
Sementara itu masih di atas bukit akan tetapi di tempat lain di luar rombongan Si Kembar dan ular besar. Tampak seorang laki laki paruh baya yang terlihat kebingungan.
“Padahal pohon asam itu kelihatan dari sini tajuk rimbun daun daun atasnya, tapi kenapa jalan yang kulewati tidak juga sampai sampai ke tempat tadi ya.. bodohnya aku tidak menandai jakan yang tadi kulewati.” Gumam Pak sopir yang masih bingung menuju ke tempat pohon asam lagi.
“Mana aku belum memberi kabar Nyonya Alexa, tadi dihubungi tidak bisa. Sekarang batere hand phone ku limit. Kalau habis aku nanti tidak bisa menghubungi Tuan Vadeo kalau aku tidak bisa kembali lagi ke pohon asam itu.” Gumam Pak sopir dalam hati. Tadi Pak Sopir setelah menghubungi Vadeo memang sudah berusaha untuk menghubungi nomor Alexandria akan tetapi nomor Alexandria sibuk, mungkin sedang menghubungi orang lain, dan belum menghubungi lagi Alexandria keburu batere hand phone nya hampir habis. Lalu pak sopir menon aktifkan hand phone nya.
Kini Pak Sopir itu masih berjalan berusaha menuju kembali ke tempat pohon asam lagi.
Sementara itu, rombongan Si Kembar dan ular besar, masih berada di depan punden berundak. Mereka semua masih duduk bersimpuh cuma bedanya kini Valexa dan Deondria tidak lagi menangis sesenggukan. Hanya masih ada sisa isakan tangis dengan frekuensi yang sudah agak jarang.
Tampak kedua bocah itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya masing masing. Dan setelahnya dia menoleh ke arah Sang Papa.
“Papa ini matam yeyuhul Yada Mahadiyada.. (Papa ini makam leluhur Raja Mahadiraja).” Ucap Valexa sambil telunjuk jarinya menunjuk pada punden berundak itu. Vadeo menatap punden berundak itu tampak di salah satu dinding batu ada ukiran berupa tulisan huruf palawa.
“Tayo itu matam puteyi.. puteyi Yada.. hik... hik.. hik... (Kalau itu makam puteri puteri Raja.. hik.. hik... hik....).” ucap Deondria sambil telunjuk jari mungilnya menunjuk dua batu hitam berukir yang terpancang di tanah. Dan Deondria kembali terisak isak lagi.
“Ayo ke sana, jangan bersedih. Jika roh roh orang orang yang sudah berbuat jahat pada mereka masih gentayangan menempel pada manusia manusia di jaman sekarang, kita balas mereka ..” ucap Vadeo menenangkan hati kedua anaknya sambil jari jarinya menghapus air mata yang kembali mengalir pada wajah anak anak nya.
Mereka pun lalu berjalan dengan lututnya untuk mendekat ke batu hitam berukir yang tidak jauh jari punden berundak itu. Setelah sampai di dekat dua batu hitam itu. Tampak ada ukuran berupa tulisan huruf palawa.
__ADS_1
“Hmmm hanya Tuan Rangga yang bisa membaca tulisan ini.” Gumam Vadeo.
“Boleh difoto tidak?” tanya Bang Bule Vincent pada Valexa dan Deondria. Tampak Valexa dan Deondria menatap Sang ular yang tampak masih ada sisa air mata nya.
“Beyum boyeh.. (belum boleh).” Jawab Valexa dan Deondria. Mereka semua lalu hening tampak berdoa untuk kedamaian arwah arwah yang ada di tempat itu.
Beberapa menit kemudian, tampak ukar besar itu menggeserkan tubuhnya. Lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Valexa dan Deondria pun bangkit berdiri dan mengajak semua kembali berjalan untuk mengikuti ular besar itu.
Tampak ular besar itu berjalan menuju ke bangunan megah yang masih berdiri dengan kokoh, bangunan istana kuno. Valexa kini digendong oleh Vadeo sedangkan Deondria digendong oleh Bang Bule Vincent. Sementara Richardo berjalan di belakang sendiri.
