
Beberapa saat kemudian pintu samping Mansion utama itu terbuka. Pelayan laki laki penjaga pintu tampak lega sebab perempuan karyawan baru yang tidak lain adalah Atikah itu masih berdiri di depan pintu. Dia tidak tahu jika Atikah sudah menyelinap masuk ke dalam Mansion utama.
“Neng, tunggu di teras ya.. sebentar Tuan Vadeo akan menemui.” Ucap pelayan laki laki penjaga pintu samping itu.
“Iya Pak.” Jawab Atikah dengan nada sopan lalu dia melangkah menuju ke kursi teras samping. Jantung nya masih berdebar debar karena menunggu orang yang sudah didamba nya sejak lama.
Sementara itu, di meja makan mansion utama, Vadeo yang sudah selesai makan malam bangkit berdiri akan menemui karyawan baru yang kata nya akan komplain itu. Dia bisa memahami jika ibu kepala pelayan menyuruh langsung untuk menghadap ke Nyonya Jonathan sebab yang mengambil keputusan Nyonya Jonathan. Dan sekarang pun sudah jam istirahat Ibu kepala pelayan.
“Papa atu itut...” teriak Valexa dan Deondria yang langsung minta turun dari kursi makan nya. Dua pengasuh mereka pun membantu mereka berdua turun dari kursi. Vadeo pun berhenti dari langkah nya menunggu ke dua anaknya.
“Dia mungkin orang jahat seperti yang dibilang oleh Aca dan Aya. Kenapa juga pakai mengancam akan melaporkan, apa dia orang yang disusupkan oleh pesaing..” gumam Vadeo dalam hati sambil mengulurkan kedua tangannya untuk menggandeng ke dua puteri nya.
“Hmmm tapi kenapa Aca dan Aya tidak mau saat Mama akan membatalkan dia..” gumam Vadeo lagi. Lalu mereka bertiga berjalan menuju ke pintu samping Mansion.
Tidak lama kemudian mereka bertiga sudah sampai di dekat pintu samping. Pelayan laki laki penjaga pintu samping pun segera membuka kan pintu buat Tuan Vadeo dan kedua puteri Tuan Vadeo.
“Selamat malam Tuan, maaf mengganggu istirahat Tuan.” Ucap Atikah saat melihat sosok Vadeo sudah keluar dari pintu, dia tidak begitu memperhatikan dua anak balita yang berada di gandengan tangan Vadeo kiri dan kanan.
“Hmmm katakan dengan segera apa permasalahan kamu.” Ucap Vadeo sambil mendudukkan pantatnya di salah satu kursi teras itu, Valexa dan Deondria pun minta dipangku oleh Vadeo. Dan kepala kedua anak itu pun berusaha untuk menutupi wajah Papa nya agar tidak dilihat oleh Atikah.
“Tuan waktu awal saya mendaftar bekerja di sini, lowongan pekerjaan adalah menjadi sopir Puteri puteri Tuan yang cantik cantik ini. Tetapi saat saya sudah diterima kenapa berubah saya menjadi sopir pelayan dan saya juga harus ankat angkat barang.” Ucap Atikah sambil berusaha melihat wajah Vadeo akan tetapi kepala Valexa dan Deondria selalu menutupi nya. Rasanya ingin Atikah membawa dua bocah itu untuk diberi obat tidur lebih dahulu.
“Bagaimana dengan yang tertulis di kontrak kerja kamu?” tanya Vadeo sambil memeluk ke dua anak nya.
__ADS_1
“Ya di kontrak kerja sebagai sopir pelayan. Tapi lihat ini Tuan, tangan saya menjadi merah merah.” Ucap Atikah kemudian sambil menunjukkan telapak tangan nya.
Dan tidak berhenti sampai di situ dia pun akan menggunakan kesempatan ini untuk menggoda Vadeo. Atikah pun menarik lengan baju nya hingga pangkal lengan dan tampak lengannya tangannya yang mulus.
“Lihat ini Tuan, lengan saya sampai biru biru.” Ucap Atikah sambil memperlihatkan pangkal lengan nya, dan dia pun ingin menunjukkan punggungnya.
