Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 94. Si Kembar Menangis


__ADS_3

Tidak lama kemudian mobil sudah berhenti di depan teras Mansion utama. Vadeo segera mematikan mesin mobilnya dan segera keluar dari mobil tidak lupa membawa tas kerja dan manuskrip sudah berada di dalam nya. Vadeo pun berjalan setengah berlari menuju ke pintu utama Mansion. Sedangkan Bang Bule Vincent segera menuju ke mobil nya karena sudah ditunggu oleh Ixora.


Sesaat Vadeo sudah berada di depan pintu kamarnya dengan segera dia membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Dilihatnya tiga perempuan tercintanya berada di atas tempat tidur yang luas itu. Valexa dan Deondria tidur berdampingan dan Alexandria duduk di atas tempat tidur di dekat mereka berdua. Tangan Alexandria tampak memegang dahi kedua anaknya


“Sudah menghubungi Dokter Ma?” tanya Vadeo sambil berjalan mendekat.


“Sudah, psikolog pendamping juga sudah aku hubungi. Sebentar lagi mereka sampai.” Jawab Alexandria sambil menoleh ke arah suaminya yang terus berjalan mendekat.


“Sayang kalian ingin apa? Katakan pada Papa...” ucap Vadeo yang kini juga sudah berada di dekat kedua anaknya. Tangan Vadeo pun juga mengusap usap tubuh anaknya yang terasa panas.


“Ma, sudah kamu beri obat penurun panas?” tanya Vadeo sambil menatap Alexandria yang ekspresi wajah nya tampak khawatir.


“Sudah.” Jawab Alexandria singkat sambil masih mengusap usap kepala kedua anaknya.


“Pa... “ suara lirih Valexa dan Deondria


“Apa Sayang....” ucap Vadeo yang kini juga ikut duduk di atas tempat tidur.


“Te puyo Ayetandiya..... (Ke pulau Alexandria...).” ucap mereka berdua sambil menatao wajah Sang Papa.


“Sayang kalian kan belum libur sekolahnya, sebentar lagi mau kenaikan kelas kan...” ucap Vadeo sambil masih mengusap usap tubuh Valexa dan Deondria.


“Tapi na meyeta cematin detat... (tapi nya mereka semakin dekat).” Ucap Valexa


“Siapa?” tanya Vadeo dan Alexandria secara bersamaan.


“Oyang dahat mau meyucak puyo tita... (orang jahat mau merusak pulau kita).” Jawab Valexa dan Deondria secara bersamaan.

__ADS_1


Vadeo tampak mengernyitkan dahinya. Baru saja dia mendengar cerita pulau Kemakmuran yang rusak kering kerontang dan kini kedua anaknya mengatakan ada orang jahat yang akan merusak pulau milik nya.


“Hmmm apa kejadian masa lalu terulang lagi . Aku tidak mau menjual pulau Alexandria milikku, apa mereka akan merebut dengan cara brutal, seperti kerajaan besar yang haus kekuasaan.” Gumam Vadeo yang didengar oleh Alexandria dan Alexandria pun menoleh ke arah suaminya dengan ekspresi wajah penuh pertanyaan.


“Ma, aplikasi sudah kamu perbarui ?” tanya Vadeo selanjutnya


“Sudah.” Jawab Alexandria


“Apa cerita di dalam manuskrip itu Pa?” tanya Alexandria selanjutnya.


Akan tetapi sebelum Vadeo menjawab pertanyaan Alexandria. Pintu kamar mereka terbuka dan tampak sosok Nyonya Jonathan masuk ke dalam kamar dan di belakangnya berjalan Dokter pribadi keluarga William Valexa dan Deondria.


“Nona Nona cantik apa kabar?” tanya Pak Dokter sambil mendekati Valexa dan Deondria.


“Atu endak cakit Opa Dokteng...” jawab mereka berdua. Dan pak Dokter pun tersenyum sambil mengambil alat alat medis dari dalam tas hitamnya.


“Apa yang kalian pikirkan hmmm... jangan sedih dan khawatir Mama dan Papa akan selalu menjaga dan mengabulkan keinginan kalian.” Ucap Pak Dokter setelah memeriksa Valexa dan Deondria.


