
Mamah Mimi tampak tersenyum puas. Lalu dia melangkah menuju ke kamar mewahnya. Saat sampai di dekat pintu kamar mewahnya dia pun segera memerintahkan pada dua pemuda yang berjaga di depan kamarnya agar segera menyiapkan semua keperluan ritualnya yang akan dilakukan di dalam kamar. Dua pemuda itu pun segera berjalan untuk melaksanakan perintah Mamah Mimi. Sementara Mamah Mimi segera masuk ke dalam kamar mewahnya.
Sedangkan di kamar Tuan Njun Liong dan Richie mereka berdua pun sudah siap siap akan melarikan diri nanti di saat Mamah Mimi sedang melakukan ritual. Tuan Njun Liong yang sudah selesai mengemas semua barang barangnya di dalam kopor besar nya segera menghubungi Richie lewat hand phone miliknya. Tuan Njun Liong tampak mengusap usap layar hand phone nya untuk mencari nama kontak Tuan Richie, dan dengan segera dia melakukan panggilan suara.
“Tuan, saya sudah siap.” Suara Tuan Njun Liong setelah Richie menerima panggilan suara nya.
“Sama Tuan, saya juga sudah siap. Tinggal nunggu waktu. Nanti laki laki yang di depan itu akan menghubungi saya Tuan. Katanya yang sekitar jam dua belas malam kita harus siap siap.” Suara Richie di balik hand phone Tuan Njun Liong.
“Baiklah, jangan lupa nanti Tuan Richie menghubungi saya.” Ucap Tuan Njun Liong lalu dia memutus sambungan teleponnya.
Sementara itu di kamar lainnya masih di dalam rumah Mamah Mimi. Di kamar tempat keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent berada. Setelah mereka selesai makan malam. Ke empat pemuda itu sudah diberi pesan agar siap siap untuk dijemput sebelum jam dua belas malam. Satu pemuda pelamar dari tetangga kota itu tampak bingung dan bengong bengong.
“Kak, kenapa test nya di tengah malam. Test apa apa ya?” tanya nya dengan polos.
__ADS_1
“Kenapa aku semakin hari semakin bingung di sini. Orang tuaku sudah bertanya tanya kepada aku. Apa sudah bekerja aku jawab masih orientasi. Tapi kok aku rasa aneh apalagi kejadian kejadian hari ini. Hiii aroma kemenyan itu dan darah tadi itu yang dioles oles di telinga Kakak Kakak. Dan sekarang Kakak Kakak disuruh siap siap jam dua belas malam. Apa harus melayani tamu malam malam. Melayani apa coba...” ucap pemuda pelamar dari kota tetangga itu dengan ekspresi bingung dan takut.
“Entahlah kamu lihat saja.” Ucap salah satu dari empat pemuda utusan Bang Bule Vincent sebab mereka berempat masih menjaga rahasia agar pemuda pelamar dari tetangga kota itu tidak semakin takut dan malah menggagalkan rencana mereka.
Keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent itu pun sedikit tenang saat mendapat kabar dari Eveline jika Bang Bule Vincent dan Vadeo sudah menuju ke sini. Mereka berempat pun sudah diberi pesan agar membawa senjata rahasia dan memakai alat pelindung.
Waktu pun terus berlalu detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Sinar rembulan pun tampak terang di kota Mamah Mimi berada. Keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent itu pun semakin berdebar debar.
“Ayo Bro siap siap!.” Ucap salah satu dari keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent itu lalu dia menuju ke tas ransel miliknya untuk mengambil segala perlengkapannya.
Saat salah satu pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent itu sudah di dalam kamar mandi, dia segera melepas celana panjangnya. Dia lalu mengambil alat pelindung yaitu satu set sarung tangan karet yang sangat tipis, elastis dan kuat dengan warna yang sama dengan kulit sekilas orang tidak melihat kalau dia memakai sarung tangan. Pemuda itu lalu menaruh senjata rahasia yang sudah dalam bentuk kapsul kapsul dan dia taruh pada saku kecil yang ada di ****** ********. Lalu dia memakai lagi celana panjangnya dan setelahnya dia keluar dari kamar mandi dan bergantian teman lainnya yang masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan hal yang sama.
Sementara itu di bandara kecil di kota Mamah Mimi berada, pesawat Vadeo sudah mendarat dengan selamat. Vadeo sudah memberi pesan pada petugas bandara agar privasi keluarga mereka dijaga dengan baik. Dan kebetulan di bandara kecil itu juga di saat tidak ada jadwal penerbangan atau pun kedatangan pesawat komersial jadi bandara itu dalam keadaan sepi orang. Hanya ada beberapa orang petugas bandara saja.
__ADS_1
Dua mobil penjemput pun sudah datang. Eveline segera berlari menuju ke rombongan Si Kembar yang sudah melangkah keluar dari ruang kedatangan.
“Selamat datang Nona Nona Cantik.” Ucap Eveline sambil tersenyum menyalami Valexa dan Deondria. Dua bocah itu pun mengucapkan terima kasih dan membalas senyuman Eveline.
“Tuan dua mobil sudah siap.” Ucap Eveline selanjutnya sambil menatap Vadeo dan selanjutnya menatap Bang Bule Vincent, orang yang dia cintai dan kagumi akan tetapi dengan iklas dan lapang hati Eveline menerima kenyataan jika Bang Bule Vincent mencintai wanita lain.
Sesaat Valexa dan Deondria saling tatap dengan pandangan mata yang tampak serius. Lalu keduanya tampak mengangguk anggukkan kepalanya.
“Pa ... tita badi tudas... (Pa kita bagi tugas).” Ucap Valexa selanjutnya sambil menatap Sang Papa
“Iya Pa, atu tan Aca berpicah... Atu cama Ante Pin.. Aca cama Papa.. (Iya Pa, aku dan Aca berpisah .. aku sama uncle Vin.. Aca sama Papa).” Sambung Deondria sambil menatap Vadeo dan Bang Bule Vincent secara bergantian.
“Kalian berdua yakin?” tanya Vadeo tampak kaget saat kedua anak kembarnya minta berpisah dalam pekerjaan. Dua bocah itu mengangguk dengan mantap.
__ADS_1
“Iya dibadi duwa teyompok tudas. Catu itut Aca tan catu itut Aya.. ( Iya dibagi dua kelompok tugas. Satu ikut Aca dan satu ikut Aya..).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan. Orang orang itu pun lalu menuruti kemauan Si Kembar. Mereka terbagi dalam dua kelompok dan segera berjalan menuju ke arah dua mobil yang sedang menunggu mereka.
Dua mobil itu pun pelan pelan berjalan meninggalkan lokasi Bandara kecil itu. Mobil di depan ditumpangi oleh Valexa, Vadeo, dan dua anak buah Bang Bule Vincent. Dan mobil belakangnya ditumpangi oleh Deondria, Bang Bule Vincent, Eveline dan dua orang anak buah Bang Bule Vincent. Mobil terus melaju meninggalkan lokasi bandara sesuai perintah dari Valexa dan Deondria.