Valexa dan Deondria dengan segera menghadap ke Papa nya dan menutup kedua mata sang Papa dengan tangan tangan mungil mereka.
“Rapikan bajumu, berlakulah sopan!” teriak Vadeo yang membiarkan tangan tangan mungil anak anak nya menutup kedua matanya. Dalam hati Vadeo tertawa gemas melihat kelakuan kedua anak anak itu yang sangat posesif pada diri nya melebihi Alexandria.
“Kalau kamu tidak suka bisa mengundurkan diri dari sini. Masih banyak orang yang butuh pekerjaan juga. Jangan pakai mengancam ancam akan melaporkan pada pejabat pemerintahan.” Ucap Vadeo selanjutnya setelah kedua anak nya sudah menarik tangan tangan mereka dari mata sang Papa karena Atikah sudah merapikan baju nya lagi.
“Keluarga Jonathan akan membayar buat pengobatan dan kamu bisa berhenti bekerja dan akan kami bayar satu bulan penuh gaji kamu meskipun kamu hanya satu hari bekerja.” Ucap Vadeo selanjutnya dengan nada serius. Valexa dan Deondria terlihat menatap tajam pada Atikah.
“Terus mau mu apa?” tanya Vadeo kemudian dengan nada yang sedikit meninggi.
“Saya keberatan jika harus merangkap jadi kuli angkut.” Ucap Atikah sambil menundukkan kepala nya.
“Ya sudah besok saya sampaikan pada Ibu kepala pelayan. Sekarang kamu kembali ke tempat tinggalmu.” Ucap Vadeo selanjutnya yang tidak mau lagi berpanjang panjang kata dengan Atikah.
Vadeo pun lalu bangkit berdiri sambil menggendong kedua anak itu. Kedua nya digendong di depan. Vadeo terus melangkah dan masuk ke dalam mansion utama lewat pintu samping yang dibukakan oleh pelayan laki laki penjaga pintu.
Dan Atikah pun juga bangkit berdiri dan melangkah menuju ke gedung tempat tinggal para pelayan dan karyawan yang menginap.
__ADS_1
“Papa tenal dia?” tanya Deondria yang masih di dalam gendongan Vadeo
“Tidak.” Jawab Vadeo.
“Kenapa kalian berdua selalu bertanya apa Papa mengenal orang itu?” tanya Vadeo selanjutnya dan terus melangkah menuju ke ruang keluarga.
“Tayak na Papa tenal dech..” Ucap Valexa sambil menatap wajah Sang Papa.
“Papa lupa. Apa dia pernah di panti asuhan tempat Mama pernah tinggal dulu..” Ucap Vadeo sambil mengingat ingat akan tetapi dia tetap tidak ingat. Kalau melihat penampilan Atikah yang sederhana dia mengira Atikah pernah tinggal di panti asuhan karena dari informasi dari Ibu kepala pelayan Atikah tidak punya orang tua.
“Hmmm coba nanti tanya ke Mama. Mungkin dia pernah tinggal di panti asuhan sebelum tinggal dengan nenek nya.” Ucap Vadeo sambil mendudukkan pantatnya di sofa di dalam ruang keluarga. Valexa dan Deondria pun masih berada di dalam pangkuannya.
“Teyepon Mama, Pa..” Ucap Valexa sambil menatap Papa nya.
“Mama masih bekerja.” Jawab Vadeo karena melihat jam yang belum saat nya Alexandria istirahat.
“Papa duyu di mana tetemu Mama?” tanya Valexa kepo.
“Di sekolah.” Jawab Vadeo sambil menciumi puncak kepala kedua anak nya, dia pun tersenyum mengingat saat pertama kali terpesona dengan Alexandria hingga akhirnya jatuh cinta.
“Di cetoyah tayak cetoyah tu?” tanya Deondria yang juga kepo.
"Iya Pa di cetoyah tayak cetoyah ku?" tanya Valexa yang masih juga kepo.
__ADS_1
"ceryitain dong Pa.." pinta mereka berdua.