
Sementara itu Bang Bule yang tadi menunggu di ruang keluarga pun, bangkit berdiri melangkah menuju ke kamar sang Mertua sebab dia sudah tidak sabar untuk bertanya pada kedua keponakan tentang barang terlarang yang sudah tidak bisa dilacak.
Saat sampai di depan kamar Sang Mertua, yang dia dapati pemandangan Vadeo masih mengusap usap kepala kedua anaknya yang masih menangis di dalam pelukan Vadeo. Vadeo masih berjongkok di depan pintu. Sedangkan Dealova masih berdiri sambil memegang handel pintu ekspresi wajahnya pun tampak terlihat sedih penuh haru.
“Bro ada apa?” tanya Bang Bule sambil menepuk pundak Vadeo dari belakang.
“Kangen Mama nya.” Jawab Vadeo lalu berusaha berdiri sambil menggendong anak anaknya. Bang Bule Vincent yang melihat itu pun segera membantu untuk menggendong salah satu dari keponakan nya.
“Pasti gara gara kamu.” Ucap Bang Bule sambil menoleh menatap Dealova.
“Bukan aku tapi Mama.” Suara cempreng Dealova tidak mau disalahkan.
Vadeo dan Bang Bule yang sudah menggendong si kembar lalu berjalan meninggalkan kamar Sang Mertua mereka. Vadeo terus melangkah menuju ke kamar Alexandria yang berada di lantai dua. Bang Bule Vincent pun sambil menggendong Deondria turut mengikuti langkah Vadeo. Kedua anak itu kepala nya terkulai di bahu Vadeo dan Bang Bule sambil masih terisak isak.
“Mama sebentar lagi sudah mau pulang, kalau kalian menyusul malah nanti pesawat nya berselisih di atas. Pesawat Mama ke sini, pesawat kamu ke sana.” Ucap Vadeo mencoba menghibur anak anak nya.
“Cudah yama Mama pedi Pa... ( Sudah lama Mama pergi Pa..)” ucap Valexa yang masih terisak isak.
“Sabar Sayang, Papa juga rindu Mama.” Ucap Vadeo dengan nada melow sebab dia pun sesungguhnya juga sudah sangat rindu dengan isteri nya.
Vadeo lalu membuka pintu kamar Alexandria, meskipun hanya sesekali mereka masuk ke dalam kamar itu akan tetapi kamar selalu terlihat rapi dan wangi aroma nya.
__ADS_1
Vadeo segera melangkah masuk dan duduk di sofa sambil memangku Valexa, Bang Bule pun mengikuti langkah kaki Vadeo, dan dia pun duduk di samping Vadeo sambil memangku Deondria.
“Kita telepon Mama ya... “ ucap Vadeo lalu mengambil hand phone dari saku jas nya. Tampak Valexa yang duduk dI pangkuannya menghadap diri nya menganggukkan kepalanya. Deondria yang dipangku oleh Bang Bule pun pelan pelan menggeser tubuh nya dan berpindah juga minta dipangku oleh Vadeo. Dan kini Vadeo memangku ke dua anaknya yang dua dua nya menghadap diri nya.
“Bro, bagaimana nasib barang itu.” Ucap Bang Bule sambil menoleh ke arah Vadeo yang sedang mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi Alexa.
“Apa kamu pikir di saat kondisi emosi mereka seperti ini, mereka bisa menjawab pertanyaan kamu.” Jawab Vadeo tanpa menoleh ke arah Bang Bule.
Sementara itu di Mansion Jonathan. Atikah yang sudah selesai bekerja segera melangkah menuju ke lift yang akan membawa diri nya ke dalam kamar nya yang berada di lantai paling atas. Dia tidak sabar ingin segera menghubungi orang rumah untuk menanyakan apa ada paket untuk diri nya.
“Hmmm kalau aku tidak bisa izin pulang. Biar Zulfa yang mengambil dan nanti biar dia yang mengantar ke sini.” Gumam Atikah dalam hati sambil melangkah masuk ke dalam lift.
