
“Aku sekarang akan bilang saudara dari kampung saja. Biar ga salah lagi, gara gara mengiyakan pertanyaannya mereka malah aku ditertawakan.” Gumam pelayan Cafe itu sambil terus melangkah.
Pelayan itu mempercepat langkah kaki nya menuju ke ruang guru, karena tampak kelas belum dimulai kegiatan belajar mengejarnya.
“Permisi...” suara pelayan Cafe saat sudah berada du depan pintu ruang Guru yang terbuka lebar.
“Siapa ya?” tanya Ibu Guru sambil menoleh ke arah pintu.
“Maaf Bu saya saudara nya Boy, mau tanya Boy pindah di mana ya?” ucap pelayan Cafe saat ibu guru sudah melangkah menuju ke arah nya.
“Wah ibu nya Boy tidak bilang mau dipindah di mana.” Jawab ibu Guru saat sudah berada di depan pelayan Cafe itu.
“Cari saja di TK sekitar sini. Mungkin anak itu sudah tidak mau sekolah di sini karena sering dibully oleh temannya karena tidak punya rumah dan tidak punya Papa.” Saran ibu guru pada pelayan Cafe itu. Sebab Wika memang tidak mengatakan jika Boy akan dipindah sekolah di Quality School, sebab jika mengatakan hal itu pasti akan ditertawakan.
“Di mana ya Bu, TK di sekitar sini?” tanya pelayan Cafe yang tidak tahu letak sekolah TK lainnya di wilayah situ.
“Ya cari saja di sekitar sini. Jika ada banyak anak kecil memakai seragam dan ada tulisan TK ya masuk saja di tanya apa ada Boy.” Jawab Ibu Guru dengan tergesa gesa sebab penjaga sekolah sudah membunyikan lonceng satu kali pertanda semua harus siap siap masuk ke dalam kelas.
Pelayan Cafe itu pun segera pamit dan segera melangkah menuju ke kembali ke mobil.
__ADS_1
“Sudah pindah Bos.” Ucap pelayan Cafe saat sudah masuk ke dalam mobil.
“Pindah di mana?” tanya mereka berempat yang berada di dalam mobil.
“Di sekolah TK lain di sekitar sini.” Jawab pelayan Cafe itu sambil mengenakan sabuk pengaman.
“Di mana?” tanya orang seram yang mengemudikan mobil.
“Cari saja Bos. Ibu guru nya juga tidak ada yang tahu.” Jawab pelayan Cafe.
“Dodol.” Umpat pengemudi lalu mulai menjalankan mobil dengan tidak tahu arah tujuannya.
Mobil pun berjalan pelan pelan meninggalkan lokasi TK itu dan menyisir wilayah di sekitar situ untuk mencari TK dan tepat nya mencari Boy dan Wika.
“Kamu hubungi Mr Le, info tidak valid.” Ucap orang yang mengemudikan mobil itu. Salah satu dari mereka pun lalu menghubungi Mr Le, melaporkan apa yang sudah dikerjakan dan melaporkan jika info sudah tidak valid karena Boy sudah pindah sekolah dan di rumah Ibu Rina tidak dilihatnya.
“Okey, okey aku cari informasi sekarang. Anak kecil itu masih ada hubungannya dengan keluarga Jonathan.” Suara Mr Le di balik hand phone milik salah satu orang yang sedang menghubunginya.
“Kalian segera kembali!” suara Mr Le selanjutnya dan sambungan telepon pun terputus. Mobil pun terus melaju dan menambah kecepatannya untuk menuju ke cafe mengembalikan pelayan.
__ADS_1
Sementara itu di ruas jalan lain nya. Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan sedang. Mobil dengan nomor polisi D 3 O dikemudikan sendiri oleh Vadeo dan di sampingnya duduk sang isteri Alexandria. Di jok belakang kemudi duduk tiga bocah yang tampak tenang. Sedangkan Richardo dan pengawal lainnya mengikuti dari belakang dengan mobil lain.
Hari ini Vadeo dan Alexandria akan mengantar ke tiga bocah itu ke Quality School. Untuk mendaftarkan sekolah Boy dan untuk menemui guru Twins untuk mendapatkan laporan hasil pembelajaran Twins.
“Boy becuk kamu juga bica diantal oleh Mama dan Papa mu. Cekalang Mama dan Papa mu bial di kamal dulu.” Ucap Valexa sambil tersenyum menoleh menatap Boy yang duduk di tengah di antara si kembar. Boy belum memakai seragam sekolah. Sedangkan Twins memakai seragam play group nya.
“Iya ga boleh pelgi pelgi dulu.” Saut Deondria. Tadi pagi Si Kembar melarang Richardo memberikan paper bag belanjaan Justin dan Wika terlebih dahulu. Agar Wika masih tetap aman di dalam kamar. Sebab dikhawatirkan jika sudah ada baju yang benar Wika tiba tiba keluar dari Mansion di saat mereka sedang pergi.
Mobil mereka pun mulai memasuki pintu gerbang Quality School. Mata Boy terbelalak melihat gedung sekolah yang sangat megah yang didatanginya. Dan jantungnya berdetak lebih kencang telapak tangannya pun mulai dingin.
“Boy jangan takut.” Ucap Si kembar sambil menoleh ke arah Boy.
“Kamu cudah punya Papa cekalang....” Ucap Valexa.
“Tapi aku dan Mamaku belum punya rumah.” Ucap Boy lirih, dan si kembar pun menepuk jidat nya sendiri sendiri.
“Boy, aku sudah membelikan satu rumah buat kalian. Untuk ditempati kamu Mamamu dan Papa mu. Sebagai hadiah bersatunya kalian. Tapi Twins melarang kalian menempati nya sekarang.” Ucap Vadeo sambil mematikan mesin mobilnya lalu membuka sabuk pengaman sambil menoleh ke arah belakang melihat tiga bocah itu.
“Iya sekarang kamu dan Mamamu tinggal dulu di mansion Jonathan. Kamu tenang saja tidak akan ada yang membully kamu.” Ucap Alexa yang juga menoleh ke belakang sambil membuka sabuk pengaman.
__ADS_1
Tampak Richardo dan pengawal lainnya sudah berdiri di dekat pintu mobil Vadeo, lalu mereka membukakan pintu mobil dan membantu ketiga bocah itu turun dari mobil. Vadeo pun segera turun dari mobil dan dengan segera dia menggandeng tangan mungil Boy yang masih terasa dingin.
“Kita ke kelas Twins dulu.” Ucap Vadeo sambil terus melangkah dan menggandeng tangan mungil Boy. Sementara Twins yang sedang digandeng tangannya oleh Alexandria kiri dan kanan, mereka berdua tampak saling pandang dengan tatapan mata serius, menangkap adanya sinyal bahaya.