
“Bukan, di sekolah dasar.” Jawab Vadeo
“Cetoyah buat anak becal?” tanya Valexa dan Deondria bersamaan, mereka berdua sudah paham dengan arti kata Sekolah Dasar.
“Ayo cetiyain dong Pa, caat Papa tetemu Mama di cetoyah..” pinta mereka berdua.
Vadeo pun mengiyakan karena dia pun sedang rindu dengan Alexandria. Vadeo pun lalu menceritakan masa masa dia bertemu dengan Alexandria. Kedua bocah itu pun dengan senang hati lalu mereka berdua membaringkan tubuhnya dan berbantal pada paha kiri dan kanan milik Sang Papa, kedua anak itu pun siap akan mendengarkan cerita Sang Papa dengan seksama.
Dan Vadeo pun mulai bercerita
Flashback on
“Kakak makan bekalku saja. Ini belum aku makan dan belum aku minum. Bukan sisa.” ucap seorang gadis kecil yang cantik jelita sambil menyodorkan kotak dan minum bekal miliknya pada Vadeo, saat mereka berpapasan. Vadeo membalikkan langkah kakinya dari kantin sedangkan gadis kecil itu sedang berjalan cepat sepertinya baru saja keluar dari kelasnya.
“Terus kamu makan apa? Aku kuat nahan sampai pulang sekolah.” ucap Vadeo yang kecewa karena kantin tutup. Sudah ada pengumuman untuk membawa bekal tetapi dia lupa. Padahal siswa tidak boleh membeli jajanan di luar sekolah.
“Aku mau pulang Kak, sudah dijemput Papa aku, ada keperluan mendadak, dari pada Kakak kelaparan, sedangkan aku mau pulang di rumahku banyak makanan.” ucap gadis kecil itu sambil terus menyodorkan bekalnya.
“Baiklah besok aku tukar makanannya...” ucap Vadeo sambil menerima bekal gadis itu. Tampak gadis itu tersenyum dan sinar matanya yang berbinar namun memberikan keteduhan.
“Kamu kelas berapa?” tanya Vadeo.
“Dua. Maaf Kak.. Papaku sudah menunggu.... bye ...bye....” ucap gadis kecil itu sambil berlari dan melambaikan tangannya.
Vadeo berjalan menuju kelasnya. Di sepanjang perjalanannya dari kantin menuju kelasnya banyak siswa yang menatap dirinya. Mungkin heran karena cowok membawa tempat bekal warna soft pink. Vadeo tidak memedulikan, Vadeo sebenarnya memang lapar karena habis pelajaran olah raga. Namun kalau gadis kecil tadi tidak pulang dia tidak tega makan bekal milik gadis kecil itu.
Vadeo terus berjalan menuju ke kelas enam, dia lalu memasuki kelasnya. Banyak pertanyaan ditujukan kepada dirinya kok dapat makanan dan minuman dengan tempat warna pink. Vadeo hanya menjawab dari fans. Jawaban Vadeo tentu saja membikin penasaran teman temannya terutama dari teman teman cewek yang banyak menaruh hati pada Vadeo.
__ADS_1
Saat membuka isi kotak bekal Vadeo terhenyak sebab isi kotak itu adalah skutel makaroni makanan yang tidak dia suka. Namun karena dia lapar dan mengingat ketulusan hati sang pemberi. Vadeo mengambil sendok kecil yang sudah berada di dalamnya, dia menyendok sedikit makanan tersebut. Namun..... setelah merasakan makanan tersebut, lidah Vadeo merasakan nikmat yang luar biasa. Dengan cepat dia menghabiskan makanan tersebut.
Keesokan paginya. Vadeo membawa tempat bekal gadis kecil itu dan sudah diisi dengan cake coklat strowbery . Vadeo mendatangi kelas dua. Dia melihat lihat siswa di kelas dua. Ada tiga kelas paralel, dia datangi semua namun dia tidak melihat sosok gadis itu. Vadeo mengira mungkin sedang tidak masuk sekolah. Di hari hari berikutnya Vadeo terus mendatangi kelas dua, dengan selalu membawa bekal kotak warna pink dan ada isi kue kue di dalamnya. Namun tetap tidak bertemu pada gadis itu. Vadeo menyesal kenapa tidak menanyakan namanya saat itu.
