Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 125. Melacak Nyonya Siu Lie


__ADS_3

Vadeo yang merasa capek dan lapar pun kini menurut pada perkataan kedua anaknya itu. Karena benar yang dikatakan oleh kedua anaknya itu, mereka berdua aman du dalam kamar itu, tidak ada orang dan binatang buas masuk ke dalam kamar itu.


Vadeo pun melangkah menuju ke kamar mandi yang letaknya harus keluar lebih dulu dari kamar yang ditempati oleh Valexa dan Deondria, meskipun tidak begitu jauh dari kamar tersebut.


“Hmmm aku harus buat sesuatu agar orang orang itu tidak terus menerus mengganggu kebahagiaan keluargaku. Mosok aku harus sengsara begini di tempat tinggal sendiri.” Gumam Vadeo yang wajah dan tubuhnya tampak kusut karena kecapekan habis bersih bersih.


Setelah mandi Vadeo keluar hanya memakai celana boxer dan tampak tubuhnya masih basah oleh butir butir air karena dia lupa tidak mencari kain handuk di dalam lemari. Dan entah ada atau tidak handuk di dalam lemari Vadeo belum mencarinya. Sambil membawa baju kotor Vadeo berjalan lagi menuju ke kamar yang di tempati oleh Valexa dan Deondria. Vadeo membuka pelan pelan daun pintu yang terbuat dari kayu jati asli yang kokoh kuat dan berukir indah itu.


Saat pintu sudah terbuka tampak Valexa dan Deondria duduk saling berhadapan akan tetapi kedua bocah itu tidak berbicara hanya pandangan mata keduanya tampak serius. Vadeo tidak berani mengganggu kedua puterinya yang sedang tampak serius itu, yang tadi kata mereka sedang berpikir. Vadeo terus melangkah menuju ke lemari untuk mencari kain yang bisa mengeringkan badannya dan untuk mendapatkan sesuatu untuk membungkus badannya. Karena baju yang tadi dia pakai sudah sangat kotor karena efek bersih bersih.


Saat membuka lemari itu, Vadeo bisa mendapatkan kain untuk mengeringkan badannya. Akan tetapi di dalam lemari itu yang ada hanya kain kain batik dan baju baju perempuan.


“Hmmm ini kan lemari milik puteri itu, tidak ada baju buat laki laki. Aku pakai kain batik ini saja.” Gumam Vadeo lalu mengambil satu lembar kain batik dan dia balutkan pada tubuh bagian bawah mulai batas bawah dadanya, dan dia gulung gulung atasnya agar tidak sampai di mata kaki bagian ujung bawah kain itu. Bagian atas tubuhnya dia biarkan polos karena memang tidak ada baju yang cocok untuk dirinya. Dia bermaksud nanti akan menghubungi Richardo untuk mengirimi baju ganti.


Vadeo sambil membawa hand phone nya lalu keluar dari kamar anak anaknya. Tampak Valexa dan Deondria tidak menghiraukan penampilan Sang Papa. Vadeo terus melangkah keluar untuk menyusul Bang Bule Vincent berada.

__ADS_1


Sesaat kemudian Vadeo sudah berada di dekat Bang Bule Vincent yang tampak sedang sibuk membakar daging kelinci. Dengan pisau lipat multifungsinya dia sudah berhasil mengeksekusi kelinci yang sudah disediakan oleh ular besar itu. Aroma harum daging bakar pun sudah tercium di hidung Vadeo, hingga perut Vadeo yang sudah lapar itu berbunyi krucuk krucuk minta diisi.


Saat Bang Bule Vincent mendengar suara langkah kaki dia langsung menoleh ke arah suara langkah kaki tersebut dan...


“Ha.... ha..... ha.... ha.... Deo kamu jadi seperti prajurit jaman dahulu kala ha... ha... ha... apa twins yang menyuruhmu pakai kostum seperti ini.” Suara Bang Bule Vincent sambil masih tertawa terbahak bahak.


“Kamu jangan tertawa Bul, emang kamu juga mau pakai baju kamu itu terus nanti setelah mandi.” Ucap Vadeo sambil duduk jongkok di dekat Bang Bule Vincent lalu mencomot satu tusuk sate kelinci yang sudah matang.


