
Vadeo berjalan dengan cepat menuju ke tempat Tuan Rangga. Sesaat dia akan menabrak tubuh Bang Bule Vincent yang juga sedang berjalan sambil menggandeng tangan Ixora, wajah Ixora masih terlihat pucat.
“Kamu itu mengganggu orang lewat saja.” Ucap Vadeo sambil terus berjalan menuju ke tempat Tuan Rangga.
“Ada apa Bro?” tanya Bang Bule Vincent yang melihat wajah panik Vadeo dan berjalan tergesa gesa.
“Tuan Rangga mau ke pulau Alexandria.” Ucap Vadeo sambil terus berjalan.
“Allllaaaaapak...” ucap Bang Bule Vincent sambil tangan kirinya menepuk jidat nya sendiri dan tangan kanan masih menggandeng tangan Ixora untuk segera berjalan menuju ke mobil golf yang telah kosong. Tampaknya Ixora ingin segera masuk ke dalam mobil dan segera pulang ke rumah Bang Bule Vincent.
Vadeo pun terus melangkah menuju ke Tuan Rangga yang kini sudah duduk di kursi roda. Tadi diangkat oleh Juna dan Seorang perawat laki laki.
“Hmm untuk naik ke kursi roda saja susah apalagi harus naik turun pesawat dan naik turun mobil..” gumam Vadeo dalam hati saat melihat begitu repotnya Tuan Rangga duduk di atas kursi roda dari mobil golf.
“Tuan Rangga selamat pagi...” sapa Vadeo dengan santun dan sopan.
“Tuan Muda Vadeo... selamat pagi juga...” ucap Tuan Rangga dengan bibir tersenyum tampak bahagia.
“Tuan Rangga apa benar akan ikut ke pulau Alexandria?” tanya Vadeo selanjutnya
“Iya Tuan Muda Vadeo. Terima kasih atas hadiah yang diberikan pada saya dan cucu saya Juna.” Jawab Tuan Rangga masih dengan bibir tersenyum bahagia sambil menatap wajah Vadeo lalu menatap Juna cucunya yang berdiri di dekatnya.
“Hadiah apa Tuan?” tanya Vadeo tampak bingung sebab dia merasa belum memberi hadiah pada Tuan Rangga dan Juna, hanya sudah melunasi semua gaji Tuan Rangga dalam menerjemahkan manuskrip kuno.
__ADS_1
“Hadiah untuk berlibur ke pulau Alexandria atau pulau Kemakmuran, yang menjadi rebutan dari jaman dulu kala hingga sekarang ini Tuan. Sungguh benar benar tidak menyangka. Saya sangat senang, sangat terharu.. Tuan Muda... terima kasih banyak.” Ucap Tuan Rangga sambil meraih tangan Vadeo dan dijabat dengan erat tangan Vadeo itu.
“Tapi Tuan, ini perjalanan jauh...” ucap Vadeo
“Tidak apa apa Tuan Muda, ini kesempatan terakhir kali saya. Andai saya tidak ambil tawaran hadiah ini saya akan mati penasaran Tuan Muda.” Ucap Tuan Rangga dengan nada serius.
“Bagaimana dengan anak anak Tuan Rangga apa sudah tahu tentang keberangkatan Tuan Rangga?” tanya Vadeo dengan nada serius, dia benar benar sangat khawatir pada kesehatan Tuan Rangga dan khawatir jika disalahkan oleh anak anak Tuan Rangga.
“Sudah. Mereka menyerahkan segala keputusan pada saya, yang penting Juna tetap berada di samping saya.” Jawab Tuan Rangga dengan nada serius dan menatap wajah Vadeo dengan serius pula.
Vadeo pun akhirnya hanya bisa berdoa agar Tuan Rangga selamat pulau Alexandria dan bisa kembali dengan selamat pula.
Sementara itu Nyonya Jonathan dan Nyonya William sudah berada di dekat suami suami mereka dan serta merta kedua Oma heboh tiada terhingga.
“Opa mau ke pulau Alexandria kok tidak kabar kabar sih? Tahu gitu aku kan tidak usah ikut pulang ke sini.” Ucap Nyonya Jonathan dengan nada tinggi sambil menatap tajam Tuan Jonathan yang masih menggendong Deondria.
“Atu tan cudah biyang Oma... (Aku kan sudah bilang Oma).” Ucap Deondria dan Valexa sambil menatap Nyonya Jonathan lalu beralih ke Nyonya William.
