
Sementara itu di bandara kecil tempat pesawat Vadeo terparkir sudah terlihat mobil yang membawa Eveline dan delapan orang anak buah Bang Bule Vincent tiba. Mereka semua segera turun dari mobil, setelah mobil berhenti.
“Kenapa mobil yang membawa Bang Bule dan Tuan Vadeo belum sampai sini.” Gumam Eveline saat tidak melihat mobil yang membawa Vadeo dan Bang Bule Vincent juga Si Kembar berada di lokasi bandara.
“Iya padahal harusnya mobil mereka tiba di sini lebih dulu.” Ucap salah satu dari delapan anak buah Bang Bule Vincent itu. Eveline lalu terlihat mengambil hand phone dari saku blazer nya, dia akan menghubungi Bang Bule Vincent. Akan tetapi belum juga Eveline mengusap usap layar hand phone miliknya. Tampak mobil yang ditunggu tunggu nya sudah berjalan mendekati ke arah mereka. Eveline pun lega hatinya dan kembali menaruh hand phone miliknya ke dalam saku blazer nya.
Sesaat kemudian mobil yang membawa Vadeo, Bang Bule Vincent dan Si Kembar berhenti di belakang mobil yang tadi membawa rombongan Eveline. Setelah pintu dibuka muncul sosok Vadeo dan Bang Bule Vincent yang menggendong Si Kembar. Kedua bocah itu tampak masih tidur dengan pulas. Pak Sopir pun segera turun dari mobil dan berjalan ke arah belakang mobil. Setelah membuka bagasi mobil, Pak Sopir mengeluarkan satu kotak besar yang terbungkus oleh plastik tebal yang sangat rapat. Pak sopir mengangkat kotak itu dan terlihat kotak itu sangat berat itu. Kotak itu berisi ikan asin yang sudah diborongnya dari kios sembako di pasar yang tidak jauh letaknya dari lokasi bandara.
“Bang kok baru tiba?” tanya Eveline menatap Bang Bule Vincent, sambil tangan kanan Eveline menarik koper miliknya.
“Itu beli pesenan Alexandria.” Jawab Bang Bule Vincent yang terus berjalan sambil menggendong Valexa.
“Nyonya Alexandria pesan apa?” tanya Eveline kepo sebab yang dia tahu di kota ini tidak ada sesuatu yang khas.
“Ikan laut.” Ucap Vadeo yang berjalan di belakang Bang Bule Vincent. Vadeo pun masih menggendong tubuh mungil Deondria yang terlihat masih tertidur pulas tidak terganggu oleh percakapan orang orang di sekitarnya.
“Tapi atas saran masukan dari aku dan Pak Sopir dibelikan ikan asin. Kan sama sama ikan laut, lebih tahan lama dan aman tidak busuk, kita kan tidak tahu sampai jam berapa tiba di rumah.” Ucap Bang Bule Vincent panjang lebar dengan nada serius dan terus melangkah masuk ke dalam pintu masuk khusus yang tidak peruntukan bagi penumpang komersial.
__ADS_1
Mereka terus berjalan menuju ke pesawat yang sudah menunggu. Vadeo dan Bang Bule Vincent terus melangkah dan menaiki anak tangga setelah sampai ke dalam pesawat mereka berdua menaruh tubuh mungil Valexa dan Deondria pada dua tempat tidur kecil yang memang dikhususkan untuk kedua bocah itu akan nyaman tidur selama di dalam perjalanan.
Sesaat hand phone di saku baju Vadeo berdering lagi. Vadeo pun segera mengambil hand phone miliknya saat dilihat di layar hand phone tertera nama kontak Alexandria, Vadeo pun segera menggeser tombol hijau.
“Hallo Sayang ini sudah berada di dalam pesawat dan segera take off. Pesanan kamu sudah aku belikan baru dibawa masuk ke dalam bagasi pesawat.” Ucap Vadeo sebelum Alexandria mengucapkan sesuatu.
