
Vadeo dengan tangan masih gemetar menarik anak kunci emas itu. Lalu menaruh lagi ke dalam saku kemejanya. Tampak ular besar sudah menggeserkan tubuhnya untuk masuk ke dalam, dan kembali memancarkan sinar cahaya dari kepalanya. Vadeo membuka pintu dengan agak lebar. Bang Bule Vincent dan Richardo yang juga penasaran segera masuk ke dalam. Vadeo pun juga segera masuk ke dalam.
“Pa ditunci yadi ya... (Pa dikunci lagi ya..)” ucap Valexa mengingatkan lagi. Dia tahu jika Sang Papa sedang dalam keadaan gugup karena tidak menyangka ada tempat seperti itu di atas pulau Alexandria milik mereka. Vadeo lalu mengambil kunci emas itu lagi dari saku kemejanya. Lalu menutup lagi dua daun pintu kayu jati berukir indah yang sangat kokoh itu. Dan setelahnya Vadeo mengunci lagi pintu istana itu. Dan masih gemetar Vadeo mengambil kunci emas itu lagi.
Vadeo yang masih menggendong Valexa itu lalu membalikkan tubuhnya. Tampak Bang Bule Vincent dan Richardo sudah melangkah mengikuti ular besar yang berjalan di atas lantai pualam yang berkilau kilau akibat pantulan cahaya dari kepala sang ular besar.
Ruangan itu terlihat sangat luas. Ornamen ornamen artistik dan elegan menempel pada dinding ruangan yang luas itu. Ornamen lampu lampu indah pun tergantung pada atap yang tingginya kira kira mendekati sepuluh meter itu. Ornamen ornamen itu kebanyakan bernuansa warna emas. Di ujung jauh terlihat kursi Singgasana Sang Raja.
“Hmm apa ini tempat jika Sang Raja Mahadiraja sedang mengadakan suatu pertemuan.” Gumam Vadeo dalam hati. Vadeo pun terus mempercepat langkahnya. Karena terlihat sang ular juga lebih cepat dalam menggeser tubuhnya.
Setelah sampai di ujung ruangan tampak sang ular besar menuju pada pintu yang ada di dinding. Pintu itu juga terbuat dari kayu jati murni dan berukir indah pula akan tetapi ukurannya lebih kecil. Tampak ular besar itu menatap Valexa dan Deondria secara bergantian.
“Pa, ambik tunci di yampu camping pintu itu.. (Pa ambil kunci di lampu samping pintu itu...)” ucap Deondria pada Vadeo, di kanan kiri daun pintu memang ada lampu hias yang menempel di dinding. Vadeo tampak menoleh ke kanan dan kiri. Bingung.
“Yang tanan.. (yang kanan).” Ucap Valexa. Vadeo pun lalu sedikit melangkah menuju ke samping kanan pintu dan mengulurkan tangannya pada lampu tempel itu dan memang ada satu buah kunci. Vadeo pun lalu mengambilnya.
__ADS_1
Sementara itu Bang Bule Vincent dan Richardo masih terlihat mengagumi ruangan yang luas berserta isiannya itu. Mereka berdua menoleh ke kiri ke kanan, mendongak menunduk. Mata mereka berdua pun melebar karena kaget dan kagum.
Vadeo memasukkan anak kunci yang baru saja dua ambil pada handel pintu itu dan dengan segera dia memutar handel pintu itu lalu membuka daun pintu. Setelah pintu terbuka sang ular pun segera menggeser tubuhnya melewati pintu itu. Vadeo pun segera melangkah mengikuti nya.
“Deo tunggu...” teriak Bang Bule Vincent sebab kini ruangan yang luas itu sudah menggelar hanya ada sedikit sinar dari pintu yang terbuka.
Bang Bule Vincent dan Richardo pun juga turut serta segera masuk melewati pintu itu. Tampak kini mereka berada di ruangan terbuka tanpa atap akan tetapi ada dinding tinggi, mungkin dulu itu taman di dalam kalau melihat ornamen ornamen yang ada. Akan tetapi jalan yang mereka lewati juga merupakan lantai pualam berkilau kilau.
