
“Atu tu tau tayo dia oyang dahat. (Aku tuh tahu kalau dia orang jahat).” Teriak Deondria dengan lantang tidak lupa tangan mungilnya bersedekap dan bibir mengerucut ke depan saat berucap.
“Oma pati ga pecaya. (Oma pasti ga percaya)..” Teriak Valexa juga sambil menatap Sang Oma. Nyonya Jonathan lalu teringat akan pesan pesan akan Ibu Ami. Nyonya Jonathan lalu mengambil nafas dalam dalam.
“Terus apa menurut kalian, dia harus dibatalkan, diganti dengan orang lain?” Tanya Nyonya Jonathan dengan nada suara yang sudah melemah sambil menatap kedua wajah cucu nya yang terlihat berekspresi wajah kedua nya masih tampak kesal. Sedangkan Vadeo tampak menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil melihat Mama dan anak anak nya bertengkar.
“Ndak usah.” Teriak mereka berdua tanpa melihat sang Oma.
“Lah katanya orang jahat kok tidak boleh diganti.” Ucap Sang Oma tampak heran sambil masih menatap cucu cucu nya.
Kedua bocah itu pun terlihat diam dan saling pandang satu dan satu nya.
Vadeo melihat kedua anak nya. Dia paham jika kedua anak nya itu penasaran dengan Atikah orang yang melamar pekerjaan akan tetapi mereka menangkap sinyal jika Atikah orang jahat.
“Tapi na dia ndak dadi coping na Aya tan Aca. (tapi nya dia tidak jadi sopir nya Aya dan Aca).” Ucap Deondria sambil menatap Sang Oma.
“Ditukeng, coping ceniyong yan antang tita. (ditukar sopir senior yang antar kita).” Teriak Valexa sambil menatap Sang Oma pula.
“Diya dadi coping yan antang peyayan te pacang beyanda beyanda.(Dia jadi sopir yang antar pelayan belanja belanja).” Ucap Deondria lagi.
“Tayo ga mau ya Papa yan antang tita. ( Kalau tidak mau ya Papa yang antar kita)..” Ucap Valexa sambil menatap Vadeo yang masih menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
“Iya, udah ditu aja.( Iya, sudah gitu saja)." Teriak mereka berdua selanjutnya.
“Okey baiklah nanti Oma bilang pada kepala pelayan. “ ucap Nyonya Jonathan yang menyetujui kemauan kedua cucu nya untuk menukar pekerjaan posisi sopir sopir yang berada di mansion Jonathan. Sopir senior yang biasa mengantar Nyonya Jonathan beralih tugas untuk mengantar si kembar. Sopir yang biasa mengantar pelayan ke pasar berganti mengantar Nyonya Jonathan dan Atikah bertugas untuk mengantar para pelayan.
“Okey sudah deal ya? Sekarang Papa mau kembali ke Jonathan Co.” Ucap Vadeo sambil menegakkan tubuh nya di tempat duduk.
__ADS_1
“Ayo, atu mau daga Papa. (Ayo, aku mau jaga Papa).” Teriak Valexa sambil bangkit dan mendekati Papanya.
“Atu duda. (Aku juga)..” Teriak Deondria pula dan juga mendekati Vadeo.
“Sayang bukannya kalian perlu istirahat.” Ucap Vadeo sambil mengeryitkan dahi nya. Sebab heran juga dengan ucapan kedua anaknya yang ingin menjaga diri nya.
“Harus nya aku Papa nya yang menjaga mereka kok malah aku mau dijaga anak anak balita.” Gumam Vadeo dalam hati sambil memijit mijit pelipis nya.
“Butan na Papa yan peyu itiyahat? Tata Papa atu tan Aca tuat dayi oyang yain.. oyang yain peyu itiyahat. (bukannya papa yang perlu istirahat? Kata Papa aku dan Aca kuat dari orang lain)." Ucap Valexa sambil menatap sang Papa yang masih memijit mijit pelipisnya. Deondria tampak mengangguk anggukkan kepalanya.
Vadeo hanya terdiam karena kemarin dia sudah memberi pengertian pada si kembar, saat Bang Bule terkapar jika mereka berdua memiliki energi yang lebih banyak dari orang lainnya jadi orang lain perlu beristirahat. Tidak mau Vadeo mengalami hal yang sama seperti yang Bang Bule alami. Vadeo pun hanya bisa mengalah. Dia lalu mengambil hand phone dari saku blazer nya. Vadeo lalu mengusap usap layar hand phone nya. Dia akan menghubungi Opa Jo.
Beberapa saat sambungan telepon sudah terhubung dengan Tuan Jonathan.