“Terus bagaimana ya cara nya aku bertransaksi.” Gumam Atikah lagi sambil mengerutkan dahi nya karena berpikir keras untuk mencari akal dalam bertransaksi dengan langgannya.
Sesaat Atikah sudah sampai di depan kamar nya dan dengan segera dia membuka kunci pintu kamar itu, dan dengan segera pula dia mendorong daun pintu. Setelah melangkah masuk Atikah ceoat cepat menutup pintu dengan rapat dan tidak lupa mengunci nya.
Dengan langkah cepat dia menuju ke lemari dan mengambil kunci lemari yang dia taruh di saku pakaiannya. Dia membuka kunci pintu lemari itu dan dia ambil hand phone asli nya yang dia simpan rapi di dalam lemari. Dia tidak ingin lagi ada orang yang bisa mengambil barang berharganya.
Atikah dengan cepat mengaktifkan hand phone nya. Setelah semua program aktif tampak banyak notifikasi masuk.
Pertama kali yang dia buka pesan chat dari Richie dan dia pun segera melakukan panggilan suara pada Richie.
__ADS_1
“Hai Rich bagaimana?” suara Atikah setelah sambungan telepon nya terhubung pada Richie.
“Mel, barang sudah masuk ke semua alamat terkirim. Aku sudah menghubungi Jhon, orang suruhan nya sudah mengirim langsung ke alamat rumah mu tidak lewat cargo agar aman.” Ucap Richie dengan suara pelan.
“Mel itu aku kasih barang tambahan dan barang khusus. Itu untuk keluarga besar Jonathan. Kamu masukkan barang itu ke dalam masakan atau air minum. Lakukan setiap hari...” ucap Richie lagi masih dengan suara pelan. Amelia yang masih berpenampilan sebagai Atikah pun mengangguk angguk dengan paham sambil tersenyum dengan licik.
“Siap Rich.. Aku akan bangun pagi pagi saat hari masih gelap dan aku akan menyelinap masuk ke dapur di gedung ini dan dapur mansion utama. Bisa aku bayangkan jika keluarga besar Jonathan semua kecanduan.” Ucap Atikah dengan suara lirih agar tetangga kamar tidak mendengar rencana nya.
Waktu pun terus berlalu, kembali ke Mansion William. Vadeo dan kedua anak anak nya sudah selesai telepon pada Alexandria. Akan tetapi setelah berbicara dengan sang Mama, kedua bocah itu malah semakin kangen pada Mama nya.
Kedua nya masih merajuk ingin berbicara lagi dengan Sang Mama, padahal Alexandria harus segera bersiap siap untuk bekerja.
“Sayang nanti lagi ya, Mama harus menyiapkan presentasi di pagi hari.” Ucap Alexa di saat kedua anak nya menghubungi nya lagi.
“Nanti Mama telepon kalian lagi kalau Mama sudah selesai. Sudah ya Mama tutup telepon nya.” Ucap Alexandria lalu memutus sambungan panggilan video nya sebenarnya dia tidak tega melihat wajah mungil kedua anaknya yang kecewa.
“Bro, bagai mana dengan barang itu?” tanya Bang Bule lagi sambil menoleh menatap Vadeo.
“Coba saja kamu tanyakan pada mereka berdua.” Ucap Vadeo sambil berusaha meminta hand phone nya yang masih dipegang oleh Valexa. Dan Valexa pun masih tidak mau menyerahkan hand phone itu pada Papa nya. Sebab dia dan saudara kembar nya masih menunggu panggilan video dari Sang Mama.
“Bro, kamu yang menanda tangani surat kontrak kerja mereka , kamu yang bertangung jawab.” Ucap Bang Bule lagi dengan nada khawatir. Khawatir jika barang terlarang itu sudah mulai beredar ke pengguna dan semakin sulit terlacak.
__ADS_1
...