“Kalian tidak bilang kalau hari ini Opa Opa akan datang.” Ucap Nyonya William sambil menoel pipi pipi Sang Cucu.
“He... he.... he... he....” Valexa dan Deondria tertawa terkekeh kekeh. Nyonya William gemas melihat nya lalu menoel noel lagi pipi pipi cucu cucunya itu.
Nyonya Jonathan dan Nyonya William pun tampak heboh menyuruh pengawal mereka agar membawa kembali koper koper besar mereka agar dijadikan satu dengan koper koper milik suaminya yang akan dibawa ke bagasi pesawat.
__ADS_1
Sesaat kru pesawat mengumumkan jika penumpang diharapkan segera naik ke atas pesawat. Orang orang yang akan naik pesawat berjalan menuju ke tangga pesawat. Vadeo pun turut berjalan untuk mengantar orang tua nya dan juga Tuan Rangga.
Juna tampak mendorong kursi roda Tuan Rangga. Saat sampai di depan tangga Juna melangkah ke depan kursi roda Tuan Rangga lalu Juna akan menggendong Tuan Rangga.
“Kamu bantu dia!” perintah Vadeo pada salah satu pengawal yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Pengawal itu lalu berjalan dan membantu Juna. Akhirnya Tuan Rangga digendong di punggung Sang Pengawal yang tubuhnya tinggi dan besar. Juna pun yang membawa kursi roda Tuan Rangga.
“Pa, jaga baik baik Tuan Rangga. Papa lihat untuk naik pesawat saja susah begitu.” Ucap Vadeo pada Tuan Jonathan yang masih menggendong Deondria.
“Kamu tenang saja. Tuan Rangga itu sangat bahagia, hati yang bahagia akan membuat stamina nya membaik.” Ucap Tuan Jonathan.
“Deo, suatu saat aku dan kamu juga akan kesulitan untuk naik tangga pesawat. Jadi mulai hari ini pikirkan bagaimana agar kursi roda bisa naik ke pesawat tanpa repot begitu.” Ucap Tuan Jonathan sambil menyerahkan Deondria pada Vadeo.
“Jangan lupa juga, kamu urus Justin dan anaknya.” Ucap Tuan Jonathan lagi lalu dia mencium Deondria dan melangkah meninggalkan Vadeo yang masih berdiri mematung.
Sesaat Alexandria yang menggandeng tangan Valexa datang mendekati Suaminya. Orang tua mereka sudah naik ke atas pesawat. Vadeo dan Alexandria pun berjalan menjauh dari pesawat.
“Semoga mereka baik baik saja.” Gumam Alexandria yang sebenarnya juga tidak tega melihat Tuan Rangga yang sudah uzur itu ikut pergi ke pulau Alexandria. Valexa dan Deondria berdiri di dekat mereka dan pandangan mereka berdua juga tertuju pada pesawat. Tangan tangan mungil mereka melambai lambai kan ke arah jendela pesawat dekat tempat duduk Nyonya Jonathan dan Nyonya William. Tampak Oma Oma itu pun tersenyum bahagia sambil melambai lambai tangan pada cucu cucu nya. Dan pesawat pun mulai meninggalkan landasan dan mengudara menuju ke pulau Alexandria.
Di saat mereka membalikkan tubuh akan berjalan menuju ke mobil golf, tiba tiba hand phone Vadeo yang sudah diaktifkan yang dia taruh di saku kemejanya berdering. Vadeo pun segera mengambil hand phone miliknya itu. Saat dilihat layar hand phone tertera nama kontak Pak Rio. Vadeo pun segera menggeser tombol hijau.
“Tuan, hanya mengingatkan jam sepuluh pagi ada meeting yang dipimpin oleh Tuan Vadeo dan sekarang sudah jam sembilan lebih.” Suara Pak Rio di balik hand phone milik Vadeo.
“Hah? Kenapa hari pertama aku datang langsung disuruh memimpin meeting. Aku baru saja turun dari pesawat ini.” Suara Vadeo dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Meeting nanti harusnya dipimpin oleh Tuan Jonathan, tetapi mulai hari ini semua sudah dialihkan pada Tuan Vadeo.” Suara Pak Rio lagi di balik hand phone milik Vadeo.
“Papa....” ucap Vadeo lalu memutus sambungan teleponnya.