Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 181.


__ADS_3

Nyonya Jonathan pun segera memerintahkan pada pengawal yang membawa anjing agar menuruti ke mana anjing itu ingin pergi.


“Kamu ikuti anjing itu ke mana pergi nya jangan kamu kekang rantainya.” Ucap Nyonya Jonathan sambil menoleh ke arah Sang pengawal yang memegang rantai anjing itu.


“Baik Nyonya.” Ucap Sang pengawal lalu sedikit melonggarkan pegangannya pada rantai anjing itu. Dan sang anjing pun berjalan lebih cepat bahkan berlari mendahului Nyonya William. Sang pengawal yang memegang rantai itu ikut berlarian sambil terus memegang rantai.


“Sudah pasti itu anjing ke atas bukit tempat Vadeo mendapatkan cincin permata itu.” Ucap Nyonya William sambil tersenyum lebar, dia pun kini ikut berjalan lebih cepat untuk mengikuti Sang anjing. Nyonya Jonathan pun juga ikut berjalan dengan cepat mengikuti langkah kaki sang besan perempuan. Satu pengawal lainnya terus berjalan di belakang kedua Nyonya itu, dengan kedua tangannya memegang tas milik Nyonya Jonathan dan Nyonya William.


Beberapa menit kemudian. Nyonya Jonathan dan Nyonya William menghentikan langkahnya.


“Aduh, perutku sakit sekali.” Ucap Nyonya Jonathan sambil memegang perutnya.


“Iya sama, mungkin karena kita habis makan langsung berjalan cepat.” Ucap Nyonya William tampak agak ngos ngos an nafasnya.


“Ya sudah kita pelan pelan saja tidak usah ikut ikut anjing itu.” Ucap Nyonya Jonathan selanjutnya.


Mereka berdua pun meminta tas miliknya dari tangan sang pengawal untuk mengambil minyak aroma terapi dan sejenisnya untuk mengurangi rasa sakit pada perut dan kakinya. Setelahnya mereka bertiga pun berjalan pelan pelan.


“Pengawal kamu itu yang membawa anjing apa bisa dipercaya? Apa dia tidak akan menyembunyikan permata langka jika nanti anjing itu sudah menemukan permata?” Tanya Nyonya William pada Sang besan perempuannya dengan suara lirih agar tidak didengar oleh Sang pengawal yang berjalan di belakang nya.


“Tidak, dia jujur, sudah terbukti.” Jawab Nyonya Jonathan dengan suara lirih pula.


Akan tetapi tiba tiba di atas bukit itu terdengar suara anjing yang menggonggong dengan sangat keras berkali kali.


“GUK GUK GUK... AUUNGG.......”

__ADS_1


“GUK GUK GUK GUK GUK GUK... AUUUUUNNGG....”


Selain menggonggong anjing itu juga melolong dengan suara keras dan sangat panjang.


“Ada apa anjing itu?” gumam Nyonya Jonathan dan Nyonya William secara bersamaan.


“Mungkin dia sudah mendapatkan apa yang dicarinya, dan memanggil kita.” Gumam Nyonya Jonathan selanjutnya sambil tersenyum dengan lebar. Nyonya William pun tersenyum dan mengangguk anggukkan kepalanya lalu mereka berdua mempercepat langkahnya menuju ke arah suara sang anjing.


“Nyonya jangan cepat cepat, nanti sakit lagi.” Ucap Sang pengawal dengan keras mengingatkan pada kedua Nyonya itu untuk memikirkan kesehatannya.


“Kamu tenang saja kalau mendapatkan permata langka itu semua sakit di tubuhku spontan hilang ha... ha... “ ucap Nyonya William sambil terus berjalan dengan cepat. Suara anjing itu terus saja menggonggong dan melolong.


Beberapa saat kemudian Nyonya Jonathan dan Nyonya William juga sang pengawal sudah sampai di atas bukit pohon asam. Akan tetapi Nyonya Jonathan dan Nyonya William terlihat kaget sebab anjing itu hanya duduk sambil terus melolong dan menggonggong dengan arah kepala atau tatapan mata tertuju pada kursi singga sana si kembar. Sang pengawal yang memegang rantai itu tampak terduduk juga dengan wajah yang sangat pucat.


“Nyonya lihat itu di bawah kursi yang ada di bawah pohon asam itu.” Ucap Sang pengawal yang duduk dengan wajah pucat, tangannya gemetaran sambil menunjuk ke arah bawah kursi singga sana si kembar.


Nyonya Jonathan dan Nyonya William pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Sang pengawal yang duduk dengan wajah pucat dan gemetaran itu.


“Hah?” suara Nyonya Jonathan dan Nyonya William dengan ekspresi yang sulit diartikan mereka berdua kaget, takut, panik hingga wajahnya pucat pasi karena melihat ular yang sangat besar.