“Mau te puyo Ayetandiya.. (mau ke pulau Alexandria).” Jawab mereka berdua


“Iya Sayang... besok kita ke sana.. “ jawab Vadeo selanjutnya agar kedua anak nya tenang setelah mendengar ucapan dari pak Dokter jika panas tubuh anaknya karena sedih dan khawatir.


Pak Dokter pun tidak memberikan obat hanya memberi nasehat agar kedua anak itu mendapatkan cukup asupan sehat agar staminanya tetap baik.


Setelah Pak Dokter keluar dari kamar, sang psikolog pendamping pun sudah datang. Vadeo dan Alexandria lalu menggendong kedua anaknya untuk di bawa ke dalam kamar mereka berdua. Sebab dalam pendampingan mereka berdua tidak ditunggui oleh siapa saja agar kedua bocah itu bisa bercerita dengan bebas. Begitu SOP dari Sang psikolog.


Dan kini kedua bocah itu berada di dalam kamarnya bersama sang psikolog. Kedua pengasuh mereka pun keluar dari kamar kedua bocah itu. Sedangkan Vadeo dan Alexandria kembali ke dalam kamar nya dan memantau anak anak nya dari CCTV.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian. Hand phone milik Alexandria berdering. Alexandria segera bangkit berdiri untuk mengambil hand phone yang berada di atas nakas. Saat dilihat layar nya, nama kontak Sang Psikolog melakukan panggilan suara. Alexandria segera menggeser tombol hijau.


“Bagaimana?” tanya Alexandria dengan nada khawatir sebab di tangkapan CCTV dia melihat kedua anaknya menangis sesenggukan.


“Sudah selesai Nyonya. Nona Valexa dan Nona Deondria sudah bisa menangis mereka berdua sudah merasa lega.” Ucap sang psikolog dibalik hand phone Alexandria yang didengar oleh Vadeo sebab Alexandria menyetel mode speaker.


“Kenapa mereka menangis dan menahan tangisnya?” tanya Alexandria heran dan tidak habis mengerti.


“Mereka merasakan sedih yang mendalam dan khawatir. Saat ditanya sedih kenapa dijawab mereka ada yang meninggal namun mereka tidak mengatakan siapa yang meninggal.” Suara sang psikolog


“Sekarang Nyonya dan Tuan sudah bisa masuk ke dalam kamar mereka.” Suara sang psikolog lagi.


“Baik.” Jawab Alexandria lalu memutus sambungan teleponnya.


“Ayo Pa kita ke kamar Aca dan Aya. “ ajak Alexandria pada Vadeo ysng sedang berpikir saat melihat tangkapan CCTV dan mendengar percakapan Alexandria dan psikolog.


“Pa siapa yang meninggal?” tanya Alexandria sambil melangkah menuju ke pintu kaca penghubung.


“Mereka menangis karena orang yang meninggal di masa lalu apa yang akan datang ya...” gumam Vadeo di dalam hati. Vadeo pun kini juga menjadi khawatir dan cemas jika kedua anak nya menangis sesenggukan karena orang yang meninggal di masa depan.


Vadeo pun segera bangkit berdiri dan melangkah menyusul sang isteri menuju ke kamar kedua anaknya. Dia ingin bertanya pada anak anaknya siapa yang meninggal dan membuat mereka menangis sesenggukan.


Akan tetapi saat sampai di depan pintu kaca penghubung kamar. Hand phone yang ada di saku kemejanya berdering. Kini hand phone dia taruh di saku kemeja, sebab jas dia sudah dilepas saat melihat tangkapan CCTV di kamar anak anak nya tadi.


Vadeo pun segera mengambil hand phone nya dan saat dilihat di layar hand phone nya nama kontak Bang Bule Vincent senang melakukan panggilan video. Vadeo pun segera menggeser tombol hijau.


“Apa Bul?” ucap Vadeo dengan cepat sebab dia ingin tahu perkembangan informasi terutama tentang kerja anak buah Bang Bule Vincent yang ada di pulau Alexandria juga yang ada di rumah Tuan Rangga.

__ADS_1


....


__ADS_2