Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 33.


__ADS_3

“Sakit sekali ya Neng?” tanya Pak Sopir senior lalu menggandeng lengan Atikah. Atikah pun menganggukkan kepala nya dan ekspresi wajah nya semakin dibuat buat merasa kesakitan.


Mereka berdua pun berjalan pelan pelan meninggalkan gedung itu menuju ke garasi mobil. Memang tidak hanya orang orang tertentu yang memegang kunci garasi mobil, pak sopir senior, pimpinan petugas keamanan dan satu kunci berada di dalam mansion utama.


Mereka berdua terus melangkah, Atikah pun mengambil kesempatan untuk semakin mendekatkan tubuh nya pada tubuh Pak sopir senior itu. Udara dingin malam mulai terasa memasuki pori pori kulit dua orang beda jenis kelamin itu.


Merasakan tidak ada penolakan dari Pak Sopir senior Atikah pun semakin merapatkan tubuh nya dan kepala nya pun mulai dicondongkan pada pundak Pak Sopir senior.


“Sabar Neng sebentar lagi sampai.” Ucap Pak Sopir senior yang mengira Atikah kepala nya semakin sakit.


Tidak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di garasi mobil. Pak sopir senior itu lalu mengambil kunci dari dalam saku celananya dan dia pun segera membuka pintu garasi.


“Ayo Neng segera diambil dompet nya dan segera diminum obat nya.” Ucap Pak sopir senior sambil masuk ke dalam garasi. Atikah pun lalu memegang lengan pak sopir senior karena pak sopir senior sudah tidak memegangi lagi lengannya.


“Pak, tidak kuat saya pusing sekali kepala saya.” Ucap Atikah dengan lirih lalu menyandarkan tubuhnya pada tubuh pak sopir itu. Pak sopir pun lalu memeluk tubuh Atikah agar tidak jatuh.


“Neng jangan pingsan ...” teriak pak sopir karena Atikah pura pura pingsan.


Sementara itu di dalam Mansion utama. Kini Vadeo bersama kedua anak nya sudah berada du dalam kamar nya. Valexa dan Deondria belum mau tidur mereka berdua menunggu waktu jam di mana sang Mama beristirahat dalam bekerja dan bisa ditelepon oleh mereka.


Dan di saat sudah di waktu akan menelepon Sang Mama. Tiba tiba mereka berdua mengeryitkan dahi nya.


“Papa....” teriak mereka berdua dengan sangat lantang. Vadeo yang masih mengusap usap layar hand phone nya akan menghubungi Alexandria sampai terlonjak kaget untung saja hand phone nya tidak sampai terjatuh.


“Ada apa?” tanya Vadeo kemudian sambil memandang wajah kedua anaknya yang ekspresi wajahnya tampak khawatir.

__ADS_1


“Papa toba yiyat CCTV di yotasi dayasi..” ucap Valexa dengan nada serius.


“Iya.. nanti.” Ucap Vadeo masih berusaha untuk menghubungi isterinya.


“Cetayang Pa..” teriak Deondria sambil bangkit berdiri dan merebut hand phone yang dibawa oleh Sang Papa dan selanjutnya dia memencet tombol merah untuk menggagalkan panggilan video pada sang Mama.


“Kalian ini sejak tadi menunggu waktu untuk telepon Mama, sudah waktunya mau telepon malah Papa disuruh melihat CCTV. “ ucap Vadeo lalu berjalan menuju ke meja tempat lap top nya berada. Vadeo pun dengan segera membuka layar lap top nya dan segera mengaktifkan untuk melihat rekaman CCTV seperti yang diminta oleh kedua anak nya. Sedangkan Valexa dan Deondria masih duduk di tempat tidur sambil mengamati Sang Papa.