“Pa, aku tidak bisa kembali ke Jonathan Co. Harus menemani Valexa dan Deondria mereka tidak mau ditinggal.” Ucap Vadeo dengan santun.
“Hah? Bukan nya dulu rencana nya aku yang pensiun dan momong cucu. Kok malah kamu yang enak enak momong anak anak kamu?” tanya Tuan Jonathan dengan nada tinggi.
“Ya sudah selamat menikmati.” Suara Tuan Jonathan lalu beliau memutus sambungan teleponnya. Vadeo melihat layar hand phone nya yang sudah tidak terhubung dengan sang Papa.
“Kalian semua sudah makan siang?” tanya Oma Jo selanjutnya saat Vadeo sudah menaruh lagi hand phone nya di saku blazer nya.
“Cudah... Oma cayang.....” jawab Valexa dan Deondria dengan lantang karena memang mereka bertiga sudah makan siang sebelum konsultasi di psikolog tadi.
“Ya sudah Oma mau menemui Kepala pelayan dan Pak Sopir senior.” Ucap Nyonya Jonathan lalu bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan ruang keluarga itu.
“Ayo Pa tita itiyahat di tamal (Ayo Pa kita istirahat di kamar).” Ucap Valexa dan Deondria sambil menarik tangan Vadeo.
__ADS_1
“Hmmm ayo kita nikmati quality time kita...” ucap Vadeo lalu menggendong kedua puterinya satu digendong di depan dan satu nya digendong di belakang kedua anak itu tertawa tawa bahagia.
“Teyepon Mama ya.. Pa..(telepon Mama ya Pa).” pinta mereka berdua dan Deondria yang digendong di depan pun tangan mungilnya mengambil hand phone Vadeo dari saku blazer.
“Mama masih bobok, di sana masih malam sekali...” ucap Vadeo sambil melangkahkan kaki nya dan mulai menaiki anak tangga menuju ke kamar nya. Dan selanjutnya mereka bertiga pun dengan bahagia menikmati quality time di kamar Vadeo.
Dan di malam hari nya, Valexa dan Deondria sudah dibersihkan kaki dan tangan mereka oleh Sang pengasuh termasuk sudah menyikat gigi mereka dengan bersih agar tetap terjaga bersih , rapi dan putih.
Kedua pengasuh itu pun menggendong tubuh Valexa dan Deondria dari kamar mandi menuju ke tempat ruang ganti baju.
“Atu mau bobok di tamal Papa. (Aku mau bobok di kamar Papa).” Ucap Valexa yang sudah selesai dipakai piyama tidur oleh Sang pengasuh nya.
“Atu duda mau daga Papa. (Aku juga mau jaga Papa).." saut Deondria yang juga sudah memakai baju piyama tidur nya. Mereka memakai baju piyama dengan motif yang sama cuma warna yang berbeda.
Sebelum dua pengasuh itu mengucapkan satu patah kata pun, kedua bocah itu sudah berlari menuju ke pintu kaca pembatas kamar.
“Hah, baru saja kaki nya dibersihkan dan digendong agar tidak kotor malah tidak memakai sandal langsung saja berlari.” Gumam salah satu pengasuh mereka.
Dan tidak lama kemudian sudah terdengar suara teriak mereka berdua memanggil manggil sang Papa Vadeo sambil menggerak gerakkan handel pintu.
Vadeo pun segera membuka pintu kaca pembatas kamar itu. Dan kedua bocah itu langsung saja berlari menuju ke tempat tidur Vadeo dan segera meloncat ke atas tempat tidur Vadeo.
“Kalian mau tidur sama Papa?” tanya Vadeo yang sudah menutup pintu pembatas dan merapikan korden tebal nya.
“Iya mau daga Papa....(iya mau jaga Papa...)" teriak mereka berdua.
Akhirnya Vadeo pun naik ke atas tempat tidur dan kedua anaknya itu tidur di samping kiri dan kanan nya sambil memeluk tubuh Vadeo dengan erat. Mereka berdua bagai takut kehilangan Sang Paoa nya. Mungkin mereka merasakan ada sinyal bahaya yang akan mengganggu Papa mereka.
__ADS_1
Sementara itu di lain tempat di kost Zulfa. Atikah tidak bisa tidur karena sangat bahagia hatinya. Dia sudah di hubungi oleh kepala pelayan jika diterima kerja dan besok pagi sudah harus masuk kerja. Berkali kali Atikah membolak balikkan tubuhnya di tempat tidur.
“Sudah tidur saja At, besok kamu kan harus mulai masuk pagi hari, agar tidak kesiangan bangun.” Ucap Zulfa yang juga jadi ikut tidak bisa tidur karena suara tubuh Atikah yang membolak balik menimbulkan suara.