
“Kecuali orang yang tahu tentang manuskrip yang menceritakan tentang pulau itu. Di dalam peta ini tertulis begitu untuk mengetahui lebih akurat bisa dilihat di dalam manuskrip itu.” Ucap Tuan Njun Liong dengan nada serius. Lalu dia meminta wanita penghibur nya untuk menuang bir ke dalam gelas nya.
“Manuskrip?” tanya Richie dengan penuh keinginan tahuan nya yang sangat tinggi.
“Iya, manuskrip tentang pulau itu. Tapi tenang saja, manuskrip itu di simpan di dalam museum, tidak ada orang yang bisa mengambil nya. Peluang kita untuk mendapatkan harta karun itu sangat tinggi.” Ucap Tuan Njun Liong sambil mengangkat gelas yang sudah berisi bir lalu menegak bir di dalam gelas itu.
“Kita tunggu saja balasan email dari pemilik pulau itu.” Ucap Tuan Njun Liong setelah selesai menegak bir.
“Tuan siapa pemilik pulau itu, dia sangat beruntung sekali membeli pulau itu, dan akan Tuan beli sepuluh kali lipat. Mungkin dia sedang menghitung hitung Tuan.” Ucap Richie yang juga meminta gelas nya diisi bir lagi oleh wanita penghibur.
“Aku katakan sepuluh kali lipat agar dia tidak menawar lagi.” Ucap Tuan Njun Liong dengan penuh keyakinan jika penawaran nya yang akan memenangkan
“Siapa dia Tuan kalau boleh saya tahu. Meskipun saya tidak punya uang untuk membelinya?” Tanya Richie lagi yang masih penasaran dengan pemilik pulau itu.
“Tuan Vadeo Jonathan.” Jawab Tuan Njun Liong dengan pelan menyerupai sebuah gumaman.
“Ha? Vadeo Jonathan? Tuan tidak salah sebut?” tanya Richie dengan kaget hingga bola mata nya melotot hampir copot.
“Tidak ini sudah ada informasi resmi, dia pemilik pulau itu dan sekarang pulau itu diberi nama pulau Alexandria sesuai dengan nama istrinya karena itu kado buat istrinya saat dia menikah.” Ucap Tuan Njun Liong dengan nada serius
“Hmmm benar benar Vadeo orang yang aku kenal. Aku harus berusaha untuk mendapatkan harta karun itu. Biar saja Tuan Njun Liong yang membeli pulau itu dulu, baru nanti aku akan cari akal agar aku yang menguasai harta karun di dalam nya....” gumam Richie sambil tersenyum licik.
“Apa kamu mengenal Tuan Vadeo Jonathan. Kalau kamu mengenal nya coba kamu hubungi dia siapa tahu dengan bantuan kamu dia mau melepas pulau itu kepada ku.” Ucap Tuan Njun Liong sambil menatap tajam ke wajah Richie karena dia melihat senyuman Richie yang misterius.
“Ooo maaf Tuan saya hanya mengenal nama nya saja.” Ucap Richie yang tidak berterus bagaimana hubungan dia dengan Vadeo.
“Oooh aku kira kamu kenal baik dan bisa merekomendasi aku agar bisa mendapatkan pulau itu.” Ucap Tuan Njun Liong lalu menegak lagi gelas yang sudah diisi bir kembali oleh wanita penghibur.
“Hmmm ya sudah kita nunggu balasan dari Tuan Vadeo.” Ucap Tuan Njun Liong setelah menegak habis bir nya lalu pergi sambil merangkul wanita penghibur nya dan meninggalkan Richie. Sedangkan Richie masih duduk sambil berpikir pikir.
__ADS_1
Sementara itu di belahan bumi benua Asia, tepat nya di negara Indonesia. Mobil Vadeo sudah memasuki halaman Mansion Jonathan. Vadeo tenang hati nya sebab kedua anaknya sudah pulang dari sekolah dan istrinya Alexandria masih berada di kantor William Group dengan aman.
Sesaat setelah mobil Vadeo memasuki halaman mansion Jonathan mobil yang membawa Tuan Rangga pun juga masuk ke halaman mansion Jonathan akan tetapi mobil itu berjalan menuju arah gedung yang dipakai untuk tamu dan letaknya tidak jauh dari klinik kesehatan yang berada di lokasi mansion Jonathan itu. Perawat dan Bang Bule yang membantu dan mengatur kedatangan Tuan Rangga.
Sementara itu di saat mobil Vadeo sudah berhenti tampak pintu utama Mansion terbuka dengan lebar, Valexa dan Deondria pun lari keluar dari pintu dan menuruni anak tangga.
“Papa....” teriak mereka berdua dan terus menuruni anak tangga menuju ke mobil Vadeo yang sudah berhenti, Vadeo pun segera membuka pintu mobil nya.
“Papa.. “ teriak mereka berdua lagi saat sudah berada di samping mobil.
“Sayang, Opa Tua sudah kita ajak ke sini, apa kalian mau berkenalan?” tanya Vadeo saat membuka pintu dan kedua anaknya berada di dekat pintu mobil itu. Tampak kedua bocah itu menganggukkan kepala akan tetapi ekspresi wajah nya tampak sedih.
“Ayo masuk.” Ucap Vadeo lalu mengangkat tubuh mungil kedua anak nya satu per satu dimasukkan ke dalam mobil.
