Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 65. Informasi Baru?


__ADS_3

“Pa, mereka bangun.” Suara Alexandria dengan nada khawatir.


“Iya sebentar lagi...” ucap Vadeo semakin mempercepat dalam memompa tubuh Sang Isteri.


“Aku belum keluar nih Ma....” ucap Vadeo semakin mempercepat lagi ritme pacuannya.


“Pa... Ma.... “ teriak Valexa dan Deondria lagi dan tidak lupa kaki kaki mungilnya menendang nendang pintu kamar mandi.


Teriak mereka berdua pun terdengar sampai di ruang ruang Mansion Jonathan. Dua pengasuh nya pun menjadi terbangun dan hanya bisa memanggil manggil kedua Nona kecil itu dari balik pintu kaca penghubung, sebab mereka tidak diizinkan membawa kunci pintu kamar Vadeo. Orang yang membawa kunci kamar Vadeo selain Vadeo dan Alexandria yaitu Tuan dan Nyonya Jonathan dan juga pelayan yang bertugas membersihkan kamar Vadeo.


Sesaat pintu kamar Vadeo terbuka.


“Aca .. Aya.... “ suara Nyonya Jonathan sambil berlari setelah pintu kamar Vadeo terbuka.


“Ada apa kalian berteriak teriak tengah malam.. semua orang jadi terbangun.” Ucap Nyonya Jonathan lagi yang kini sudah berada di dekat kedua cucu nya yang masih memanggil manggil Mama dan Papa nya.


“Mama tan Papa tindalin tita... (Mama dan Papa tinggalin kita).” Jawab mereka sambil menoleh menatap wajah sang Oma.


“Ooo Mama dan Papa belet pipis ...” ucap Nyonya Jonathan sambil tersenyum dan menarik tubuh mungil kedua cucu nya itu agar menjauh dari pintu kamar mandi.


“Atu duda beyet pipis.. (Aku juga belet pipis).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sebagai usaha agar bisa masuk ke kamar mandi.


Nyonya Jonathan yang tahu jika di kamar itu ada ruangan privasi mencoba membuka pintu kamar mandi itu akan tetapi terkunci dari dalam.

__ADS_1


“Ayo, Oma antar ke kamar mandi di kamar kalian.” Ucap Nyonya Jonathan sambil menatap wajah kedua cucu nya yang cemberut. Valexa dan Deondria masih tetep saja berdiri di depan pintu kamar mandi itu.


“Ayo...” ucap Nyonya Jonathan lagi sambil menganggukkan kepala nya dan menatap wajah kedua cucu nya.


Dan sesaat kemudian pintu terbuka muncul sosok Vadeo dan Alexandria dengan rambut basah dan kedua nya memakai bath robe.


“Mama tan Papa tuh pate pampes aja.... (Mama dan Papa tuh pakai pampers aja).” Teriak Valexa dan Deondria sambil menoleh menatap sosok kedua orang tuanya. Sementara Alexandria dan Vadeo hanya mengernyitkan dahinya.


“Mama tan Papa tata Oma beyet tencing tapi tok mayam mayam mandi.. (Mama dan Papa kata Oma belet kencing tapi kok malam malam mandi...).” ucap Valexa selanjutnya saat melihat rambut basah Mama dan Papa nya dan juga tampak tubuh segar Sang Mama dan Sang Papa dalam balutan bath robe.


“Kalian berdua itu kenapa tidak bisa menunda dulu. Semua orang malam malam jadi terbangun karena kamu itu.” Ucap Nyonya Jonathan sambil menatap Vadeo.


“Bial pate pampes aja Oma.. (Biar pakai pampers saja Oma).” Suara Valexa sambil menatap Sang Papa.


“Becok atu pecantan pampes becal te peyayan badian yodistik (besok aku pesankan pampers besar ke pelayan bagian logistik).” Ucap Deondria sambil tersenyum. Nyonya Jonathan pun ikut tersenyum. Sementara Vadeo garuk garuk kepala karena pasti besok malam dia akan disuruh oleh kedua anaknya untuk memakai pampers orang manula.


