Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 172. Kejar dan Tangkap


__ADS_3

Vadeo pun setuju dengan ucapan isterinya, kemungkinan itu yang menelepon Mama William pasti sudah diberi tahu oleh Mama Jonathan kalau Alexandria hamil dan rencana mereka akan berkunjung ke pulau Alexandria atau bahkan akan memarahi Vadeo gara gara ikan asin.


Suara dering di hand phone milik Alexandria pun sudah berhenti dan berubah menjadi suara notifikasi pesan masuk dan selanjutnya tidak ada lagi bunyi dari hand phone yang mengganggu mereka berdua.


“Hmmm bener yang dibilang Alexa, abaikan saja... “ gumam Vadeo dalam hati sambil terus melanjutkan kegiatan enak enaknya dan Vadeo pun meminta satu ronde lagi dengan berganti posisi. Alexandria pun menurutinya sambil terus merayu mengajak melakukan enak enakan di pantai. Vadeo yang sedang merem melek hanya menjawab hmmm hemmmm dan iya iya saja.


Akhirnya setelah keduanya sudah terpuaskan mereka berdua berpelukan sambil berciuman dengan penuh cinta dan kasih sayang, tidak lupa Vadeo mengusap usap lembut perut Alexandria yang masih datar itu. Setelah membersihkan diri mereka pun segera keluar dari kamar mandi.


Setelah mengeringkan rambut dan memakai pakaian, Vadeo teringat akan ikan bakar yang tadi dibakar oleh Richardo untuk dirinya.


“Aku ke bawah ya Sayang...” ucap Vadeo sambil melangkah menuju ke nakas untuk mengambil hand phone miliknya. Wajah Vadeo kini lebih ceria dan segar tidak kusut lagi.


Saat dilihat layar hand phone miliknya tampak banyak panggilan tidak terjawab dari Richardo. Vadeo pun tergesa gesa melangkah keluar dari kamar sambil membawa hand phone miliknya.


Vadeo terus melangkah menuruni anak tangga dan terus melangkah menuju ke pintu belakang untuk menuju ke teras belakang. Saat sampai di teras belakang suasana sudah sepi. Tempat juga sudah bersih dan rapi.


“Hmmm ke mana mereka?” tanya Vadeo pada dirinya sendiri. Vadeo lalu mengusap usap layar hand phone miliknya lalu menghubungi Richardo. Richardo dengan segera menerima panggilan suara dari Vadeo, dan mengatakan jika ikan bakar milik Vadeo diserahkan pada Ibu pelayan yang sudah selesai istirahat nya.


Vadeo segera memutus sambungan panggilan telepon miliknya pada Richardo dan segera melangkah menuju ke dapur. Dengan cepat dia membuka pintu dapur. Dan betapa kagetnya saat melihat ibu pelayan duduk di kursi pojok dapur sambil memegang piring lebar tempat ikan bakar tadi dengan tangan yang sibuk mencubit cubit ikan bakar di atas piring dan mulut bergerak gerak mengunyah dan menikmati daging ikan bakar. Sampai sampai tidak melihat kedatangan Tuan Vadeo.

__ADS_1


“Bu...” suara Vadeo tidak keras namun sudah membuat kaget Ibu pelayan yang sedang tekun mencubit cubit daging ikan bakar yang sangat lezat.


“Eh Tuan.. Ikannya sangat enak Tuan ambil di kolam mana? Besok Pak Kebun saya suruh ambil.” Ucap Ibu pelayan setelah menelan daging ikan yang dikunyah di dalam mulutnya sambil menatap sosok Vadeo.


“Bukannya itu ikan yang Richardo titipkan untuk aku?” tanya Vadeo sambil menatap wajah Ibu pelayan.


“Iya Tuan, tapi kata Bang Bule Vincent boleh saya makan tadi Tuan Richardo sudah menghubungi Tuan Vadeo dan Nyonya Alexa. Saya juga sudah chat pada Nyonya Alexa izin untuk makan ikan ini. Terima kasih ya Tuan.” Ucap Ibu pelayan dengan ekspresi antara takut mendapat kesalahan dan senang sudah mendapat ikan bakar enak.