“Ke paviliun tamu Pak.” Ucap Vadeo pada pak sopir dan menyuruh mobil dijalankan kembali menuju ke gedung bangunan tempat tamu menginap yang disebut oleh Vadeo dengan istilah paviliun tamu itu.
Mobil pun kembali berjalan menuju ke tempat yang disebut oleh Vadeo. Valexa dan Deondria tampak menyandarkan tubuh mungil nya di tubuh Vadeo, wajah kedua nya masih tampak bersedih. Vadeo mengusap usap kepala kedua anaknya itu.
Tidak lama kemudian mobil Vadeo sudah berhenti di depan paviliun tamu, sebuah bangunan kecil yang tampak asri ada taman dan kolam kecil. Gemericik air di kolam dan taman kecil yang indah bisa memberi kenyamanan tamu yang menginap di situ. Bangunan itu terpisah dengan bangunan yang digunakan untuk menginap para karyawan, terpisah juga dengan bangunan yang digunakan untuk menginap keluarga.
Vadeo lalu turun dari mobil sambil menggandeng tangan mungil kedua anak nya. Sang pengawal pun ikut turun sambil membawa kan tas kerja Vadeo.
Saat memasuki pintu paviliun tamu itu, tampak perawat sedang mengukur tekan darah Tuan Rangga. Bang Bule Vincent tampak duduk di kursi sedangkan Juna tampak berdiri di samping Tuan Rangga.
“Apa Tuan Rangga sakit?” tanya Vadeo dengan nada khawatir.
“Tadi mengeluh kepala pusing, mungkin karena memang lama tidak bepergian.” Ucap Juna sambil menatap Vadeo dan kedua anak yang berada di gandengan tangan Vadeo.
“Tensi sedikit tinggi Tuan, biar istirahat dulu.” Ucap sang perawat sambil membereskan alat tensi meter.
__ADS_1
“Aku baik baik saja.” Ucap Tuan Rangga sambil tersenyum menatap wajah imut Valexa dan Deondria.
“Siapa Nona Nona Cantik ini, wajah nya sangat mirip aku tidak bisa membedakan nya?” Tanya Tuan Rangga selanjutnya yang tiba tiba pusing kepala nya hilang melihat wajah kedua bocah itu.
“Mereka berdua puteri kembar saya Tuan Rangga, nama nya Valexa dan Deondria. “ ucap Vadeo sambil menuntun Valexa dan Deondria untuk berjalan mendekat pada Tuan Rangga. Kedua bocah itu pun lalu menjabat tangan Tuan Rangga dan mencium punggung tangan Tuan Rangga dengan sopan.
“Anak anak cantik dan pintar.” Ucap Tuan Rangga, Valexa dan Deondria pun tersenyum akan tetapi tidak lama dan setelah nya wajah nya tampak bersedih kembali.
“Tuan Vadeo, saya bisa melanjutkan untuk membaca manuskrip itu tadi, saya pun ingin tahu kelanjutannya. “ ucap Tuan Rangga selanjutnya dan meminta Juna untuk mengambilkan kaca pembesar.
Akan tetapi tiba tiba..
“Pa... atu bayik te mancen utama.. ( Pa... Aku balik ke Mansion utama).” Suara lirih Valexa dan Deondria sambil menggoyang goyangkan tangan kekar Sang Papa.
“Kalian tidak ingin mendengar Opa Tua bercerita tentang pulau kita?” tanya Vadeo sambil menunduk memandang wajah kedua anaknya.
Kedua anak itu menggeleng gelengkan kepala.
“Ada ceyita cedih.. ( ada cerita sedih...)” ucap Valexa dan Deondria kemudian, yang selanjutnya mata mereka pun tampak memerah. Vadeo yang masih menatap wajah kedua anaknya pun hati nya teriris melihat mata anak anak nya memerah dan wajahnya bersedih.
“Jangan sedih Sayang Papa selalu menjaga kalian.” Ucap Vadeo sambil berjongkok di depan kedua anaknya lalu mengecup kening keduanya.
“Kalau kalian mau kembali ke Mansion utama biar diantar pengawal ya.. Papa melanjutkan membantu Opa tua membuka lembar manuskrip.” Ucap Vadeo lalu bangkit berdiri dan menggandeng lagi tangan kedua anaknya untuk dibawa keluar dari paviliun tamu itu.
“Antar mereka berdua sampai ke dalam mansion utama serahkan pada kedua pengasuh mereka.” Perintah Vadeo pada Sang pengawal yang berdiri di depan pintu paviliun tamu. Sang pengawal pun segera membawa kedua bocah itu menuju ke mobil Vadeo, setelah memberikan tas kerja Vadeo yang tadi dibawakan nya. Dan selanjutnya mobil berjalan menuju ke mansion utama.
Sedangkan Vadeo kembali melangkah ke dalam paviliun dan berjalan mendekati Tuan Rangga.
“Kenapa mereka tampak sangat sedih begitu? ada cerita sedih apa?” Gumam Vadeo dalam hati yang semakin ingin tahu cerita di manuskrip itu. Vadeo pun lalu duduk di dekat kursi roda Tuan Rangga lalu membuka tas kerja nya untuk mengambil manuskrip kuno.
__ADS_1
....