Dan kini di rumah Bang Bule kedatangan pimpinan tim misi. Mereka berdua berbicara dengan serius di ruang keluarga.


“Mereka berdua sudah beraktivitas rutin seperti biasa nya. Mengikuti jadwal latihan di sini. Tetapi kalau aku tanya selalu jawabannya sudah tidak ada orang jahat di sini.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius.


“Dari hasil pantauan juga dalam minggu ini tidak ada peredaran barang terlarang.” Ucap pimpinan tim misi.


“Okey lah untuk sementara kita akhiri proyek ini, di kontrak kerja juga lingkup kerja di dalam negeri. Ini sudah melebihi target kita bisa mencegah peredaran barang itu di Philipina.” Ucap pimpinan tim misi itu dan Bang Bule pun mengangguk anggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Nanti saya akan menghubungi Tuan Vadeo. Kalau kontrak kerja untuk sementara kita akhiri sambil terus melihat perkembangan. Jika masif lagi peredaran barang terlarang itu dan kami membutuhkan bantuan Nona Valexa dan Deondria kami akan menggunakan lagi mereka.” Ucap pimpinan tim misi itu lagi.


“Benar lebih baik begitu. Informasi dari negara negara lain pun juga peredaran barang barang itu sudah tidak lagi masif. Hanya kecil kecil dan pelaku dengan mudah tertangkap.” Ucap Bang Bule Vincent.


“Apa tidak ada informasi apa pun tentang Richie?” tanya pimpinan tim misi itu pada Bang Bule.


“Tidak, mobil sudah berpindah tangan dan orang yang membeli mobil itu tidak bisa memberikan keterangan apa apa. Ada kemungkinan Richie sudah lari ke luar negeri dengan identitas palsu atau lewat jalan ilegal.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius


“Aku yakin kalau Valexa dan Deondria menangkap sinyal bahaya pasti akan bercerita. Kalau mereka diam dan tidak gelisah ada kemungkinan memang kondisi dalam keadaan aman.” Ucap Bang Bule Vincent lagi masih dengan nada dan ekspresi wajah yang serius. Pimpinan tim misi itu pun mendengarkan dengan serius pula sambil mengangguk anggukan kepala nya.


Saat mereka masih berbincang bincang terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah Bang Bule Vincent. Bang Bule Vincent pun segera memantau tangkapan CCTV.


“Itu orang yang sedang kita bicarakan datang.” Ucap Bang Bule Vincent saat melihat mobil Vadeo masuk ke halaman rumah nya dari pantauan CCTV.


“Apa ada informasi penting dari kedua anak itu.” Gumam pimpinan tim misi dan Bang Bule hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahu nya.


Sementara itu di halaman rumah Bang Bule, mobil Vadeo sudah terparkir manis di bawah pohon rindang yang biasa Vadeo pakai tempat parkir mobil nya jika datang ke rumah Bang Bule Vincent.


Sesaat pintu mobil terbuka dan muncul sosok Valexa dan Deondria yang berlarian menuju ke teras rumah Bang Bule Vincent. Richardo sang pengawal mereka pun turut berlari mengejar mereka berdua.


“Ayo.. tepat... Ada pimpinan tim mici... (Ayo cepat ... Ada pimpinan tim misi).” Teriak Deondria pada Valexa karena mereka berdua melihat mobil pimpinan tim misi yang terparkir di halaman rumah Bang Bule Vincent.


“Aca... Aya... tunggu Papa.” Teriak Vadeo yang sudah turun dari mobil dengan langkah lebar nya.

__ADS_1


“Ayo Pa tepat... (Ayo Pa cepat ).” Teriak Valexa dan Deondria yang sudah menaiki anak tangga teras rumah Bang Bule Vincent. Richardo pun kini juga sudah ikut menaiki anak tangga teras rumah itu.


Dan saat kedua anak itu sudah menginjakkan lantai teras. Pintu rumah Bang Bule Vincent terbuka lebar.....


__ADS_2