
Tanpa mengetuk pintu Alexandria langsung membuka pintu ruang kerja Vadeo dan terus melangkah masuk. Vadeo yang masih serius menatap layar lap top, mencium aroma parfum yang sudah sangat familier dengan indera penciuman nya lalu menoleh ke arah pintu.
Vadeo pun lalu menggeser dan mendorong tubuh Richardo agar duduk di sofa tunggal. Richardo dengan segera bangkit berdiri dan pindah tempat duduk. Alexandria pun melangkah menuju ke sofa panjang yang diduduki oleh suami nya dan selanjutnya mendudukkan pantatnya di samping sang suami. Vadeo pun lalu memeluk tubuh Sang Istri dari samping. Dengan memeluk tubuh istrinya ada rasa nyaman menjalar pada hatinya dan mengurangi rasa paniknya.
Alexandria tampak langsung mengamati layar lap top, ekspresi wajahnya menegang saat melihat ada satu titik merah di dekat pantai.
“Pa kenapa bisa sampai masuk ke dalam perairan kita. Makanya pesawat dilarang menurunkan penumpang lebih dahulu.” Ucap Alexandria dengan nada serius bercampur panik.
“Anak buah Bang Bule Vincent sudah melakukan penyerangan tetapi mereka memakai senjata lengkap.” Ucap Vadeo sambil masih terus fokus menatap layar lap top miliknya.
Akan tetapi tiba tiba titik merah di dekat pantai itu menghilang dan alarm pada aplikasi berubah menjadi hijau.
“Pa sudah aman Pa.. ayo kita ke pantai!” teriak Alexandria dengan senyum lebar dan sorot mata yang berbinar binar. Dan sesaat kemudian terdengar suara dering di hand phone milik Richardo.
Richardo pun segera mengambil hand phone miliknya, di layar hand phone tertera nama kontak rekan kerjanya yang bertugas di pantai. Richardo segera menggeser tombol hijau.
“Bro kondisi sudah aman. Tiba tiba ada ombak besar dan di saat mereka panik kami bisa melakukan tembakan tepat sasaran. Dan bangkai mereka sudah digulung oleh ombak besar.” Suara seorang laki laki di balik hand phone milik Richardo.
Sementara itu di tempat lain. Di dalam pesawat, Nyonya Jonathan dan Nyonya William berangkulan sambil menangis haru karena bahagianya.
Kru pesawat sudah mengizinkan para penumpang untuk turun. Pintu pesawat tampak terbuka, dia pengawal dan anjing pelacak permata segera turun dari dalam pesawat.
__ADS_1
Di bawah tampak beberapa karyawan sudah berdatangan untuk mengambil barang dari dalam bagasi pesawat. Mobil truk yang akan digunakan untuk membawa barang barang itu pun sudah mendekat.
“Ayo turun, aku sudah tidak sabar.” Ucap Nyonya Jonathan lalu bangkit berdiri. Nyonya William pun juga turut bangkit berdiri. Mereka berdua segera berjalan untuk turun dari pesawat. Seluruh kru pesawat meminta maaf pada dua Nyonya itu karena pendaratan pesawat yang tidak sempurna.
“Yang penting kita semua selamat. Maafkan aku juga jika tadi aku membentak bentak kamu, aku sangat emosi tadi.” Ucap Nyonya Jonathan sambil tersenyum lalu melangkah keluar dari pintu pesawat untuk menuruni anak tangga. Nyonya William pun melangkah di belakang nya. Dua pengawal dan anjing pelacak permata berada di bawah tangga pesawat menunggu Dua Nyonya itu turun.
Sesaat tampak satu buah mobil datang mendekat. Dan mobil itu pun berhenti di tempat yang tidak jauh dari mobil truk berhenti. Setelah mobil itu berhenti tampak pintu kemudi terbuka dan pak sopir turun lalu melangkah menuju ke arah Nyonya Jonathan dan Nyonya William.
“Nyonya perintah dari Nyonya Alexa, saya disuruh mengantar Nyonya Nyonya menuju ke Villa di pantai. Kondisi sudah aman. Nyonya Nyonya dipersilakan istirahat di villa sambil menunggu mereka datang menjemput.” Ucap Pak Sopir dengan nada sopan tidak lupa menundukkan kepalanya.
