
Waktu pun berlalu, Atikah pun sudah sukses mendapatkan surat surat syarat untuk melamar pekerjaan di Mansion Jonathan.
“Pagi sekali kamu sudah siap At..” ucap Zulfa saat melihat Atikah sudah siap akan pergi.
“Iya Zul, jangan sampai terlambat kedahuluan orang lain atau terlambat Tuan Vadeo sudah berangkat kerja...” ucap Atikah sambil tersenyum.
“Semoga saja sukses At, seperti hal nya kamu bisa sukses dengan mudah mendapatkan surat surat itu.” Ucap Zulfa yang sambil bersiap siap diri untuk kerja.
“Ha... ha... ha... jika pakai uang segala urusan cepat Zul... uang itu bagai tongkat ajaib... sim salabim. ... semua langsung di depan mata... “ ucap Atikah sambil tertawa lalu dia pun segera melangkah keluar dari kamar Zulfa dan berjalan menuju ke motor ojek on line yang sudah datang.
Saat Atikah akan menaruh pantatnya di jok boncengan motor ojek on line itu. Terdengar suara dering hand phone Atikah yang berada di dalam tas nya.
“Bang tolong bawakan ini.” Ucap Atikah pada Bang Ojek on line sambil mengulurkan satu map yang berisi syarat syarat surat lamaran nya. Bang Ojek on line pun menurut dan menerima map itu. Sementara Atikah segera mengambil hand phone dari dalam tas nya.
“Hah salah.” Gumam Atikah saat salah ambil hand phone sebab di dalam tas itu memang ada dua hand phone. Dia pun lalu mengambil hand phone satu nya. Saat di lihat di layar hand phone ada nama kontak Richie melakukan panggilan suara. Atikah pun segera menggeser tombol hijau.
“Apa?” tanya Atikah saat sudah terhubung dengan Richie
“Kalau kamu sudah berada di sana cepat kamu kerjakan tugasmu. Awas kalau kamu lama lama karena kamu kesenangan berada di dekat Vadeo.” Ucap Richie dan selanjutnya sambungan telpon sudah diputus oleh nya.
Atikah tampak melihat layar hand phone nya yang sudah terputus sambungan komunikasi nya dengan Richie.
“Ha... ha... suka suka aku lah.. Aku bisa berdekatan dengan Tuan Vadeo dan juga bisa memeras uang mu Rich..” ucap Atikah dalam hati sambil tersenyum licik. Dia pun segera memasukkan lagi hand phone di dalam tas nya dan segera menaruh pantatnya di jok boncengan motor ojek on line. Abang ojek on line pun kembali menyerahkan map milik Atikah dan motor segera melaju menuju ke kawasan lokasi Mansion Jonathan.
Beberapa menit kemudian motor ojek on line itu pun sudah sampai di depan mansion Jonathan. Atikah segera turun dari motor dan berjalan menuju ke pos penjaga keamanan. Atikah pun segera memberikan map yang berisi syarat syarat lamaran kerjanya.
__ADS_1
“Baik Neng saya terima nanti saya serahkan pada kepala pelayan.” Ucap Petugas keamanan itu setelah menerima map dari Atikah dan sudah mengecek isi syarat syarat yang dibutuhkan.
“Apa saya tidak langsung menemui dia Pak?” tanya Atikah yang sangat ingin masuk ke dalam Mansion Jonathan itu.
“Nanti dihubungi lewat hand phone Neng. Ada proses nya.” Jawab petugas keamanan.
“Sudah Neng pulang dulu dan tunggu kabar lewat telepon.” Ucap petugas keamanan itu lagi karena melihat Atikah masih saja berdiri diam mematung. Sementara itu Atikah masih berpikir pikir bagaimana cara nya boleh masuk ke dalam Mansion atau setidaknya menunggu mobil Vadeo lewat. Melihat sekilas wajah Vadeo dibalik kaca mobil pun, untuk hari ini, itu sudah sangat melegakan bagi hati Atikah alias Amelia yang sudah mengidolakan Vadeo sejak dulu kala.
