
“Stop!” teriak pimpinan kantor itu. Vadeo setelah mendengar teriakan dari pimpinan kantor itu menatap wajah kedua anaknya yang tampak tersenyum bahagia. Kedua anak itu lalu memperlambat laju kecepatannya dan selanjutnya berhenti. Richardo dan Bang Bule yang berada di dekat alat itu lalu menekan tombol stop dan selanjutnya menggendong kedua anak itu.
“Luar biasa kalian berdua. Alatku bisa rusak kalau kalian tidak memperlambat kecepatan kalian.” Ucap Pimpinan kantor itu.
“He... He... He...” Valexa dan Deondria yang sudah menginjakkan kaki nya di lantai tertawa kecil, tampak mereka berdua tidak menunjukkan rasa kelelahan sedikit pun. Wajah mereka masih segar dan ceria.
Selanjutnya mereka semua diajak oleh pimpinan kantor untuk berjalan menuju ke ruangan lain nya untuk melakukan uji ketangkasan. Valexa dan Deondria pun bisa melakukan semua test dengan lancar dan tepat pada sasarannya.
“Hebat hebat.” Teriak pimpinan kantor sambil bertepuk tangan menatap kagum pada Valexa dan Deondria.
“Sekarang kita menuju ke ruangan khusus, saya akan tunjukkan pada mereka barang barang terlarang yang harus mereka lacak itu.” Ucap pimpinan kantor itu sambil menatap wajah Vadeo yang kedua tangannya menggandeng tangan mungil anak anak nya kiri dan kanan.
“Bayang teyayang tok dicimpan ciiih?” saut Deondria sambil mendongak menatap pimpinan kantor itu tidak lupa bibirnya mengerucut ke depan.
“He... He... hanya sampel Nona Nona Cantik. Kami sudah mendapatkan izin untuk menyimpan barang itu untuk tujuan bahan uji bukan untuk dijual, diedarkan atau dikonsumsi.” Ucap Pimpinan kantor itu sambil menatap wajah Deondria dan Valexa yang berjalan digandeng oleh Sang Papa.
Sesaat kemudian mereka sampai di dalam ruangan yang tidak luas. Di ruangan itu ada sebuah lemari kaca kecil dan di dalam lemari itu ada toples toples kaca kecil kecil juga berapa botol kecil. Semua berisi berbagai jenis barang barang terlarang. Pimpinan kantor itu mengambil satu box sarung tangan karet dan memberikan satu pasang pada semua orang yang masuk ke dalam ruangan itu.
“Maaf tidak ada yang kecil.” Ucap pimpinan kantor itu saat melihat Vadeo dan Richardo memakaikan sarung tangan pada jari jari mungil Valexa dan Deondria. Kedua anak itu malah menggerak gerakkan jari jari mungilnya yang memakai sarung tangan kedodoran sambil tersenyum.
“Coba Nona Nona kenali barang barang ini.” Ucap pimpinan kantor itu sambil membuka lemari kaca. Dia memberi contoh cara, dalam mengenali barang barang itu termasuk memberi tahu namanya. Tampak Valexa dan Deondria mengingat ingat semua yang diucapkan oleh pimpinan kantor itu.
‘Sekarang kita test ya kemampuan Nona Nona dalam mendeteksi.” Ucap pimpinan kantor itu sambil menunduk untuk mengambil nampan yang ada di dalam rak lemari paling bawah di dalam nampan itu ada banyak bungkusan plastik plastik kecil yang berisi serbuk putih putih. Nampan itu diisi secara acak plastik plastik yang berisi obat terlarang dan segala macam tepung biasa.
“Coba Nona Nona pilih mana barang yang terlarang.” Ucap pimpinan kantor itu sambil menyodorkan nampan itu ke depan Valexa dan Deondria.
__ADS_1
“Atu bica piyih cambil mata tepejam.” Ucap Valexa lalu memejamkan mata nya.
“Atu duda.” Ucap Deondria tidak mau kalah. Mereka berdua lalu mengambil beberapa bungkus plastik dengan mata terpejam.
“Cukup.” Ucap pimpinan kantor itu itu sebab jika masing masing bisa meng ambil dua bungkus yang benar saja sudah lolos test mereka berdua.
Kedua anak itu lalu menyerahkan bungkus bungkus plastik yang sudah diambilnya kepada pimpinan kantor itu.
“Ha... ha.. luar biasa.” Ucap pimpinan itu saat melihat semua yang diambil si kembar adalah benar. Vadeo, Richardo dan Bang Bule pun menatap kedua anak itu dengan ekspresi wajah kagum sekaligus heran.
