Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 197.


__ADS_3

Vadeo lalu mengirim pesan suara pada nomor hand phone milik Tuan Jonathan dan Tuan William. Yang isinya larangan mendatangi bukit pohon asam atau pusat kerajaan Asasta, sebelum dilakukan pemugaran atau rehab.


Setelah mengirim pesan suara. Vadeo akan menghubungi anak buah Bang Bule Vincent yang masih bertugas di pulau Alexandria. Akan tetapi tidak dia sadari, mobil sudah berhenti di dekat pintu utama Mansion. Pak Sopir pun sudah membukakan pintu mobil buat dirinya.


Dengan segera Vadeo melangkah keluar dari mobil. Satu tangannya memegang tas kerjanya dan satu tangan memegang hand phone miliknya yang belum jadi menghubungi anak buah Bang Bule Vincent. Vadeo terus melangkah menaiki anak tangga teras mansion utama dan segera masuk ke dalam Mansion dan langsung melangkah menuju ke kamarnya.


Saat membuka pintu kamar.


“Kok sepi.” Gumam Vadeo karena di dalam kamar tidak ada sosok Sang istri atau pun kedua anaknya. Vadeo pun segera melangkah menuju ke kamar mandi. Siapa tahu ada sang istri di sana, bisa diajak oleh raga enak enak sore hari.


Dan di saat Vadeo membuka pintu kamar mandi, sama saja kosong tidak ada sosok Alexandria di dalam. Vadeo pun segera melepas semua pakaiannya. Dia taruh semua pakaian kotor di keranjang termasuk celana panjangnya yang di dalam sakunya ada sample rambut Justin. Vadeo pun segera membersihkan tubuhnya.


Beberapa menit kemudian Vadeo membuka pintu kamar mandi, tubuhnya kekar sudah tampak segar setelah habis mandi. Tampak tubuh bagian bawahnya terlilit handuk, dia pun segera berjalan menuju ke lemari untuk mengambil tshirt dan celana jeans. Setelah selesai memakai baju lengkap Vadeo menyisir rambutnya cepat cepat.


“Hmm aku harus segera menghubungi anak buah Bang Bule Vincent. “ gumam Vadeo dalam hati lalu dia mengambil hand phone miliknya yang tadi dia taruh di atas meja rias.


Vadeo segera mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi anak buah Bang Bule Vincent yang memimpin penjagaan pulau Alexandria.


“Kondisi perbatasan sudah aman. Kurangi personil di sana dan pindah menuju ke bukit. Jaga bukit itu, jangan sampai ada orang yang naik ke atas termasuk orang tuaku sendiri.” Ucap Vadeo setelah panggilan suaranya diterima oleh anak buah Bang Bule Vincent.

__ADS_1


“Demi keselamatan orang orang tua itu.” Ucap Vadeo lagi.


“Baik Tuan. Siap laksanakan.” Suara anak buah Bang Bule Vincent di balik hand phone milik Vadeo. Vadeo pun memutus sambungan teleponnya lalu menaruh hand phone di saku belakang celana jeans nya.


Setelah selesai menghubungi anak buah Bang Bule Vincent. Vadeo berjalan menuju ke pintu kaca penghubung, dia buka pintu kaca itu akan tetapi tidak ada juga sosok isteri dan kedua anaknya.


“Di mana mereka, aku mau ajak Alexa diskusi kenapa mereka tidak ada di kamar.” Gumam Vadeo dalam hati. Dia melihat dua pengasuh Valexa dan Deondria sedang berbenah benahi alat belajar mengajar Alexandria dan Si Kembar.


“Di mana anak anak dan Nyonya Alexa?” tanya Vadeo dengan suara agak keras.


“Di dapur katanya mau masak buat Boy.” Jawab salah satu pengasuh Si Kembar Vadro yang mendengar mengernyitkan keningnya


“Tuan, permisi mau ambil keranjang baju kotor.” Ucap sosok yang tidak lain salah satu pelayan.


“Ambil sana!” Vadeo pun segera melangkah keluar dari kamarnya. Vadeo pun lupa dengan sample rambut Justin yang masih ada di celana panjangnya yang dia taruh di keranjang baju kotor.


Vadeo segera melangkah menuju ke dapur untuk melihat anak anaknya dan istrinya. Saat membuka pintu dapur tampak Alexandria mengenakan apron sedang berdiri dan tampak tangannya mengaduk aduk pada sebuah panci kecil. Valexa dan Deondria juga terlihat memakai apron kecil juga dan mereka berdua berdiri di atas kursi dan satu pelayan menjaga mereka berdua.


‘Papa cari cari kalian semua di sini. Buat apa kalian hmmm.” Ucap Vadeo sambil terus berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


“Papa.... ini buwat coookelat unnnnttuk Boy....” ucap Valexa dan Deondria yang mengeja kata dengan sungguh sungguh agar tidak cedal.


“Hmmm apa mereka mau datang ke sini?” tanya Vadeo sambil mencium wajah kedua anaknya lalu dia pun mencium pipi Alexandria sementara Alexa masih sibuk melelehkan cokelat.


“Aca dan Aya mengajak kita ke sana. Aca dan Aya ingin Boy juga sekolah di tempat sama dengan mereka. Demi keamanan Boy, Pa.” Ucap Alexandria selanjutnya.


“Riris masih berbahaya. Papa jangan sampai berurusan lagi dengan Riris. Awas kalau itu Papa lakukan aku akan pergi dengan keempat anakku.” Ucap Alexandria tanpa menoleh ke arah Vadeo tangannya masih sibuk dengan pekerjaannya.


“Mana mungkin Sayang.. Kalian adalah hidupku...” ucap Vadeo sambil memeluk Alexandria dari belakang dan menciumi kepala Alexandria.


“Papa nanti antal tita te yumah Boy... eh te yumah Nenek Lina... (Papa nanti antar kita ke rumah Boy.. eh ke rumah Nenek Rina..).” ucap Valexa yang sudah kembali celat.


“Iya Pa.. Sekalian ambil rambut nya Boy. Kalau menunggu Ibu Rina kan masih besok. Kalau hari ini sudah dapat sample rambut. Biar nanti langsung diantar sopir ke rumah Bang Bule Vincent. Besok pagi Ixora sudah bisa membawa ke laboratorium. ” Ucap Alexandria sambil menuang coklat lelehnya pada cetakan cokelat yang sudah diatur oleh Valexa dan Deondria.


“Alamakpak.... rambut setan alas itu ....” teriak Vadeo saat ingat jika celana panjangnya yang ada sample rambut Justin sudah dibawa oleh pelayan. Vadeo pun segera melangkah cepat keluar dari dapur. Valexa dan Deondria tampak tertawa terkekeh kekeh, melihat Papanya yang berjalan terburu buru.


Sementara itu di ruang laundry Mansion Jonathan. Pelayan bagian laundry mengambil pakaian pakaian kotor dari keranjang. Dia balik baju baju kotor itu lalu dia masukkan pada mesin cuci.


Kini pelayan itu memgambil celana panjang Vadeo, dan dia balik pula celana panjang itu. Sesaat tangannya merasakan ada sesuatu di dalam saku celana panjang itu. Pelayan itu pun mengecek dan mengambil apa yang ada di saku celana panjang milik Tuan Mudanya itu.

__ADS_1


“Plastik kosong begini kenapa ditaruh saku Tuan Vadeo? Apa menunggu jika ada tempat sampah baru dibuang tapi dia lupa.” Gumam pelayan itu lalu membuang ke dalam tempat sampah plastik yang dia tidak melihat jika ada beberapa helai rambut Justin di dalam plastik itu.


__ADS_2