Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 209.


__ADS_3

Mobil taxi on line yang membawa Riris Dan temannya pun terus melaju. Dan beberapa menit kemudian mobil sudah sampai pada sebuah cafe yang terlihat sepi pengunjungnya. Lampu di luar cafe itu pun bernyala redup menyinari papan nama cafe itu.


“Non berhenti di sini apa di dalam?” tanya Pak Sopir taxi on line yang belum pernah masuk ke dalam halaman cafe itu.


“Masuk Pak. Kok sepi ya Cafe nya..” gumam Riris yang dia pun belum pernah masuk ke dalam Cafe itu. Demikian pula teman si Riris.


Mobil pun terus berjalan masuk menuju ke halaman cafe itu. Suasana sepi dan lampu di dalam pun hanya remang remang saja. Jantung Riris berdebar debar.


Sesaat mobil berhenti. Dua perempuan itu pun segera turun dari mobil taxi. Kedua perempuan itu mengenakan gaun yang sexie. Gaun terusan mini dan belahan dada dan punggung yang rendah mengekspose bagian tubuh mulus mereka berdua.


“Kok sepi gini Ris, kamu tidak salah kan tempatnya?” tanya teman Riris sambil berjalan masuk menuju ke Cafe yang bangunan merupakan bangunan kuno semakin menambah jantung kedua perempuan itu berdebar debar.


“Tidak, orang itu yang share lokasi ke hand phone kamu itu.” Jawab Riris sambil terus melangkah.


“Coba kamu hubungi lagi dia.” Ucap temannya Riris, sambil terus berjalan masuk ke dalam Cafe itu. Mereka berdua pun duduk pada kursi dalam satu set meja. Saat Riris sedang mengusap usap layar hand phone milik temannya. Seorang laki laki karyawan cafe mendatangi meja mereka berdua.


“Apa anda adalah Nona Riris?” tanya karyawan Cafe itu sambil menatap wajah Riris dan temannya.


“Iya benar.” Jawab Riris sambil menghentikan jari jarinya yang mengusap usap layar hand phone milik temannya dan wajahnya mendongak menatap karyawan Cafe itu.

__ADS_1


“Mr Le sudah menunggu di dalam.” Ucap karyawan Cafe itu sambil menoleh ke arah ruang dalam. Riris dan temannya pun ikut menoleh ke arah ruang dalam.


Riris tidak begitu percaya dengan ucapan karyawan itu. Riris pun melanjutkan lagi mengusap usap layar hand phone milik temannya, untuk menghubungi orang yang direkomendasikan oleh Amel.


“Hallo Nona, aku sudah berada di cafe ini aku di ruang dalam. Ikuti karyawan yang ada di depanmu itu.” Suara berat seorang laki laki di balik hand phone yang dipegang oleh Riris. Riris menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sebab dia tahu jika orang yang sedang dihubungi nya itu pasti bisa melihat dirinya. Riris pun segera memberikan hand phone pada pemilik nya.


“Mari Nona.” Ucap karyawan itu lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan tempat itu. Riris dan temannya pun bangkit berdiri dan berjalan mengikuti karyawan itu. Mereka terus melangkah menuju ke ruang dalam, terdengar suara musik mengalun tidak terlalu keras dari dalam ruang terebut.


Sesaat mata Riris menangkap satu orang laki laki berkulit hitam dengan badan yang tinggi dan besar sedang duduk di sofa di depan nya ada satu botol bir dan satu gelas berisi bir yang baru saja dia tuang. Laki laki itu berpakaian jas lengkap.


“Selamat datang Nona Nona.” Suara berat laki laki itu sambil bangkit berdiri lalu menyalami tangan Riris dan temannya saat dua perempuan itu sudah sampai di depannya . Selanjutnya mereka pun duduk di sofa.


“Nona saya siap melakukan perintah apa saja yang Nona inginkan, akan tetapi apa Amel sudah memberi tahu berapa bayaran buat saya.” Ucap laki laki itu yang tidak lain adalah Mr Le seorang pembunuh bayaran yang direkomendasikan oleh Amel.


“Katakan sekarang Tuan, berapa uang yang harus saya bayar.” Ucap Riris selanjutnya.


“Tidak banyak 10 M untuk satu nyawa.” Ucap Mr Le dengan ringan tanpa beban akan tetapi membuat Riris dan temannya kaget bukan kepalang.


“Apa tidak bisa kurang Tuan?” tanya Riris bernegosiasi dia pun terlihat bingung bagaimana mencari uang sebanyak itu dalam situasi habis keluar dari penjara.

__ADS_1


“Bisa bisa... bahkan bisa secara cuma cuma jika aku suka melakukannya ha... ha... ha... ha....” ucap Mr Le dengan suara tawa terbahak bahak hingga suara tawa nya mengalahkan musik yang mengalun di dalam ruangan itu.


“Sekarang katakan siapa orang yang harus aku eksekusi.” Ucap Mr Le dengan nada dan ekspresi wajah serius menatap Riris. Riris pun mengatakan dua orang yang ingin dia kehendaki hilang nyawa nya karena sudah merebut kekasih hatinya.


“Hmmm sebenarnya dua orang itu tidak ada artinya buat aku. Dan terlalu mahal untuk nyawa dua orang yang tidak ada artinya itu.” Ucap Mr Le saat mendengar cerita Riris tentang Wika dan Boy.


“Akan tetapi karena dua orang itu masuk di dalam lingkaran keluarga Jonathan maka menjadi itu penting juga buat aku.” Ucap Mr Le dengan senyuman licik di bibirnya.


“Aku siap melakukan Nona dengan cuma Cuma tanpa rupiah atau dollar tapi aku mau tubuh sexie kamu itu. Bagaimana?” tanya Mr Le sambil menatap nakal wajah Riris dan temannya. Riris dan temannya pun menoleh dan saling pandang.


Sedangkan di lain tempat, mobil milik Vadeo sudah memasuki halaman suatu mall. Tampak Valexa dan Deondria yang duduk di jok belakang saling pandang dengan tatapan mata serius.


“Beyum mayam ini.. (Belum malam ini....).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan dengan nada serius cenderung kesal. Boy yang duduk di dekat mereka tampak menoleh ke arah mereka berdua dengan tatapan mata heran.


“Ada apa Twins?” tanya Boy dengan nada dan ekspresi wajah penuh perhatian. Dan Twins hanya menjawab dengan senyuman sambil tangan Valexa yang duduk di samping Boy menepuk nepuk pundak Boy.


“Ayo tuyun Boy, makcudnya ini beyum teyayu mayam untuk jalan jalan... (Ayo turun Boy maksudnya ini belum terlalu malam untuk jalan jalan....).” Ucap Deondria selanjutnya memberi penjelasan agar Boy tidak khawatir dan Deondria pun segera melangkah ke depan sebab tangan Vadeo sudah terulur untuk membantu dirinya keluar dari mobil.


Tampak Valexa dan Deondria berjalan berdampingan kedua tangan mereka saling berpegangan. Richardo ber jalan di belakang mereka berdua. Sedangkan Boy yang begitu merindukan sosok seorang Papa sangat senang saat digandeng tangannya oleh Vadeo.

__ADS_1


“Sayang apa kalian capek?” tanya Alexandria yang sedang berjalan di samping Twins sambil menunduk menatap kedua bocah itu yang kini lebih banyak diam. Tidak seperti saat awal awal berangkat mereka berdua banyak bercerita pada Boy.


“Yiyis Ma... (Riris Ma...).” suara Valexa pelan sambil mendongak ke arah Sang Mama.


__ADS_2