“Terima kasih Pa, cepat pulang ya. Kapal itu sudah semakin mendekat. Bagaimana Aca dan Aya? Aku sangat kangen dengan mereka aku ingin berbicara.” suara Alexandria di balik hand phone Vadeo
“Mereka berdua tidur, baru tidur setelah makan pagi tadi.” Ucap Vadeo dan Alexandria pun setelah mengucapkan terima kasih lagi dan berpesan hati hati segera memutus sambungan teleponnya, agar pesawat segera lepas landas dan sampai di Pulau Alexandria dengan selamat. Di seberang sana bibir Alexandria tersenyum membayangkan ikan laut bakar saus madu yang begitu diinginkan.
Setelah semua penumpang masuk ke dalam pesawat dan semua barang barang sudah masuk ke dalam bagasi, terutama kotak pesanan Alexandria. Semua pintu pesawat itu tertutup dengan rapat. Semua hand phone pun mulai dimatikan. Dan pesawat mulai lepas landas, berjalan dan semakin naik mengudara menuju ke pulau Alexandria.
“Tuan Pulau itu pengamanannya sangat ketat.” Ucap salah satu anak buah kapal yang memanggul senjata di bahunya.
“Aku sudah tahu, tetapi senjata kita juga lengkap. Jika perlu kita lempar bom di pos pos keamanan mereka.” Ucap Tuan Lim Neo penuh dengan keyakinan.
Kapal terus berlayar dan semakin mendekat ke arah Pulau Alexandria. Semua anak buah kapal sudah siap siaga dengan semua persenjataannya. Beberapa dari mereka berada di buritan kapal dengan perlengkapan senjata lengkap. Teropong pengintai jarak jauh pun juga sudah disiapkan.
__ADS_1
Tampak Tuan Lim Neo berjalan dengan cepat menuju ke buritan kapal. Dia ingin ikut melihat di luar secara langsung.
“Tuan tidak lama lagi kita akan masuk wilayah perairan pulau harta karun.” Ucap salah satu anak buah kapal yang baru saja menggunakan alat teropongnya. Dan sesaat kemudian mereka mendengar suara mesin pesawat di udara yang suaranya masih sayup sayup jauh.
“Ada suara pesawat!” teriak Tuan Lim Neo sambil mendongak menatap ke atas untuk mencari sumber suara.
“Mungkin pesawat terbang komersial yang menuju ke bandara pulau seberang.” Ucap anak buah kapal yang juga ikut mendongakkan kepalanya. Akan tetapi mereka belum melihat wujud pesawat akan tetapi suaranya masih di dengar.
“Coba lihat dengan teropong. Sepertinya suaranya semakin dekat.” Suara Tuan Lim Neo dengan keras. Dan benar suara pesawat itu pun semakin jelas.
“Benar Tuan pesawat itu semakin mendekat suaranya. Namun belum terlihat.” Ucap anak buah kapal yang mengarahkan alat teropongnya ke atas, ke langit untuk mencari wujud dari sumber suara.
“Kamu lebih teliti dalam melihat pesawat apa yang sedang mengudara itu.” Ucap Tuan Lim Neo yang akhirnya dia pun minta teropong yang lainnya sebab dia sangat penasaran dengan suara pesawat yang semakin mendekat.
“Tuan sudah terlihat sekilas namun tertutup awan lagi. Sepertinya bukan pesawat komersial.” Teriak anak buah kapal yang sudah berhasil melihat pesawat meskipun hanya beberapa detik.
“Hmmmm mungkin itu pesawat pribadi pemilik pulau ini.” Gumam Tuan Lim Neo masih mengarahkan teropongnya ke atas dia belum bisa melihat wujud pesawat yang suaranya semakin mendekat. Lalu tampak Tuan Lim Neo tersenyum licik.
__ADS_1
“Kalian siapkan senjata jarak jauh. Kalau itu pesawat akan menuju ke pulau Harta karun kita tembak pesawat itu dari bawah!” perintah Tuan Lim Neo.