“Ayo selanjutnya kita ke ruang sebelah.” Ucap pimpinan kantor itu sambil menaruh lagi barang barang itu ke dalam lemari lalu menutup dan mengunci nya. Dia selanjutnya melangkah ke ruangan di sebelah ruang an itu. Kedua bocah itu berjalan di belakang nya. Vadeo, Bang Bule dan Richardo pun mengikuti langkah kaki Valexa dan Deondria.
“Coba sekarang Nona Nona cari di mana ada barang barang tadi tersembunyi.” Ucap pimpinan kantor itu saat memasuki suatu ruangan.
“Ooo masih ada test lagi.” Gumam Vadeo.
“Ada yadi di atas yemayi.” Teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil telunjuk jari mungil nya menunjuk ke atas lemari.
“Hmmm benar benar hebat luar biasa, tidak bisa saya ucapkan dengan kata kata pujian untuk kemampuan kalian berdua.” Ucap pimpinan kantor itu sambil bertepuk tangan.
Akhirnya keseluruhan test off line bisa dilalui oleh Valexa dan Deondria dengan baik. Dan mereka berdua dinyatakan lulus dan boleh bergabung. Mereka pun lalu berjalan menuju ke ruang kerja pimpinan kantor itu untuk menandatangani kontrak kerja.
“Saya sebagai orang tua nya akan mengajukan suatu syarat.” Ucap Vadeo dengan nada serius sambil menatap wajah pimpinan kantor itu.
“Pa...” ucap Valexa dan Deondria yang duduk berdampingan sambil menoleh menatap wajah sang Papa dengan nada khawatir. Khawatir jika syarat dari Sang Papa memberatkan tim dan tim batal merekrut nya.
__ADS_1
“Deo jangan minta bayaran tinggi tinggi. Kami bekerja demi misi keselamatan bumi dan penghuninya.” Ucap Bang Bule sambil menatap wajah Vadeo.
“Hmmm saya ingin identitas mereka berdua dirahasiakan, tidak ada publikasi sesedikit pun tentang mereka berdua akan keterlibatannya di misi ini termasuk di media internal sekalipun.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil menatap wajah Bang Bule dan pimpinan kantor itu.
“Siap Bro.” Ucap Bang Bule penuh semangat.
“Dan jaminan untuk perlindungan keselamatan dan keamanan buat mereka berdua.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil tangannya mengusap usap punggung kedua anak nya yang duduk di dekat dirinya. Mereka bertiga duduk di sofa panjang.
“Siap Tuan Vadeo.” Ucap pimpinan kantor itu sambil mengambil sesuatu dari saku kemeja nya.
“Mulai sekarang juga kami akan menjaga mereka berdua. Ini chip perlindungan akan dipasang di tubuh mereka berdua. Kami bisa memantau keberadaan mereka berdua.” Ucap pimpinan kantor itu dan menyerahkan dua chip pada Bang Bule Vincent.
“Hmmm untuk memasang alat itu saya perlu minta persetujuan pada isteri saya.” Ucap Vadeo dengan nada serius.
“Okey okey Tuan, silahkan.” Ucap pimpinan kantor itu dan selanjutnya menyerah kan dua map berisi surat kontrak kerja yang baru saja diantar oleh sekretaris nya. Vadeo membaca dengan seksama surat kontrak kerja itu dan setelah dia menyetujui dia pun lalu menanda tangani dua surat kontrak itu.
Setelah tanda tangan surat kontrak selesai. Mereka pun akhirnya minum teh sambil berbincang bincang. Akan tetapi si kembar minta minum jus buah segar akhirnya khusus buat mereka berdua diperankan jus buah lewat aplikasi. Sambil menikmati acara minum, pimpinan kantor menyalakan layar televisi yang tertempel di dinding dan menampilkan video tentang bahaya penggunaan obat terlarang.
Tiba tiba Vadeo memiliki sebuah ide, demi keamanan para karyawan dan pelayannya.
“Maaf apa boleh kami minta copy film itu, akan saya kirim ke hand phone para karyawan dan pelayan kami.” Ucap Vadeo dengan sopan. Dia punya ide itu sebab waspada karena ada pengedar narkoba berada di dalam Mansion nya.
“Tecuayi coping bayu itu.” Ucap Valexa dan Deondria sambil menatap Sang Papa. Vadeo pun mengangguk kan kepalanya.
“Dengan senang hati Tuan itu berarti Tuan membantu kami. Itu film biasa kami putar di sekolah sekolah.” Ucap pimpinan kantor.
__ADS_1
Saat mereka masih asyik berbincang bincang tiba tiba hand phone di dalam saku celana cargo Bang Bule terdengar bunyi notifikasi masuk. Bang Bule tidak begitu memperhatikan karena sedang asyik berbincang bincang.
“Ante ada ipomaci pencing!” teriak Valexa dan Deondria bersamaan sambil menatap saku celana cargo Bang Bule yang ada hand phone nya.