
Kapal itu terus dihantam oleh gelombang laut yang sangat besar. Nahkoda kapal sudah kesulitan dalam mengemudikan arah kapalnya. Dan tiba tiba..
DUK
Kapal bagai menabrak sesuatu. Dan suasana di dalam kapal semakin kacau balau, apalagi saat air laut sudah mulai ada yang masuk ke dalam lantai bawah kapal. Petir dan halilintar terus menyambar nyambar, angin pun semakin kencang, hujan juga turun semakin deras.
“Bagaimana mungkin air laut bisa masuk ke dalam kapal. Bukannya ini kapal yang terjamin keamanan nya?” teriak Laki laki berkulit hitam itu sambil membawa satu sekoci. Wanita penghibur nya kini sudah berdiri di dekatnya kedua tangannya memegang kain tipis yang membalut sebagian tubuhnya. Kain tipis itu bagai ingin terbang karena tiupan angin yang sangat kencang.
“Tuan kapal bocor! Kapal bocor!” teriak beberapa orang dan sudah siap dengan sekoci untuk menyelamatkan diri. Orang orang pun terlihat berlarian sambil membawa sekoci dan sudah memakai baju pelampung.
“Apa kapal menabrak karang.” Gumam laki laki berkulit hitam itu sambil ikut berlari dengan orang orang yang berusaha menyelamatkan diri. Wanita penghibur nya pun juga berlarian mengikuti dari belakang dan tampak selalu memegangi kain tipis yang siap terbang.
“Yang penting semua orang selamat lebih dulu, biarkan kapal dan semua barang tenggelam.” Teriak laki laki berkulit hitam itu. Teman teman nya sudah terlihat siap dengan alat pelampung dan sekocinya.
Waktu pun terus berlalu, hujan badai tidak juga berhenti. Air laut dan air hujan bercampur masuk ke dalam kapal semakin banyak. Nahkoda kapal sudah menyerah dan menyuruh semua orang keluar dari kapal untuk menyelamatkan diri.
Semua orang di dalam kapal itu pun segera meloncat keluar dari kapal dengan baju pelampung dan sekocinya. Tampak mereka terapung apung di atas laut di malam yang gelap yang mana hujan badai masih saja terus datang.. Wanita penghibur laki laki berkulit hitam itu tampak berada di dalam satu sekoci dengan laki laki berkulit hitam itu. Tampak tubuhnya menggigil kedinginan dan masih mending sekarang dia memakai baju pelampung tidak lagi tubuh bagian atasnya hanya tertutup kain tipis.
“Kenapa suasana begitu cepat berganti baru saja kita menikmati sore dan malam yang indah, aku tidur bermimpi indah. Bangun bangun kenapa seperti ini... Aku berharap ini hanya mimpi... bangunkan aku dari mimpi ini...” teriak wanita penghibur sambil menangis histeris tubuh semakin menggigil kedinginan.
__ADS_1
Sementara itu di lain tempat Tuan Njun Liong dan Richie tampak gelisah karena tidak bisa lagi menghubungi anak buahnya. Tuan Njun Liong terlihat berjalan mondar mandir di dalam ruangan bar yang ada di dalam kapal itu. Dan entah sudah berapa gelas bir yang sudah masuk ke dalam perutnya.
“Harusnya mereka sudah menepi di pulau itu. Kenapa tidak juga bisa dihubungi semua orang.” Ucap Tuan Njun Liong tampak wajahnya memerah dan otot ototnya menegang.
“Tuan, apa mungkin mereka tertangkap oleh petugas karena masuk secara ilegal. “ ucap Richie dengan suara agak keras karena Tuan Njun Liong yang berjalan mondar mandir kini sedang berjalan menjauh. Sedangkan Richie hanya duduk di kursi.
“Tidak mungkin meskipun mereka masuk secara ilegal tapi aku sudah membayar dengan mahal. Mereka sudah mendapat surat izin masuk yang dibeli itu.” Suara Tuan Njun Liong dengan keras pula.
“Apa mungkin mereka sengaja Tuan, mematikan semua hand phone nya agar tidak bisa dihubungi karena akan membawa lari harta karun itu.” Ucap Richie karena dia pun juga punya ide akan membawa lari harta karun itu. Dan setelah berbincang bincang di bawah dengan anak buah Tuan Njun Liong dari pengamatan nya ada beberapa yang juga punya niat untuk membawa lari harta karun itu, meskipun kadar keberaniannya berbeda beda.