Sang ular terus menggeser tubuhnya dengan cepat pada jalan berlantai pualam yang panjang menyerupai koridor itu. Setelah sampai di ujung Sang ular besar berbelok ke kanan. Dan beberapa menit kemudian mereka sampai pada suatu ruangan ruangan. Tampaknya di situ adalah kamar kamar Sang Raja dan Puteri Puteri nya.
Ular besar itu terus saja mengajak mereka untuk melihat seluruh isi dalam kerajaan itu.
Alexandria dan Ixora sudah siap berada di ruang makan karena memang sudah waktunya makan malam. Akan tetapi Vadeo dan anak anak nya belum juga pulang dan belum bisa dihubungi.
“Kak, makan dulu saja.. dikit dulu tidak apa apa, nanti makan lagi kalau mereka sudah pulang.. “ ucap Ixora yang sudah duduk manis di kursi makan. Sedangkan Alexandria tampak berjalan mondar mandir di ruang makan itu dan srsrkalu keluar dari ruang makan menuju ke ruang tamu, tidak ketinggalan hand phone selalu di dalam genggaman tangannya.
__ADS_1
“Kamu kalau sudah lapar makan dulu saja. Aku belum lapar.” Ucap Alexandria tampak ekspresi wajah nya gelisah.
“Tapi Kak Alexa sejak siang belum makan. Ingat baby di dalam perut Kak..” ucap Ixora sambil menatap sosok Sang Kakak yang masih berjalan mondar mandir. Alexandria lalu tampak berhenti dan selanjutnya melangkah menuju ke meja makan.
“Terus mereka makan apa? Bagaimana dengan pak sopir yang tersesat dan hand phone nya tidak bisa dihubungi semua. Kecuali pak sopir yang datang belakangan. Tapi kularang dia pergi pergi dari mobil agar tidak ikut tersesat.” Ucap Alexandria sambil mendudukkan pantatnya di kursi makan yang tidak jauh dari Ixora. Alexandria tampak mengusap usap dengan lembut perutnya bagai minta maaf pada janin di dalam perutnya dan meminta agar sabar dan kuat.
“Aplikasi Kakak tidak bisa mendeteksi mereka?” tanya Ixora sambil mengambilkan nasi pada piring sang Kakak.
“Hanya ada informasi di bukit itu.” Jawab Alexandria, sambil tangannya memberi kode pada Ixora kalau nasi yang Ixora ambilkan sudah cukup, sebab tampak tangan Ixora mengambil nasi lagi.
Akan tetapi saat tangan Alexandria akan mengambil sayur m, terdengar suara notifikasi di hand phone. Alexandria segera mengambil hand phone yang dia taruh di dalam saku celana kulotnya. Dan setelah melihat layar hand phone nya tampak ekspresi wajah Alexandria menegang.
“Informasi dari aplikasi pulau ada bahaya Ix.” Gumam Alexandria lalu tampak dua mengusap usap layar hand phone nya untuk membuka aplikasi pulau.
“Hah?” ucap Ixora tampak kaget dia yang akan mengambil sayur pun langsung gerakan tangannya terhenti. Meskipun saat akan berangkat menuju ke pulau sudah diberi tahu oleh Bang Bule Vincent suaminya jika pulau Alexandria dalam situasi bahaya karena banyak yang menginginkannya. Akan tetapi dia tidak menduga jika alarm bahaya datang di saat keluarga mereka sedang dalam tercerai begini dan di malam hari.
__ADS_1
Ixora pun lalu bangkit dari tempat duduknya dia lalu berjalan menuju ke meja kecil yang berada di dinding ruang makan itu untuk mengambil hand phone nya yang tadi dia taruh di sana. Ixora lalu mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi anak buah Bang Bule Vincent yang berjaga di perbatasan.
....