
“Semoga dia berumur panjang dan bisa menyelesaikan isi dari manuskrip itu.” doa Vadeo dan diamini oleh Bang Bule Vincent.
Saat mereka berdua masih berbincang bincang tiba tiba hand phone Vadeo berdering kembali. Vadeo segera meraih hand phone dari saku blazer nya.
“Mama Jo.” Gumam Vadeo sambil menatap wajah Bang Bule Vincent. Bang Bule Vincent pun langsung mengemasi barang barang nya dan bangkit berdiri.
Setelah Bang Bule Vincent sudah melangkah menjauh , Vadeo menggeser tombol hijau dan tampak wajah Nyonya Jonathan dan Nyonya William di layar hand phone Vadeo.
__ADS_1
“Deo, apa kamu tahu di mana Bule berada?” suara Nyonya Jonathan di balik hand phone Vadeo.
“Dia sedang menemui klien nya Ma.” Jawab Vadeo
“Dia tuh bilang pada istri nya kalau tidak pergi dari rumah, menemui klien lewat video call di rumah. Tapi kok di rumah tidak ada, awas saja dia kalau sudah mulai berani bohong pada istri.” Suara Nyonya William dengan nada kesal.
“Mungkin terjadi perubahan jadwal Ma, tunggu saja di situ.” Ucap Vadeo lagi, agar kedua Mama nya itu tidak beralih pergi ke Jonathan Co.
Sementara itu di belahan bumi lain. Kapal milik Tuan Njun Liong sudah kembali berlayar meninggalkan samudra atlantik utara.
“Akhir nya kita ke Asia juga.” Ucap Richie dengan senyum bahagia. Dia masih ingin pergi ke Asia untuk membalas dendam pada Alexandria yang sudah membuat kakinya cacat permanen itu.
“Iya harta karun itu ada di Asia , ada di sebuah pulau. Aku sudah mendapatkan informasi tentang pulau itu dan sangat disayangkan kita terlambat. Pulau itu sudah ada pemiliknya sekitar empat tahunan lalu. “ ucap Tuan Njun Liong dengan nada dan ekspresi wajah yang kecewa.
“Padahal di dalam pulau itu penuh dengan harta karun dan bisa saja pemilik pulau itu tidak mengetahuinya. “ ucap Tuan Njun Liong lagi sambil meraih gelas berisi bir di atas meja.
“Aku sedang mencari tahu siapa pemilik pulau itu. Akan aku beli secara baik baik.” Ucap Tuan Njun Liong selanjutnya sambil menegak bir yang ada di dalam gelasnya.
“Jika tidak boleh, ha... ha...kita minta dengan paksa ha.... ha....” Saut Richie dengan tawa terbahak bahak dia sudah begitu ngiler dengan harta karun yang akan di dapat kan nya.
Tuan Njun Liong pun lalu tampak sibuk dengan hand phone nya untuk mencari informasi pemilik pulau yang ada harta karun nya itu.
...
__ADS_1