“Aku tidak berani masuk ke dalam kamar Raja Mahadiraja kalau tidak disuruh ular besar itu. Takut kuwalat.” Ucap Vadeo sambil memasukkan daging kelinci bakar ke dalam mulutnya, meskipun tanpa bumbu karena perut lapar tetap terasa nikmat di lidah Vadeo.


“Apa kamu sudah menghubungi Richardo?” tanya Vadeo selanjutnya setelah menelan daging kelinci bakar di mulutnya tangannya lalu mengambil lagi satu tusuk akan tetapi langsung ditepuk telapak tangannya oleh Bang Bule Vincent.


“Pelit.” Gumam Vadeo lalu tangan dia pun membantu Bang Bule Vincent.


“Kondisi masih waspada, alarm masih berwarna kuning. Orang orang yang masuk ke pulau karena terdampar sudah diserahkan pada pihak berwajib. Kapal patroli sudah datang dan membawa mereka.” Jawab Bang Bule Vincent sambil tangannya membolak bolak daging kelinci di atas bara api.

__ADS_1


“Alexa belum selesai membuat alat untuk kita di sini. Anakmu yang di dalam perut agak rewel mungkin kangen dengan Papa nya.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya. Mendengar hal itu Vadeo pun langsung teringat akan pesan dari twins agar dia menghubungi Alexandria. Vadeo lalu bangkit berdiri dan berjalan mencari spot jaringan yang kuat untuk berkomunikasi dengan Sang istri.


Setelah mendapatkan spot jaringan yang kuat, Vadeo melakukan panggilan suara pada nama kontak Sang isteri tercinta. Tidak lama kemudian sambungan terhubung.


“Pa, bagaimana anak anak? Apa mereka sudah makan?” suara Alexandria di balik hand phone Vadeo.


“Mereka baik baik, ini sedang buat daging kelinci bakar. Al apa alat alat kamu sudah jadi? Bagaimana dengan anak kita yang di dalam perut? Jaga dia baik baik ya Al..” Ucap Vadeo dengan nada khawatir di kalimat belakang.


“Belum Pa, tunggu sebentar. Ini tadi Mama Jo menghubungi katanya di group hobbies dia sedang heboh permata langka. Aku sedang melacak akun yang menghembuskan isu itu. Dan orangnya tidak jauh dari pulau kita.” Ucap Alexandria dengan nada serius.


“Hmmm okey okey kalau perlu kita lakukan sesuatu pada orang itu jangan sampai semakin mendekat. Aku akan suruh anak buah Bang Bule Vincent untuk mencari orang itu. Kamu share lokasi orang itu sekarang ke hand phone ku dan hand phone Bang Bule Vincent.” Ucap Vadeo dengan nada serius. Dan selanjutnya mereka melanjutkan percakapannya tentang keadaan kesehatan janin yang ada di dalam perut dan selanjutnya Vadeo mengakhiri sambungan teleponnya tidak lupa berpesan agar Richardo mengirim pakaian dan susu buat twins.


“Hmmm mungkin karena itu twins menyuruh aku menghubungi Mamanya. Benar aku pun harus melakukan penyerangan tidak hanya menunggu musuh datang ke pulau ini.” Gumam Vadeo dalam hati sambil melangkah menuju ke tempat Bang Bule Vincent


“Ternyata Mama ikut group emak emak pencinta permata ada gunanya juga..” gumam Vadeo lagi sambil tersenyum.

__ADS_1


“Kenapa senyum senyum Bro?” tanya Bang Bule Vincent sambil menoleh menatap Vadeo yang sudah berdiri di dekatnya. Vadeo pun lalu duduk jongkok di dekat Bang Bule Vincent sambil menceritakan tentang akun yang sedang dilacak oleh Alexandria.


“Hmmm benar aku suruh anak buah ku menuju ke tempat itu. Aku suruh dia bawa senjata rahasia buatan Ixora. Biar tahu rasa.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada dan ekspresi wajah yang serius dan di saat tampak Bang Bule Vincent sedang berpikir serius tangan Vadeo terulur mengambil daging kelinci bakar yang menggodanya untuk disantap.


__ADS_2