Setelah melihat ada satu ekor ular yang sangat besar dan kepala terarah ke pada mereka dengan lidah menjulur julur dan berdesis desis suaranya. Kedua Nyonya itu pun langsung lemas lunglai seluruh tubuhnya. Sang pengawal di belakang nya yang juga gemetaran dan pucat setelah melihat ular besar itu, menangkap tubuh kedua Nyonya itu. Akan tetapi karena dia juga gemetaran, akhirnya sang pengawal pun juga terduduk dan langsung memangku tubuh kedua Nyonya itu yang sudah tidak sadarkan diri.


“Kita turun saja, kita balik saja. Tuan Jonathan dan Tuan William akan marah pada kita jika terjadi apa apa pada Nyonya Nyonya ini. Biar saja Nyonya marah pada kita yang penting kita semua selamat.” Ucap sang pengawal yang memegang rantai anjing.


“Tapi aku lemes banget nih. Tidak kuat menggendong tubuh Nyonya.” Ucap sang pengawal yang masih memangku tubuh Nyonya Jonathan dan Nyonya William yang masih tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Ke dua pengawal itu berusaha membangunkan Nyonya Jonathan dan Nyonya William akan tetapi hasilnya sia sia. Kedua Nyonya itu masih saja pingsan.


Dua pengawal itu pun berdiri pelan pelan sambil menarik tubuh kedua Nyonya itu agar sedikit menjauh dari lokasi itu. Yang terpenting tidak terlihat oleh sang ular besar itu. Sedangkan sang anjing pelacak sudah berlari lebih dulu meninggalkan mereka setelah tahu Tuannya bermaksud untuk kembali pulang.


Setelah agak menjauh dari lokasi pohon asam dan sang ular besar sudah tidak terlihat dari pandangan mata mereka. Dua pengawal itu masing masing dengan pelan pelan mendirikan tubuh Nyonya Jonathan dan Nyonya William lalu ditaruh di belakang punggungnya. Dan mereka gendong satu satu tubuh Nyonya Nyonya itu bagai membawa karung. Dua pengawal itu terus menuruni bukit pohon asam dengan pelan pelan karena memang tidak bisa melangkah dengan cepat akibat masih gemetaran.


Sementara itu di rumah Vadeo dan Alexandria, ibu pelayan yang sejak tadi merasakan kekhawatirannya pada kepergian kedua Nyonya Seniornya, berjalan mondar mandir di dalam rumah.


“Padahal bukit itu kata Pak Kebun sangat angker ada ular besar di sana. Kata pak sopir pun juga ada ular yang sangat besar sangat terang benderang dan menyilaukan mata.” Gumam Ibu pelayan masih berjalan mondar mandir.


“Apa telepon Tuan Vadeo saja.” Gumam Ibu pelayan itu selanjutnya. Ibu pelayan itu pun berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil hand phone miliknya.


Setelah sampai di dalam kamar dan memegang hand phone nya, ibu pelayan segera mencari nama kontak Tuan Vadeo. Ibu pelayan pun segera melakukan panggilan suara pada Vadeo. Akan tetapi sudah berkali kali menghubungi nama kontak Tuan Vadeo, tidak juga diterima panggilan suaranya, padahal terdengar nada sambung. Ibu pelayan itu lalu melakukan panggilan suara pada nama kontak Nyonya Alexa dan hasilnya sama saja, panggilan tidak diterima lalu berganti pada Nona Ixora, pada Bang Bule Vincent, pada dua pengasuh Valexa dan Deondria. Semua sama saja hanya terdengar nada sambung akan tetapi tidak diterima.


“Hmmm ada acara apa semua panggilan tidak diterima.” Gumam Ibu pelayan lalu dia mencoba melakukan panggilan suara pada nama kontak pak sopir dan panggilan langsung diterima. Ibu pelayan mengatakan kenapa menelepon semua hand phone tidak diterima oleh pemilik nya.


“Mana mungkin mereka bawa hand phone, mereka semua sedang bersenang senang di pantai. Pasti hand phone mereka ditinggal di kamar.” Suara Pak Sopir dari balik hand phone milik ibu pelayan.


“Tolong kamu segera temui Tuan Vadeo dan katakan jika Nyonya Jonathan dan Nyonya William sedang ke bukit pohon asam.” Ucap Ibu pelayan dengan suara lantang.


“Iya tadi sopir pantai meneleponku.” Suara Pak Sopir di balik hand phone milik ibu pelayan.


“Kenapa tidak kamu larang, kamu kan pernah pingsan lihat ular besar yang bersinar.” Ucap Ibu pelayan dengan lantang dan tampak kesal.


“Wo iya, aku tidak mikir tadi kalau mereka juga bisa ketemu ular besar itu. Wah gawat....” Suara Pak Sopir lalu sambungan telepon itu terputus.

__ADS_1


__ADS_2