
Mobil terus melaju menuju ke rumah Tuan Rangga, Bang Bule dan Vadeo duduk di jok belakang kemudi. Sang pengawal yang duduk di jok depan di samping Pak Sopir pun tampak terus memasang mode waspada. Dia kini tahu jika Sang Tuan sedang membawa barang berharga.
Tampak Vadeo masih melanjutkan membuka buka lembar lembar kertas manuskrip kuno itu dengan serius.
“Apa kamu belum menemukan gambar ular besar itu Bro?” tanya Bang Bule sambil lirik ke arah manuskrip kuno itu, sebab sejak tadi Vadeo selalu menjauhkan manuskrip nya jika Bang Bule Vincent ingin ikut melihat nya.
“Coba sini aku yang lihat Bro.” Ucap Bang Bule Vincent lagi sambil menengadahkan tangannya akan tetapi tidak juga mendapatkan manuskrip itu akan tetapi malah mendapat tepukan dari telapak tangan Vadeo.
“Ha.... ha... nanti aku gambar ular ajaib ku ha... ha... “ suara Bang Bule Vincent sambil tertawa. Sedangkan Vadeo masih saja membuka buka manuskrip itu dengan hati hati agar tidak robek.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki suatu kawasan perumahan sederhana. Pak Sopir yang sudah diberi tahu oleh Bang Bule rumah yang akan dituju terus melajukan mobil nya tidak lagi bertanya tanya.
Dan se saat kemudian mobil berhenti di depan suatu rumah yang halaman nya tidak luas.
“Bro, sudah sampai.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menepuk paha Vadeo.
“Kamu turun lebih dulu, pastikan benar Tuan Rangga di rumah itu dan semua dalam keadaan aman.” Perintah Vadeo pada Bang Bule Vincent sambil menutup manuskrip yang tadi dia buka buka.
Bang Bule Vincent pun segera membuka pintu mobil dan melangkah keluar dari mobil.
Saat Bang Bule Vincent sudah berada di depan pintu pagar tampak ada sosok laki laki muda yang kira kira berusia dua puluh tahun berjalan mendekat ke arah pintu pagar rumah. Wajah nya sudah dikenali oleh Bang Bule saat melakukan video call.
“Selamat datang Tuan Vincent, Opa sudah menunggu.” Ucap laki laki muda itu yang tidak lain adalah asisten Tuan Rangga.
Bang Bule pun lalu masuk ke dalam pintu pagar yang sudah dibukakan oleh Asisten Tuan Rangga. Bang Bule Vincent lalu mengikuti langkah kaki Asisten Tuan Rangga sambil melihat lihat situasi dan kondisi rumah dan sekitarnya.
Sesaat kemudian Asisten Tuan Rangga membukakan pintu rumah dan saat Bang Bule Vincent masuk ke dalam rumah itu tampak sosok Taun Rangga yang duduk di kursi roda.
“Selamat datang Tuan Vincent mana Tuan Vadeo?” suara Tuan Rangga menyapa Bang Bule Vincent yang baru datang. Bang Bule Vincent lalu berjalan mendekat dan selanjutnya menjabat tangan Tuan Rangga dan mencium punggung tangan Tuan Rangga dengan sopan.
__ADS_1
“Sebentar lagi Tuan Vadeo datang.” Ucap Bang Bule Vincent lalu dia mendudukkan pantatnya di kursi tamu karena sudah dipersilahkan oleh Asisten Tuan Rangga.
“Tuan tinggal di sini hanya dengan Asisten Tuan?” tanya Bang Bule Vincent sambil menatap wajah Tuan Rangga. Bang Bule Vincent perasaannya tersentuh saat melihat sosok Tuan Rangga yang sudah tua duduk di kursi roda dan situasi rumah tampak sepi.
“Iya, dia Juna asisten pribadi ku dan juga cucuku. Ada satu lagi asisten rumah tangga .” jawab Tuan Rangga dan tidak lama kemudian ada seorang perempuan datang dengan membawa nampan berisi empat cangkir berisi minuman.
Bang Bule tampak mengamati situasi dan orang orang yang ada di dalam rumah itu. Setelah di rasa semua aman aman saja, Bang Bule lalu meng ambil hand phone di saku celana cargonya. Bang Bule Vincent pun segera mengusap usap layar hand phone nya.
“Bro cepat sudah ditunggu Tuan Rangga.” Suara Bang Bule Vincent yang panggilan suaranya sudah diterima oleh Vadeo.
Beberapa saat kemudian pintu rumah itu terdengar suara ketukan. Asisten Tuan Rangga bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu rumah yang terdengar suara ketukan. Dan dengan segera dia membuka daun pintu itu. Sosok Vadeo pun sudah berdiri di depan pintu dengan tangan yang membawa tas kerja nya yang di dalamnya ada manuskrip kuno.
