Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 186.


__ADS_3

“Apa?” suara Tuan Jonathan dengan ketus di balik hand phone milik Vadeo.


“Pa, tapi aku masih ada perlu penting di sini. Rencana rehab bangunan bawah tanah itu, agar Papa dan Mama bisa masuk tidak susah.” Ucap Vadeo dengan nada serius.


“Hah, itu rencana jangka panjang. Masalah Jonathan Co di depan mata. Aku sudah bekerja pagi, siang, sore dan malam. Pokoknya dua hari lagi kamu harus pulang.” Suara Tuan Jonathan di balik hand phone milik Vadeo dan selanjutnya Tuan Jonathan memutus sambungan teleponnya.


Vadeo menaruh hand phone miliknya ke dalam saku kemejanya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dengan lesu.


“Ada apa Bro?” tanya Bang Bule Vincent sambil menatap wajah Vadeo yang terlihat lesu tidak bersemangat.


“Disuruh pulang oleh Papa, kembali ngurusi Jonathan Co. Diberi waktu dua hari lagi di sini.” Jawab Vadeo yang masih menyandarkan punggungnya di sofa. Akan tetapi tiba tiba dia mengubah posisi duduknya dia meraih cangkir kopi lalu menyesap kopi dalam cangkir itu.


“Bul, aku mau ubah jadwal saja. Besok pagi kita ke bukit untuk menemui ular besar itu. Dan setelahnya kita ke Villa pantai bermalam di sana lalu kita pulang.” Ucap Vadeo setelah menyesap kopi dari cangkir nya.


“Setuju Bro. Jadi tidak bolak balik kita. Kita bisa berlama lama di pantai dan nunggu saja Papa Jo memanggil lagi baru kita balik kalau sudah berada di pantai kan enak tinggal jalan ke pesawat.” Ucap Bang Bule Vincent sambil tersenyum.


“Iya sih, tapi kasihan juga Papa sudah sejak dulu berharap pensiun tapi gagal terus karena ada masalah masalah yang harus aku urus dengan harus meninggalkan Jonathan Co.” Ucap Vadeo lalu dia menoleh ke arah pintu kamar Nyonya Jonathan yang masih tertutup dan sesekali sayup sayup terdengar tawa para perempuan di dalam kamar itu.


“Aku mau omong pada Aca dan Aya kalau besok kita ke bukit pohon asam kok mereka masih asyik di dalam.” Ucap Vadeo lalu menghabiskan tuntas kopi di dalam cangkir nya.


“Tunggu saja Bro, nanti kalau lapar mereka keluar. Sebentar lagi jam makan. Ayo kita bubar.” Ucap Bang Bule Vincent lalu dia bangkit berdiri.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain di Mansion Jonathan. Tuan Jonathan yang sudah mendapat informasi tentang harta karun yang ada di pulau Alexandria itu, dia pun juga penasaran dengan harta karun itu.


“Aku selama ini tidak begitu percaya dengan harta karun. Tetapi kenapa pulau yang dibeli Vadeo menjadi rebutan.” Ucap Tuan Jonathan sambil berjalan keluar dari kamarnya.


“Aku mau menemui Tuan Rangga, mumpung aku sudah santai dan sebentar lagi Vadeo yang akan mengurusi Jonathan Co. Aku mau tanya tanya tentang pulau Alexandria itu biar lebih jelas. Penjelasan dari Oma hanya sepotong potong yang dia ceritakan hanya masalah permata langka saja.” Gumam Tuan Jonathan dalam hati sambil terus melangkah keluar dari pintu samping Mansion untuk menuju ke paviliun tamu. Karena Tuan Rangga dan cucunya masih berada di sana hingga Vadeo pulang.


Tuan Jonathan melangkah dengan cepat. Dia pun sudah memerintahkan pada Ibu kepala pelayan agar mengantar makan malamnya di paviliun tamu dia akan makan malam bersama Tuan Rangga.


TOK TOK TOK


TOK TOK TOK TOK TOK


Tuan Jonathan mengetuk ngetuk pintu pintu paviliun tamu depan itu.


Sesaat kemudian pintu terbuka dan muncul sosok Juna sambil menganggukkan kepala dengan sopan.


“Maaf Tuan, saya tadi sedang di kamar mandi. Kakek sedang di kamar, susah jika harus keluar sendiri.” Ucap Juna dengan santun.


