
Sementara itu di rumah Mamah Mimi. Mereka masih sibuk untuk mencari dua bocah lewat bola kristal milik Mamah Mimi. Tampak Mamah Mimi serius membaca segala mantra dan dengan serius kedua telapak tangannya mengusap usap bola kristal itu akan tetapi hasilnya nihil, tidak lagi bisa melihat sosok dua bocah yang sudah berhasil membuat hujan badai begitu dahsyat hingga menenggelamkan kapal anak buah Njun Liong.
“Hmmm susah... Aku sudah capek.. mungkin mereka sembunyi di dasar bumi.” Ucap Mamah Mimi dengan nafas yang tersengal sengal karena kecapekan.
“Kalau Mamah Mimi sudah tidak bisa melihat dua bocah itu apa Mamah Mimi juga tidak bisa membunuh dua bocah itu?” tanya Nyonya Siu Lie dengan nada khawatir. Tampak Mamah Mimi mengusap usap wajah nya dengan kasar.
“Iya, aku tidak bisa lagi berbuat apa apa pada bocah itu. Jika aku tidak bisa lagi melihat mereka di dalam bola kristal ini.” Jawab Mamah Mimi kemudian dengan pelan karena jika itu terjadi berarti dia pun tidak bisa menguasai pulau harta karun itu. Sebab dia pun ingin menguasai pulau itu seperti juga leluhurnya yang jaman dulu juga ingin menguasai kerajaan Asasta akan tetapi selalu gagal. Mamah Mimi pun juga tidak bisa melawan kekuatan yang ada di dalam pulau keramat itu. Perkiraan dia jika bisa membunuh dua bocah itu kekuatan di pulau keramat itu akan hilang.
“Bagaimana kalau memakai foto kedua bocah itu? Apa bisa?” tanya Nyonya Siu Lie sambil menatap wajah Mamah Mimi
“Benar Mamah coba pakai foto mereka kita coba cari foto mereka berdua di internet kita. Kita carikan foto yang paling jelas dengan ukuran resolusi yang paling tinggi.” Ucap Richie penuh semangat untuk balas dendam.
“Tidak bisa. Meskipun pakai foto sebesar apa pun. Kalau tidak bisa aku lihat di bola kristal ini berarti dia dalam perlindungan kuasa kekuatan pulau keramat itu.” Jawab Mamah Mimi dengan nada tinggi karena dia sudah agak emosi karena mantra mantra yang dia ucapkan selalu gagal.
__ADS_1
“Sudah aku mau istirahat dulu. Kita tunggu di saat kekuatan pulau keramat itu lengah.” Ucap Mamah Mimi lalu mematikan lilin lilin yang tadi menyala. Mamah Mimi pun bangkit berdiri. Suasana ruangan itu kini hanya temaram redup karena hanya ada satu lampu minyak yang menyala kecil.
Keempat tamu Mamah Mimi pun ikut bangkit berdiri dan melangkah mengikuti langkah kaki Mamah Mimi. Richie sekilas menoleh ke bawah melihat banyak boneka boneka yang terbuat dari kain, boneka yang akan digunakan sebagai media oleh Mamah Mimi untuk membunuh target sasaran dari jarak jauh. Terlihat ada boneka dalam wujud laki laki, perempuan dan anak anak. Richie yang melihat begidik ngeri ingat film film horor yang dia lihat. Akan tetapi sebagian hatinya senang dan penuh harap keluarga Vadeo dan Alexandria akan mati di tangan Mamah Mimi.
“Hmmm semoga kekuatan yang menjaga mereka lengah.” Gumam Richie terus melangkah mengikuti Mamah Mimi yang sudah keluar dari ruang prakteknya.
Tampak di depan Richie. Tuan Njun Liong bercakap cakap dengan pelan dengan Nyonya Siu Lie.