Beberapa saat kemudian Vadeo tampak kaget saat melihat rekaman CCTV di dalam garasi. Vadeo mengamati tangkapan layar yang menampilkan adegan Pak Sopir senior masih menggotong tubuh Atikah yang pura pura pingsan akan tetapi tangan Atikah tampak berpegangan pada leher belakang Pak Sopir senior tidak terkulai pada semestinya orang pingsan.


“Apa yang mereka lakukan di dalam garasi.” Ucap Vadeo lalu dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat telepon. Vadeo dengan segera mengangkat ganggang telepon dan memencet nomor petugas keamanan.


“Kamu segera menuju ke dalam garasi. Lihat apa yang terjadi di sana. Aku pantau dari CCTV.” Suara Vadeo setelah petugas keamanan menerima panggilan nya.


“Baik Tuan.” Suara petugas keamanan di balik telepon.


“Hmmm siapa sebentar nya Atikah itu?” gumam Vadeo dalam hati.


“Sekarang tidak saja kedua anakku yang penasaran. Aku pun juga.” Gumam Vadeo yang masih mengamati layar lap top nya.


Tampak di layar lap top nya tangkapan rekaman petugas keamanan sudah masuk ke dalam garasi. Dan tampak petugas keamanan kaget saat melihat ada dua orang di dalam garasi itu.


“Ada oyang itu tan Pa?” suara Valexa memecah konsentrasi Vadeo dalam mengamati tangkapan rekaman CCTV.


“Iya, bagaimana kalian bisa tahu?” tanya Vadeo yang penasaran pada intuisi kedua anak nya yang sangat tajam. Kedua anak itu menjawab dengan hanya mengangkat bahu mungil nya.

__ADS_1


“Dia tu anya puya puya catit loh Pa..” ucap Deondria selanjutnya.


Baru saja Deondria berhenti berbicara. Terdengar suara dering telepon di dalam kamar Vadeo. Vadeo pun lalu segera bangkit berdiri lagi dan berjalan menuju tempat telepon berada. Dengan cepat Vadeo mengangkat ganggang telepon itu.


“Bagaimana apa yang terjadi?” tanya Vadeo saat mendengar suara petugas keamanan yang kini menghubungi telepon kamar Vadeo dari telepon yang berada di garasi.


“Tuan, sopir baru itu katanya sakit dan sekarang pingsan.” Suara petugas keamanan.


“Bawa ke klinik, biar perawat klinik yang mengurus dia. Dan setelah nya kamu kembali ke tempat jaga dan Pak Sopir senior kembali ke kamar nya dan istirahat.” Ucap Vadeo setelah petugas keamanan mengiyakan Vadeo pun menutup ganggang telepon yang berada di dalam kamar nya.


“Kalian sekarang tidur. Telepon Mama besok pagi saja.” Ucap Vadeo sambil berjalan menuju ke tempat tidur.


“Kalian jangan khawatir Papa akan selalu menjaga kalian dan Papa akan selalu buat kalian dan Mama.” Ucap Vadeo sambil naik ke tempat tidur.


Vadeo pun lalu berada di tengah kedua anak nya. Dia membaringkan tubuhnya dan tubuh kedua anaknya pun dibaringkan di samping kanan dan di kiri nya.


“Aku nanti akan menghubungi Richardo agar lebih hati hati menjaga Ada dan Aya.” Gumam Vadeo dalam hati sambil mengelus ngelus telapak mungil kedua anaknya yang sudah memeluk tubuh nya.


“Cetayang aja Pa..” ucap mereka berdua.


“Hah... kalian juga tahu apa yang aku pikirkan?” tanya Vadeo heran.


“He... He... He.... “ tawa kecil mereka berdua.


“Ayo Pa cetayang teyepon Om Yicado...” pinta mereka berdua yang kini sudah kembali duduk di tempat tidur.

__ADS_1


“Hmmm kalau tidak dituruti pasti kalian tidak juga tidur.” Ucap Vadeo lalu bangkit dari tidur nya dan mengambil hand phone yang berada di atas nakas yang tidak jauh dari tempat tidur nya.


....


__ADS_2