“Hah? Tidak bisa! Ayo sekarang antar kami ke rumah mereka. Tahu orang tua sudah datang malah masih tidur semua tidak cepat cepat datang menjemput. Sekarang malah kita disuruh menunggu di pantai, sudah sejak tadi kita menunggu di pantai meskipun di dalam pesawat.” Ucap Nyonya Jonathan dengan nada tinggi lalu segera melangkah menuju ke mobil.
“Ayo Pak, cepat kok malah berdiri mematung. Kalau perlu kita langsung menuju ke bukit.” Ucap Nyonya William menambahkan sambil turut serta melangkah di samping besan perempuannya.
Satu pengawal duduk di jok depan sambil memangku anjing pelacak permata. Anjing itu terus menoleh ke arah Nyonya Jonathan mungkin mengendus sesuatu yang harus dicarinya karena saat itu memang Nyonya Jonathan mengenakan permata kualitas terbaik di dua telinganya.
Nyonya Jonathan dan Nyonya William duduk di jok belakang kemudi, sedang satu pengawal lagi duduk di jok paling belakang. Mobil pun berjalan pelan pelan meninggalkan pantai Alexandria menuju ke rumah Vadeo dan Alexandria.
Sedangkan di lain tempat. Di rumah Vadeo dan Alexandria. Alexandria dan Si Kembar sudah tampil cantik berada di dalam kamar Vadeo dan Alexandria. Sedangkan Vadeo masih berada di dalam kamar mandi.
“Kalian panggil Papa sana, biar cepat mandinya.” Ucap Alexandria yang sedang duduk di sofa dan di samping kiri kanannya Valexa dan Deondria yang sedang menciumi perut datarnya.
__ADS_1
“Adik adik pengen te pantai ya Ma... (adik adik pengen ke pantai ya Ma...).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil mengusap usap perut datar Sang Mama.
“Iya, makanya kalian cepat panggil Papa.” Ucap Alexandria sambil mengusap usap kepala Valexa dan Deondria. Kedua bocah itu pun mencium perut Alexandria berkali kali lalu turun dari sofa dan berlari menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
“Papa.. Papa tepat... (Papa.. Papa... cepat...).” teriak Valexa dan Deondria. Mereka berdua akan menendang nendang pintu kamar mandi, akan tetapi dibatalkan karena ingat ucapan akan pengasuhnya jika mereka berdua sudah besar dan Akan memiliki adik adik, biar tidak ditiru oleh adik adik mereka.
“Papa tepat... (Papa cepat...).” teriak mereka berdua lagi.
Sementara itu di dalam kamar mandi Vadeo masih berendam di bath up dengan air hangat merasa sangat nyaman dan ingin berlama lama di sana, sebab kondisi pulau sudah aman, alarm di aplikasi sudah berwarna hijau.
“Iya Sayang sebentar... !” teriak Vadeo masih menikmati berendam di dalam air hangat.
“Kalian telepon Uncle Vin, sudah selesai belum!” teriak Vadeo lagi dari dalam kamar mandi.
Akan tetapi tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan muncul sosok Alexandria sudah dengan ekspresi wajah yang benar benar habis kesabarannya.
“Papa ayo cepat malah enak enak berendam berlama lama.” Ucap Alexandria terus melangkah menuju ke bath up. Valexa dan Deondria yang melihat Sang Papa dimarahi oleh Sang Mama tertawa kecil sambil menutup mulut mungil mereka. Lalu keduanya berlari meninggalkan pintu kamar mandi dan Akan menelepon Uncle Vin nya.
Alexandria terus melangkah mendekati Vadeo yang masih berendam.
“Apa Mama mau lagi kita, ayo Ma enak loh dengan berendam di air hangat gini...” ucap Vadeo sambil tersenyum mesum menatap isterinya.
__ADS_1
“Ayo Ma, satu sesi juga tidak apa apa.” Ucap Vadeo lagi sambil mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh istrinya agar ikut masuk ke dalam bath up.