“Deo.. punden berundak dan batu batu hitam berukir itu tadi. Juga mahal harganya. Para pemburu benda antik pasti tergiur dengan benda benda itu tadi.” Ucap Bang Bule Vincent dengan lirih.
“Sial, kamu Bro, aku tidak sekeji itu. Ibaratnya kan itu nisan kalau jaman sekarang mosok aku jualan nisan macam tidak ada barang lain yang bisa aku jual saja.” Ucap Bang Bule Vincent yang terus berjalan sambil menggendong Deondria.
“Aku juga takut dipatuk ukar besar itu.” Ucap Bang Bule Vincent kemudian. Dan tiba tiba...
“Aduh!” teriak Bang Bule Vincent karena Deondria menggigil pundak Bang Bule Vincent. Deondria pun tertawa kecil karena sudah membuat Bang Bule Vincent kaget.
“Kamu ya bikin Uncle kaget saja...” ucap Bang Bule Vincent sambil mencium gemas wajah Deondria dan terus berjalan, Deondria pun masih tertawa kecil.
__ADS_1
Mereka terus berjalan menuju bangunan istana itu. Bang Bule Vincent sungguh kagum karena semakin dekat semakin banyak benda benda antik berharga tinggi seperti lampu lampu taman antik juga benda benda berupa batu batuan dengan ukiran ukiran mungkin itu tempat duduk di luar jaman dahulu kala.
Dan tidak lama kemudian mereka semua sudah mulai menaiki anak tangga bangunan istana itu. Lantai batu marmer itu tampak berdebu lumayan tebal. Meskipun kawasan itu terlindungi oleh akar akar pohon asam yang tentu juga oleh akar akar pohon dan tanaman lain yang saling terkait, akan tetapi tetap saja masih ada kotoran tanah yang menempel hingga lengket dan sekilas lantai batuan marmer itu tampak bagai lantai tanah saja.
Sesaat kemudian mereka sudah berada di depan pintu kayu kokoh tebal berukir indah. Pintu dari kayu jati murni. Daun pintu itu ada dua buah, istilah nya disebut model kupu tarung.
“Pa buta pintu na.. (Pa buka pintu nya..).” ucap Valexa yang masih berada di dalam gendongan Vadeo. Vadeo lalu mengambil kunci emas yang dia taruh di saku kemejanya. Dengan tangan gemetar Vadeo memasukkan kunci itu ke dalam handel pintu yang juga berwarna emas. Ah rasa gemetarnya melebihi saat ia memasukkan senjata triple T nya pada sasaran tembak di bagian tubuh paling terlindung pada tubuh indah Sang Istri.
“Deo cepat dikit kenapa.” Ucap Bang Bule Vincent yang sudah tidak sabar ingin melihat isi di dalam pintu istana itu.
“Kamu tidak lihat apa, ini tanganku gemetaran melebihi saat unboxing Alexandria.” Ucap Vadeo yang masih gemetaran tangannya membuka kunci pintu itu.
Valexa dan Deondria terlihat saling pandang mendengar percakapan Sang Papa dan Uncle nya. Dan selanjutnya tampak tangan mungil Valexa terulur dan menarik telinga Sang Papa.
“Kamu itu malah menjewer Papa ikut ikut Oma saja.” Ucap Vadeo yang kaget karena telinganya ditarik oleh Valexa yang ada digendongnya. Dan sesaat kemudian kunci pintu itu sudah bisa terbuka. Dengan pelan pelan Vadeo mendorong dua daun pintu. Saat Vadeo belum melihat isi di dalam pintu. Telapak mungil Valexa menepuk lengan kekarnya.
“Pa.. ambik yadi tunci na.. (Pa .. ambil lagi kunci nya..).” ucap Valexa mengingatkan agar Sang Papa mengambil lagi kunci yang sangat berharga itu. Vadeo pun segera mencabut lagi kunci emas itu.
...
__ADS_1