“Lie aku tidak bisa tidur di dalam rumah seperti ini. Aku mau cari hotel atau home stay di sekitar sini.” Ucap Tuan Njun Liong dengan suara lirih agar tidak didengar oleh Mamah Mimi selalu pemilik rumah. Tampak Nyonya Siu Lie pun menganggukkan kepalanya. Karena dia pun juga tidak nyaman jika tidur di rumah yang ditempati oleh Mamah Mimi karena rumah gelap dan pengap belum lagi banyak ornamen ornamen yang mengerikan buatnya.
Saat sampai di depan pintu rumah Mamah Mimi tampak mobil yang tadi mengantar sudah siap dengan pak sopir dan koper koper mereka pun sudah berada di dalam mobil itu. Mereka berempat segera pamit pada Mamah Mimi.
“Percayalah Nyonya Lie kita bisa menguasai pulau keramat itu. Kamu ambil semua permata dan aku akan menjadi penguasa pulau keramat itu Ha... ha.... Kita hanya berhadapan dengan dua bocah kecil ha... ha... ha...” Ucap Mamah Mimi sambil memeluk bahu Nyonya Siu Lie dari samping sambil tertawa.
__ADS_1
“Apa kamu sudah transfer ke rekening ku?” tanya Mamah Mimi selanjutnya.
“Sudah Mamah Mimi.” Jawab Nyonya Siu Lie yang memang sudah mentransfer sejumlah uang kepada Mamah Mimi. Tuan Njun Liong yang mendengar mengernyitkan dahinya, dia tidak mengira orang seperti Mamah Mimi juga membutuhkan uang kalau melihat rumah dan penampilan yang sepertinya tidak membutuhkan biaya.
“Hmmm ternyata dia juga manusia normal yang suka uang.” Gumam Tuan Njun Liong lalu melangkah masuk ke dalam mobil. Setelah semua tamu Mamah Mimi masuk ke dalam mobil. Mobil terus berjalan meninggalkan halaman rumah Mamah Mimi. Di sepanjang perjalanan mereka semua terdiam sibuk dengan pikirannya masing masing.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki satu halaman pada suatu rumah yang tergolong mewah untuk ukuran kota kecil seperti itu. Bangunan rumah dengan model arsitektur modern tampak megah, penjaga yang ada di pintu masuk dua orang laki laki yang muda tampan dan gagah.
“Ini rumah milik Mamah Mimi?” tanya Tuan Njun Liong sambil menoleh ke arah Nyonya Siu Lie. Nyonya Siu Lie menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Dan kamu jangan heran jika di dalam rumah itu semua pelayannya adalah laki laki muda yang tampan dan gagah seperti yang bertugas menjaga pintu gerbang tadi.” Ucap Nyonya Siu Lie kemudian dan sambil masih tersenyum, matanya pun kini berbinar binar membayangkan wajah wajah tampan dan tubuh tubuh atletis di dalam rumah mewah itu. Tampak Tuan Njun Liong melotot matanya.
“Jangan kamu katakan kalau mereka santapan Mamah Mimi.” Bisik Tuan Njun Liong agar tidak didengar oleh Pak Sopir. Nyonya Siu Lie hanya mengangkat kedua pundaknya sambil tersenyum dan binar binar di matanya masih memancar dan membuat Tuan Njun Liong semakin penasaran.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mobil berhenti. Dan mereka semua turun dari mobil. Dan benar yang dikatakan oleh Nyonya Siu Lie tampak beberapa pemuda tampan dan gagah datang mendekat untuk menyambut mereka dengan sopan namun ekspresi wajahnya dingin mereka membantu membawa koper koper para tamu untuk dibawa ke dalam kamar mereka masing masing. Tampak Nyonya Siu Lie sudah berjalan lebih dulu sambil menggandeng mesra lengan kekar salah satu pemuda yang menarik koper miliknya.
Tuan Njun Liong dan Richie saling pandang lalu Tuan Njun Liong mengangkat kedua bahunya tinggi tinggi dengan kedua tangan terulur dan telapak tangan menengadah lalu secepatnya dia menurunkan kedua bahunya, sebagai kode tidak tahu.