“Hmmmm.” Gumam Vadeo lalu membalikkan tubuhnya melangkah meninggalkan dapur. Vadeo yang kecewa namun tidak bisa memarahi ibu pelayan itu lalu melangkah ke ruang kerjanya.


Saat sudah berada di depan pintu ruang kerjanya dia segera membuka pintu itu. Tampak Richardo duduk di sofa sambil menatap layar lap top dengan serius.


“Do apa yang sudah kamu katakan pada Ibu pelayan?” tanya Vadeo sambil terus melangkah mendekati Richardo.


“Bukannya memang sejak tadi juga kuning, itu karena masih ada bangkai kapal berada di perairan kita.” Ucap Vadeo sambil mendudukkan pantatnya di sofa. Lalu dia menari lap top yang berada di depan Richardo dan menguasai lap top itu.


“Perkiraan itu Do, karena ada bangkai kapak tenggelam dan juga kemungkinan orang orang yang ada di dalam kapal itu masih berada di sekitar perairan kita. Maka aku sebenarnya belum mengizinkan Oma Oma itu datang ke sini.” Gumam Vadeo sambil jari jarinya sibuk dengan tuts tuts keyboard lap top.


“Apa ada informasi terkini yang penting dari para petugas di perbatasan?” tanya Vadeo tanpa menoleh ke arah Richardo, pandangan matanya terus fokus ke layar lap top.

__ADS_1


Akan tetapi belum juga Richardo menjawab ada suara dering di hand phone miliknya yang berada di atas meja di dekat lap topnya. Sekilas Vadeo melihat layar hand phone yang berkedip kedip ada tertera nama Sang Istri bercinta. Dengan segera Vadeo mengambil hand phone itu dan menggeser tombol hijau.


“Pa yang menghubungi tadi bukan Mama.” Suara Alexandria di balik hand phone milik Vadeo.


“Iya Ma, Richardo dan Ibu Pelayan yang sudah menghabiskan ikanku.” Ucap Vadeo dengan suara datar datar saja.


“He.... he.... sabar Pa, maka besok kita jemput Mama ke pantai kita cari ikan di sana.” Suara Alexandria sambil tertawa kecil lalu memutus sambungan teleponnya.


Dan di saat sambungan teleponnya dengan Alexandria terputus, ada suara dering lagi dan kini tidak hanya suara dering di hand phone milik Vadeo namun juga hand phone milik Richardo juga berdering. Vadeo dan Richardo segera menggeser tombol hijau sebab yang menelepon mereka adalah anak buah Bang Bule Vincent yang bertugas di pos pos keamanan di perbatasan.


“Hallo..” suara Vadeo setelah menggeser tombol hijau.


“Tuan, kami melihat ada perahu karet masih berada di sekitar perairan.” Suara seorang laki laki di balik hand phone milik Vadeo.


“Kamu kejar mereka dan tangkap agar cepat selesai. Jangan biarkan mereka berkeliaran di sekitar perairan kita!” perintah Vadeo dengan tegas.


Richardo yang juga mendapatkan laporan yang sama yaitu petugas pos melihat kapal karet di sekitar perairan juga memerintah hal yang sama dengan yang diperintahkan oleh Vadeo. Richardo pun segera memutus sambungan teleponnya setelah anak buah Bang Bule Vincent yang bertugas di pos keamanan perbatasan siap melaksanakan perintahnya.


“Kenapa kamu ikut ikut aku?” ucap Vadeo sambil menatap Richardo yang baru saja memberikan perintah yang sama dengan apa yang dia ucapkan.

__ADS_1


“Apa saya salah Tuan? Kalau salah bisa saya ganti perintah nya.” Ucap Richardo dengan tangan yang masih memegang hand phone miliknya dan siap melakukan panggilan balik pada rekan kerjanya.


“Tidak.” Ucap Vadeo sambil fokus menatap layar lap top nya lagi dan berharap anak buah Bang Bule Vincent bisa mengejar dan menangkap perahu perahu karet yang masih berkeliaran.


__ADS_2