Lalu Vadeo memberanikan diri datang ke ruang guru, di saat istirahat. Dia menanyakan pada salah satu guru wali kelas dua, dengan menyebut ciri ciri gadis kecil pemilik kotak makanan dan botol minum warna soft pink tersebut.
“Ooo dia Alexa sudah pindah ke luar negeri katanya mau belajar membuat coklat.” jawab Ibu Guru wali kelas dua tersebut. Vadeo mematung sambil masih memegang bekal warna soft pink tersebut.
Dan Bang Bule Vincent lah sahabat nya yang duduk di kursi samping nya yang selalu menghabiskan kue kue yang dibawa oleh Vadeo.
Flashback off
“Ha... ha... ha... enyak dong Ante Pin maem tue tue teyus yan dibawa Papa.” Ucap mereka berdua sambil tertawa saat Vadeo selesai bercerita.
“Mama baik ya nacih betal maem na buat Papa..” gumam Valexa dan Deondria selanjutnya dengan bibir tersenyum dan sorot mata berbinar binar mereka berdua semakin kagum dan sayang pada sang Mama.
“Tayak cetayang ya Pa?” tanya Valexa dan Deondria yang baru ditinggal beberapa hari saja oleh Sang Mama bagi mereka sudah terasa lama sekali.
“Lebih lama Sayang..” jawab Vadeo sambil terus membelai rambut kepala kedua anak nya, dia pun bisa merasakan kerinduan buah hati nya itu pada sang Mama.
“Ada anak yain yan nacih betal Papa ceteyah Mama pedi?” tanya Deondria kepo
“Ada banyak ha... ha... Papa kan keren lebih keren dari Om Richardo idola kalian itu.” Jawab Vadeo sambil tertawa
“Hmmm.” Gumam mereka berdua lalu bangkit dari tidur nya dan langsung duduk menghadap Sang Papa. Ekspresi wajah mereka pun terlihat sangat serius. Vadeo pun langsung terhenti tawa nya karena kaget melihat kedua anak nya yang langsung duduk dan menatap nya dengan pandangan mata serius.
“Pa, tayak na ada oyang itu loh..” Ucap Valexa dengan nada serius.
__ADS_1
“Di mana?” tanya Vadeo khawatir jika ada bahaya mengancam saat ini.
“Di cetoyah Papa, yan nacih betal maem te Papa seteyah Mama pedi.” Ucap Valexa.
“Maksud mu sopir perempuan baru itu?” tanya Vadeo dengan nada serius pula sambil menatap wajah mungil kedua anak nya.
“Iya.” Jawab mereka berdua sambil menganggukkan kepala nya dengan mantap.
“Mana mungkin Sayang, sekolah Papa dan Mama dulu sekolah elite hanya anak orang orang kaya yang bisa masuk karena biaya mahal. Dan tidak ada bea siswa untuk murid.” Ucap Vadeo sambil membelai dengan lembut rambut kepala kedua anak nya.
“Tapi tayakna ada dech Pa..” Ucap mereka berdua sambil mendongak menatap wajah Sang Papa dengan ekspresi wajah serius agar Sang Papa mau percaya pada mereka.
“Ya sudah besok tanya pada Uncle Vin, dia pasti lebih ingat karena dia yang masih terus bersekolah di Indonesia pasti yang lebih sering berkomunikasi dengan teman teman waktu kecil.” Ucap Vadeo berusaha untuk percaya pada kedua anak nya.
“Atikah? Sepertinya tidak ada nama Atikah di kelas ku dulu tapi entah lah kalau di kelas lain.” Gumam Vadeo yang berusaha mengingat ingat masa lalu nya.
Sementara itu di tempat lain. Atikah masuk ke dalam kamar nya dengan kesal.
“Hmmm dua anak itu benar benar menyebalkan.” Ucap Atikah dengan nada kesal.
“Awas saja nanti suatu saat akan aku beri mereka obat tidur atau kalau perlu aku beri dia barang yang suatu saat dikirim oleh Richie agar mereka tahu rasa.” Ucap Atikah lagi dengan senyum licik nya.
Di saat Atikah masih berpikir pikir untuk mencari cara bagaimana agar bisa membawa dua bocah itu tiba tiba, pintu kamar nya terdengar suara ketukan.
TOK TOK TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
__ADS_1