
Sementara itu di suatu ruas jalan raya, sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang...
“Ma kita jadi ingat tiga puluhan tahun silam kita membawa pulang bayi Vadeo. “ ucap Tuan Jonathan yang duduk di jok belakang kemudi sambil memangku baby Asasta.
“Iya Pa, dan kita berebut untuk memangku Vadeo, he.. he... sekarang kita tidak perlu berebut lagi, kita memangku satu satu cucu kita.” Ucap Nyonya Jonathan sambil tertawa kecil dan mengusap usap kepala baby Raja.
“Pa, mereka berdua sangat tampan dan sangat mirip sekali kalau tidak memakai gelang nama aku tidak bisa membedakan mereka berdua.” Ucap Nyonya Jonathan sambil menatap Raja dan Asasta secara bergantian.
“Iya Ma, hanya Alexandria yang bisa membedakan mereka.” Ucap Tuan Jonathan yang juga mengamati wajah Raja dan Asasta untuk membedakan akan tetapi tetap tidak bisa.
“Iya, kami juga tidak bisa membedakan kalau tidak melihat gelang namanya.” Ucap salah satu pengasuh yang duduk di jok belakang.
Mobil terus melaju, semua yang berada di dalam mobil itu sudah tidak sabar ingin sampai ke Mansion Jonathan untuk menunjukkan penghuni baru Mansion pada semua penghuni Mansion Jonathan juga para kolega yang sudah diundang untuk makan malam nanti.
Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di pintu gerbang Mansion Jonathan. Pintu gerbang tidak terbuka akan tetapi beberapa petugas keamanan itu malah berlari lari menuju ke mobil yang ditumpangi oleh Tuan Nyonya Jonathan dan baby Twins boy.
“Ada apa? Kenapa mereka tidak membukakan pintu gerbang?” tanya Tuan Jonathan
“Kok sepertinya di halaman ada mobil tamu yang asing buatku apa Opa mengenal mobil itu? Undangan buat tamu tamu kan juga nanti jam makan malam.” tanya Nyonya Jonathan yang melihat ada empat buah mobil terparkir di tempat parkir khusus mobil tamu.
“Tidak. Apa teman Justin.” Gumam Tuan Jonathan sambil melihat dua mobil itu. Tuan Jonathan tidak berani membuka kaca jendela mobil. Pak Sopir pun juga tidak berani membuka kaca jendela mobil dia masih menunggu informasi dari petugas keamanan.
__ADS_1
Sesaat kemudian...
“Tuan.. Tuan.. buka pintu mobilnya...” suara salah seorang petugas keamanan sambil mengetuk ngetuk kaca jendela di dekat Tuan Jonathan.
“Ada apa?” tanya Tuan Jonathan dan Pak Sopir dengan suara keras namun masih belum juga membuka kaca jendela mobil atau pun pintu mobil.
“Tuan, kami ingin melihat Tuan Tuan kecil.” Suara mereka semua
“Ealah bikin panik saja, kenapa tidak lihat nanti nanti saja.” Ucap Pak Sopir yang selanjutnya membukakan pintu mobil.
“Kalau pintu gerbang kami buka pasti kamu langsung membawa lari mobil menuju Mansion utama. Kami ingin melihat yang pertama kali.” Ucap salah satu petugas keamanan sambil tersenyum lebar sebab pak sopir sudah membukakan pintu di samping Tuan Jonathan.
“Mobil siapa itu? Apa teman Justin?” tanya Tuan Jonathan yang masih mengkhawatirkan jika Justin salah pergaulan.
“Wuih sangat tampan mereka berdua, wajah mereka bersinar berseri berseri.. benar benar cocok diberi nama Raja Asasta.” Ucap salah satu dari mereka saat melihat wajah baby Twins boy, mereka pun berebut untuk melihat Tuan Tuan kecil mereka yang baru datang. Tampak Raja dan Asasta tersenyum pada para petugas keamanan itu.
“Kalian itu belum menjawab dengan jelas siapa tamu itu?” ucap Tuan Jonathan
“Itu Tuan, temannya Tuan Muda Vadeo, katanya arsitek dan insinyur insinyur teknik sipil yang akan memugar bangunan di pulau Alexandria.” Ucap salah satu petugas keamanan yang sambil memandangi wajah baby Twins boy, sambil tersenyum dan geleng geleng kepala menggoda Tuan Tuan kecil itu. Baby Twins boy pun terus tersenyum pada mereka.
“Ya sudah sekarang buka pintunya. Nanti kita akan adakan pesta beberapa hari untuk menyambut Raja dan Asasta. Kalian bisa sepuas puasnya menikmati pesta tetapi jangan lupa jadwal bergilir menjaga keamanan Mansion.” Ucap Tuan Jonathan lalu menutup pintu mobil.
__ADS_1
“Siap Tuan.” Teriak mereka semua lalu berlari menuju ke pos jaga dan salah satu yang membawa remot pintu gerbang segera membukakan pintu gerbang.
Mobil pun terus berjalan memasuki pintu gerbang menuju ke Mansion utama.
“Bukannya pemugaran menunggu Raja dan Asasta sudah bisa berjalan, Pa. Kenapa Vadeo sudah mengundang tenaga tenaga ahli.” Ucap Nyonya Jonathan
“Kan untuk persiapan Ma, butuh waktu juga untuk perencana perencanaannya.” Jawab Tuan Jonathan.
Mereka pun segera turun dari mobil. Raja dan Asasta kembali digendong oleh Sang pengasuh. Tuan Jonathan melangkah lebih dulu untuk menemui teman teman Vadeo.
Setelah memasuki pintu utama Mansion, tampak empat orang laki laki dengan memakai baju kemeja rapi sedang duduk di sofa ruang tamu.
“Selamat sore Tuan, dan selamat atas kelahiran cucu cucu Tuan.” Ucap ke empat laki laki itu sambil bangkit dari tempat duduknya sambil menundukkan kepala memberi hormat pada Tuan Jonathan.
“Terima kasih, silahkan duduk kembali. Apa kalian teman Vadeo yang akan memugar bangunan bawah tanah itu?” tanya Tuan Jonathan sambil mendudukkan pantatnya di salah satu sofa.
“Benar Tuan. Kami akan membicarakan tentang perencanaan itu. Tetapi kata Tuan Vadeo tempat itu sangat angker. Tidak sembarang orang bisa naik ke atas bukit itu.” Ucap salah satu dari keempat orang itu.
“Iya, benar aku dulu kan yang tugas di sana tenaga kerja tidak ada yang berani naik. Konstruksi jalan juga berakhir di batu besar itu.” Ucap salah satu dari mereka yang dulu menangani proyek pembangunan pulau Alexandria.
“Jangankan kalian, aku saja belum boleh naik ke bukit itu. Istriku saja pingsan karena nekat naik ke sana.” Ucap Tuan Jonathan dengan nada serius. Dan ke empat laki laki itu tampak kaget dan cenderung takut.
__ADS_1
“Kalian semua harus puasa dulu, kalau mau menangani proyek di bukit pohon asam itu.” Ucap Tuan Jonathan dengan nada serius lagi.