“Kurang ajar! Aku sudah keluar modal besar. Akan aku bunuh kalau mereka berkhianat!” bentak Tuan Njun Liong sambil menatap tajam ke arah Richie. Richie terlihat kaget hingga matanya melotot.
“Tuan saya kan cuma mengatakan kemungkinan kenapa Tuan membentak saya.” Ucap Richie dengan nada tinggi.
Tuan Njun Liong kini berjalan menuju ke kursi. Lalu dia duduk dan terlihat mengusap usap hand phone nya. Dia menghubungi bagian nahkoda kapal, Tuan Njun Liong menyuruh kapal menepi di pelabuhan terdekat.
“Aku akan segera menuju ke Indonesia memakai pesawat.” Ucap Tuan Njun Liong sambil menatap tajam ke arah Richie.
“Tuan bagaimana dengan saya?” tanya Richie. Tuan Njun Liong tidak menjawab dan bangkit dari tempat duduknya pergi meninggalkan Richie.
__ADS_1
“Tuan... Tuan...” teriak Richie lalu dia pun bangkit dari duduknya dan mengejar Tuan Njun Liong.
Sementara itu di pulau Alexandria. Di dalam ruang kerja Vadeo. Tampak Vadeo dan Bang Bule Vincent belum tidur, meskipun malam sudah semakin larut dan dini hari pun sudah tiba.
“Bro kenapa alarm tanda bahaya sudah tidak lagi berwarna merah ya.” Gumam Bang Bule Vincent sambil terus mengamati aplikasi pemantau keamanan pulau di layar lap top Vadeo. Vadeo tidak menjawab dia malah mengambil cangkir kopinya dan menyesap cairan hitam di dalam cangkir itu.
Dan sesaat kemudian. Hand phone milik Bang Bule Vincent yang berada di atas meja berdering tampak kontak nama anak buah yang berjaga di perbatasan menghubungi . Bang Bule Vincent segera menggeser tombol hijau. Anak buah Bang Bule Vincent mengabarkan jika cuaca di pantai dan laut Alexandria tiba tiba sangat buruk dan ada kapal yang tenggelam, dan itu kemungkinan kapal yang akan masuk ke pulau Alexandria.
“Hah? Benarkah? Padahal cuaca di sini sangat cerah bulan dan bintang tampak terang di langit.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menatap jendela kaca ruang kerja Vadeo yang memang dibuka sejak tadi, dan Bang Bule Vincent bisa melihat cuaca cerah di luar.
“Apa Bang Bule tidak mendengar suara hujan deras di balik hand phone aku Bang. Sudah ya Bang akan aku perintahkan tiap pintu masuk dijaga ketat.” Suara anak buah Bang Bule Vincent dengan keras di antara suara hujan yang masih deras di seberang sana.
“Yup, jangan boleh ada yang masuk meskipun itu perahu nelayan. Jangan sampai ada orang di dalam kapal itu bisa masuk ke pulau Alexandria dengan berpura pura menjadi nelayan yang tersesat.” Ucap Bang Bule Vincent dan seterusnya sambungan telepon sudah putus.
“Bro cuaca di laut dan pantai memburuk, itu yang menyebabkan alarm sudah tidak lagi merah warna nya.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menatap Vadeo yang masih menikmati kopinya. Hatinya Vadeo kini sudah sedikit tenang setelah alarm sudah melemah.
“Apa itu yang dikatakan Alam semesta akan membantunya ya Bro.” Ucap Bang Bule Vincent sambil merebut cangkir kopi yang dipegang oleh Vadeo, lalu dia tegak sisa kopi di dalam nya hingga habis dan tinggal ampas yang tersisa.
“Sembarangan kamu Bul! Kamu habiskan kopiku!” teriak Vadeo karena kopi nikmatnya sudah dihabiskan oleh Bang Bule Vincent.
__ADS_1
“Kamu itu diajak omong malah srupat sruput!” ucap Bang Bang Bule Vincent dengan nada kesal.
“Bul, aku sedikit tenang, tapi aku juga berpikir apa yang Aca dan Aya lakukan, apa mereka baik baik saja di kamar, sampai kapan mereka mengurung diri di dalam kamar.” Ucap Vadeo tampak nada suara dan ekspresi wajahnya serius.