“Silahkan masuk Tuan.” Ucap Asisten Tuan Rangga dan juga Tuan Rangga dari kursi roda nya.
Vadeo pun melangkah menuju ke tempat duduk Tuan Rangga dia pun menjabat tangan Tuan Rangga dengan sopan seperti hal nya Bang Bule Vincent.
“Mari Tuan, tunjukkan manuskrip itu pada saya.” Ucap Tuan Rangga sambil.menatao Vadeo dan Bang Bule Vincent secara bergantian.
“Okey okey...” ucap Tuan Rangga sambil mengangguk anggukan kepalanya.
“Jun, ambilkan kaca pembesar.” Perintah Tuan Rangga pada Juna sang cucu yang sekaligus asisten pribadinya.
Tidak lama kemudian Juna datang dengan membawa kaca pembesar. Vadeo pun sudah duduk di samping kursi roda Tuan Rangga dengan tangan membawa manuskrip itu dan didekatkan pada Tuan Rangga. Tangan Tuan Rangga yang sudah membawa kaca pembesar itu lalu di arahkan pada tulisan tulisan yang ada di atas manuskrip itu.
“Pulau Kemakmuran.” Suara Tuan Rangga dengan pelan pelan.
“Ooo nama nya dulu pulau Kemakmuran.” Gumam Bang Bule Vincent dan Vadeo secara bersamaan. Bang Bule Vincent pun tampak sudah mulai mengetik ngetik apa yang diucapkan oleh Tuan Rangga di hand phone nya.
“Itu sebutan orang orang di jaman dulu untuk pulau yang dibahas di manuskrip ini.” Ucap Tuan Rangga
__ADS_1
“Okey Kek, lanjut... eh maaf..” ucap Bang Bule
“Tak apa aku suka kalian panggil aku Kakek.” Ucap Tuan Rangga sambil tersenyum.
Tuan Rangga pun melanjutkan menerjemahkan isi dari manuskrip itu, dan kini yang dia baca dan dia terjemahan bercerita tentang letak geografis wilayah pulau itu, lalu tentang iklim, tentang jenis tanah, jenis tanam tanaman yang tumbuh di pulau itu, mulai dari tanaman liar dan tanaman yang dibudidayakan juga tentang binatang binatang baik yang liar pun juga yang dibudidayakan.
“Apa ada binatang ular besar secara khusus Kek?” tanya Vadeo
Di saat Tuan Rangga belum menjawab terdengar banyak suara notifikasi masuk di hand phone Bang Bule dan juga suara dering di hand phone Vadeo. Semua orang pun terdiam. Vadeo segera meraih hand phone dari saku jas nya. Saat dilihat ada panggilan video dari Richardo masuk di hand phone Vadeo.
“Tuan Rangga maaf.” Ucap Bang Bule Vincent dan Vadeo secara bersamaan.
“Hmm rupanya kalian berdua orang penting yang sangat sibuk. Silahkan.” Ucap Tuan Rangga sambil menatap Vadeo dan Bang Bule Vincent.
“Maaf Tuan.” Ucap Vadeo lalu bangkit berdiri dan melangkah menjauhi Tuan Rangga. Vadeo lalu menggeser tombol hijau. Dan sesaat di layar hand phone Vadeo muncul wajah imut kedua anaknya.
“Sayang ada apa?” Tanya Vadeo dengan nada khawatir
“Papa nanti bawa Opa Tua itu te Mansion tita.. (Papa nanti bawa Opa Tua itu ke Mension kita).” Suara Valexa dan Deondria dengan lantang.
“Sayang ... Kalian tahu ada Opa Tua di sini.” Ucap Vadeo dengan pelan pelan.
“Iya Papa, nanti bawa diya te Mansion tita dan daga yumah na.. (Iya Papa, nanti bawa dia ke Mansion kota dan jaga rumah nya...).” ucap Valexa selanjutnya dan tampak Deondria mengangguk anggukkan kepalanya . Dan setelah Vadeo mengiyakan sambungan teleponnya terputus. Vadeo pun melangkah mendekati Bang Bule Vincent yang masih duduk sibuk dengan hand phone nya.
“Bul, mereka minta kita membawa Tuan Rangga ke Mansion Jonathan dan pengamanan di rumah ini.” Bisik Vadeo pada Bang Bule Vincent
“Iya Bro, ini juga semakin ramai yang mencari tahu tentang informasi pulau Alexandria. Bahkan sudah mencari tahu siapa pemilik pulau Alexandria. “ ucap lirih Bang Bule Vincent sambil menatap wajah Vadeo yang berdiri di dekat nya dan masih membungkuk mencondongkan wajahnya dindekat telinganya.
“Hmmm Ada apa ya apa ada kaitannya dengan perhiasan langka dan ular besar itu.” Gumam Vadeo lalu menegakkan badan nya dan melangkah mendekati Tuan Rangga yang tampak memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1
...