“Pak, saya sangat butuh pekerjaan apa tidak bisa hari ini diproses?” tanya Atikah kemudian.
“Sabar ya Neng, jika rejeki akan juga segera mendapatkan pekerjaan. Harus lewat proses Neng, saya juga hanya menjalankan perintah.” Ucap Petugas keamanan itu.
Dan sesaat kemudian tampak sebuah mobil berjalan dari dalam menuju ke pintu gerbang. Dan itu adalah mobil yang ditunggu tunggu oleh Atikah. Mobil Vadeo yang akan mengantar kedua anak nya ke sekolah.
Pandangan mata Atikah terus tertuju pada mobil yang semakin mendekat. Jantung Atikah berdebar debar saat samar samar terlihat wajah Vadeo di balik kaca mobil itu.
Dan mobil Vadeo pun terus berjalan melewati pintu gerbang.
“Neng dengar tidak, silahkan sekarang pulang dulu.” Ucap petugas keamanan yang sudah menutup pintu gerbang lagi dangan remot control nya.
“Oohh iya iya...” ucap Atikah yang tersadar dari lamunannya dan dia pun segera memesan ojek on line untuk pulang. Setidaknya dia sudah bahagia bisa melihat wajah Vadeo.
Sementara itu di dalam mobil Vadeo. Valexa dan Deondria yang tadi melihat sosok Atikah. Alarm di dalam tubuh mereka berdua menangkap suatu getaran ada tanda bahaya mengancam. Deondria yang duduk di jok depan di samping Vadeo tampak menoleh ke belakang ke arah Valexa saudara kembar nya yang duduk sendirian di jok belakang kemudi.
Valexa pun menatap Deondria. Bahu kedua bocah itu pun saling terangkat, sebagai isyarat ungkapan kata entahlah.
__ADS_1
“Apa apa?” tanya Vadeo sambil menoleh sekilas ke arah Deondria.
“Papa tenal denan oyang tadi?” tanya Deondria sambil menoleh mendongak menatap wajah Sang Papa dari samping.
“Orang yang mana?” tanya Vadeo karena dia tidak begitu memperhatikan Atikah. Pikiran dia masih berkutat untuk mencari psikolog buat mendampingi anak anak nya.
“Oyang yang tadi bediyi di detat pintu debang..” saut Valexa.
“Papa ga lihat.” Jawab Vadeo sambil terus melajukan mobilnya. Dan dua bocah itu pun tampak hanya diam saja. Tidak seperti biasanya yang selalu cerewet cerita macam macam atau tanya ini itu.
Mobil terus melaju menuju ke play group tempat Valexa dan Deondria sekolah. Vadeo sekilas menoleh pada Deondria yang masih duduk diam.
“Ada apa dengan orang yang berdiri di pintu gerbang?” tanya Vadeo selanjutnya karena paham setelah melihat orang di pintu gerbang kedua anak nya tampak terdiam.
“Oyang dahat.. tapi atu tepo.. atu dadi binung...” Jawab Deondria sambil telunjuk jari mungil nya mengetuk ngetuk dahi nya sendiri.
“Iya Pa, atu tu duda tepo pada oyang itu.. tapi na dia dahat..” saut Valexa dengan nada serius.
“Binun tan dadi na...” ucap Valexa lagi
“Iya nanti Papa suruh petugas keamanan untuk berhati hati.. “ ucap Vadeo dengan sabar.
“Kalian kalau ada apa apa harus cerita pada Papa atau Oma Opa..” ucap Vadeo selanjutnya sebab dia sudah diberi pesan oleh Ibu Ami agar sabar dan bijak dalam mendengarkan apa yang disampaikan oleh anak anak nya.
“Papa duda hayus hati hati...” teriak mereka berdua sambil menatap Sang Papa nya.
__ADS_1
“Siap...” Jawab Vadeo sambil tersenyum lebar agar kedua anak nya juga ikut tersenyum tidak murung lagi wajahnya karena gelisah.
Mobil pun terus melaju membelah jalan raya.