“Iya tidak apa apa, maaf juga jika kedatanganku mengganggu aku ingin bertemu dengan Tuan Rangga.” Ucap Tuan Jonathan dan selanjutnya Juna pun mempersilahkan Tuan Jonathan masuk ke dalam ruang tamu. Setelah Tuan Jonathan duduk di kursi di ruang tamu itu. Tidak lama kemudian Juna sudah mendorong kursi roda Tuan Rangga. Tampak wajah Tuan Rangga lebih segar mungkin karena sudah dimandikan oleh Juna atau karena mendapatkan pelayanan ekslusif dari keluarga Jonathan sebab masalah gizi dan kesehatan Tuan Rangga sangat terjamin.


“Selamat petang Tuan Jonathan, kami merasa sangat terhormat Tuan mau mengunjungi kami di sini.” Ucap Tuan Rangga yang duduk di kursi roda yang masih didorong oleh Juna.

__ADS_1


“Kami keluarga Jonathan yang seharusnya mengucapkan terima kasih pada Tuan Rangga yang terhormat atas bantuan Tuan pada masalah yang dihadapi oleh anak saya Vadeo. Dan saya minta maaf baru bisa menemui Tuan Rangga saat ini karena kesibukan saya.” Ucap Tuan Jonathan sambil tersenyum menatap Tuan Rangga yang kini kursi rodanya sudah berada di dekat meja set kursi tamu itu. Tuan Rangga pun tampak tersenyum menatap Tuan Jonathan.


“Selain dari pada itu, kedatangan saya di sini saya ingin mendapatkan cerita langsung dari Tuan Rangga. Apa benar di pulau Alexandria itu ada harta karun. Karena orang orang heboh ingin membeli pulau itu sekarang, kata istri saya ada banyak permata langka di salah satu bukit di pulau itu.” Ucap Tuan Jonathan dengan nada serius.


“Hmm saya tidak tahu tentang harta karun itu Tuan Jo. Tetapi dari cerita di manuskrip kuno itu, di pulau Kemakmuran itu ada sebuah kerajaan. Mungkin peninggalan di dalam kerajaan itu yang dijadikan rebutan banyak orang. Kalau dari perkiraan saya tidak hanya emas permata yang ada di sana. Lebih dari itu Tuan..” ucap Tuan Rangga dengan nada serius. Tampak mata Tuan Jonathan berbinar binar.


“Misalnya apa Tuan?” tanya Tuan Jonathan kepo.


“Banyak Tuan, pasti masih ada bangunan kerajaan yang lengkap dengan segala isinya. Karena setelah meninggalnya dua puteri Raja Mahadiraja itu tidak ada kerajaan lain yang berani masuk. Pasti masih utuh semuanya.” Jawab Tuan Rangga dengan nada serius.


“Apa Tuan Rangga tidak ingin datang ke pulau itu?” tanya Tuan Jonathan sambil menatap Tuan Rangga dan Juno yang duduk tidak jauh dari Tuan Rangga.


“Siapa pun orangnya ingin pergi ke pulau Kemakmuran itu Tuan. Tapi tubuh saya sudah renta begini he... he...” ucap Tuan Rangga sambil tertawa kecil.


“Tuan Rangga dan cucunya itu akan saya ajak ke Pulau Alexandria, sebagai hadiah. Tuan jangan khawatir saya akan membawa tim dokter untuk menjaga kesehatan Tuan Rangga. Bagaimana?” ucap Tuan Jonathan sambil menatap serius wajah Tuan Rangga dan Juno. Tampak Tuan Rangga berpikir pikir.


Saat Tuan Rangga masih berpikir pikir pintu ruang tamu paviliun itu terdengar suara ketukan, Juna pun langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu. Saat pintu sudah dibuka tampak seorang pelayan datang dengan meja dorong yang penuh dengan menu makan spesial. Aroma makanan benar benar tercium sangat lezat menggugah selera.


“Tuan Rangga saya akan menemani Tuan Rangga makan malam. Sambil Tuan dan cucunya berpikir pikir tentang tawaran saya tadi.” Ucap Tuan Jonathan.


Akan tetapi tiba tiba hand phone di saku kemeja Tuan Jonathan berdering. Tuan Jonathan pun segera mengambil hand phone dari saku kemejanya.

__ADS_1


Saat Tuan Jonathan melihat layar hand phone miliknya tertera nama kontak Tuan William sedang melakukan panggilan video.


“Opa William ada perlu apa?” gumam Tuan Jonathan sambil menggeser tombol hijau. Dan setelah panggilan video terhubung tampak Tuan Jonathan kaget saat melihat layar hand phone miliknya.


__ADS_2